Sebenarnya, kontrasepsi memberikan wanita kesempatan untuk memilih, apakah ia ingin hamil atau tidak. Bisa saja ia ingin melanjutkan pendidikan lebih dulu, dan berperan di ranah publik, sebelum akhirnya menjadi ibu. Lebih besar lagi, keluarga berencana juga membantu memperlambat peningkatan populasi, serta membantu mengurangi dampak negatif dari lajunya perkembangan ekonomi, lingkungan, dan pembangunan.
Menurut Prof. Johannes Bitzer, dari European Society of Contraception, Switzerland, data dari Persatuan Bangsa-Bangsa (2013) menunjukkan, pada tahun 1995 tingkat kehamilan tak direncanakan mencapai 69 orang dari 1.000 wanita berusia 15-44 tahun. Sedangkan pada tahun 2008, angkanya menurun 20%, menjadi 55 orang dari 1.000 wanita berusia sama. Meski begitu, kebutuhan unmet di negara berkembang akan kontrasepsi tetap tinggi. Hal ini karena masih terdapat lebih dari setengah wanita usia produktif, sekitar 867 juta orang, yang menghindari kehamilan.
Tiap tahunnya, kontrasepsi telah mencegah terjadinya 188 juta kehamilan tak direncanakan, atau sama dengan berkurangnya 112 juta aborsi, 1,1 juta kematian bayi baru lahir, dan berkurangnya 150.000 kematian ibu.
Faktanya, sekitar 33 juta kehamilan tak direncanakan yang terjadi tiap tahun ternyata disebabkan oleh kegagalan kontrasepsi atau salahnya penggunaan kontrasepsi. Ini menunjukkan bahwa masih banyak wanita yang belum mendapatkan informasi yang cukup tentang jenis dan metode kontrasepsi yang tersedia. (f)