Ada dua cara untuk menanggapi kritik: terima dengan hati lapang atau menyangkalnya. “Defensif atau tidak, itu merupakan pilihan. Ada alternatif sikap lain yang lebih positif dan bermanfaat dalam merespons kritik. Jadi, mana yang akan Anda pilih?” tegas Rima Olivia, konsultan karier dari Ahmada - Personal Growth and Career Development Consulting.
Rima menuturkan, layaknya latihan fisik, menerima kritik juga membutuhkan jam terbang. Anggaplah kritik sebagai latihan mental untuk melatih kesabaran Anda. Ini lebih baik daripada sibuk mencari pembenaran saat dikritik.
Jika Anda merasa punya sisi defensif dalam diri, segera perbaiki sebelum terlambat. Sebab, jika tidak, sikap itu hanya akan membuat orang lain jadi malas memberikan masukan untuk Anda. Bahkan, sekalipun Anda melakukan kesalahan secara terang-terangan, mereka memilih diam saja supaya terhindar dari konfrontasi. “Bila sudah keterlaluan, seseorang yang selalu ngeyel dan ngeles, biasanya tidak dilibatkan dalam tim untuk proyek-proyek besar, meskipun ia sebenarnya mampu. Kalau sudah begini, rugi sendiri, ‘ kan?” cetus Rima.
Memang tak mudah menjadi pribadi yang terbuka dengan kritik. Butuh latihan dan kebesaran hati melakukannya. Walau sulit, menurut Rima, sikap defensif bisa dihindari. Mulailah dengan melakukan beberapa langkah berikut ini:
- Cintai Diri Sendiri
- Anggap Kritik sebagai Obat
- Hindari Sikap Reaktif
- Beri waktu
- Dilarang Memusuhi