Fiction
Perempuan Penunggu Malam [6]

4 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Ada halaman yang disobek. Ada kisah yang tak ingin terlacak. Bagaimana kisah penantian pada sang kekasih? Tampaknya apa yang diceritakan Radite tentang kepedihan Perempuan Penunggu Malam memang benar adanya. Setelah cerita tentang penantian, langsung berisi tulisan tentang kepedihan. Juga kengerian.

Pernah aku dengar kisah tentang bikuni yang mencungkil matanya dan diserahkan pada seorang lelaki. Karena lelaki itu mencintai karena matanya. Matanya yang bercahaya. Dia berharap lelaki itu berhenti mencintainya dan hanya matalah –penyebab rasa cinta itu- yang dapat membuatnya menghentikan langkahnya untuk mencinta. Maka ia mencungkil matanya.

Bikuni itu hanya mengejek cinta lelaki itu. Aku tak punya kemampuan seperti bikuni itu. Aku teperdaya oleh lelaki. Lelaki terlahir sebagai makhluk visual. Pencinta fisik. Lelaki tidak mengerti akan kedalaman perasaan. Mata mereka adalah corong untuk merekam dan mengirim sinyal berahi. Lalu mulut mereka menganga siap mengunyah. Mereka tak berhenti mengunyah hingga tubuh perempuan menyusut dan berkerut, lalu meninggalkannya. Dan semuanya bermula dari mata.

Lelaki yang buta akan dapat mencintai dengan kedalaman perasaan. Ya, lelaki buta atau yang tak punya mata….

Aku bergidik. Karena di kertas itu terdapat percikan darah! Darah yang telah mencokelat membentuk pola. Aku menutup buku itu. Tubuhku bergetar. Tapi, rasa penasaranku melebihi perasaan takutku. Aku membuka buku itu lagi.

Aku menanam bunga di tanah kosong. Telah kugemburkan tanahnya, lalu kupijak tanah itu agar padat. Akan tumbuh bunga di atasnya. Akan aku namakan bunga itu penantian. Aku menantinya tumbuh dan berkembang. Aku menyiraminya dengan air mata. Ternyata air mata lebih mujarab dari mata air mana pun. Tapi, orang-orang mengintai dari kejauhan. Seakan aku mengadakan ritual pemujaan. Ingin rasanya kurampas pandangan mereka. Agar mereka buta dan mereka terbebas dari rasa keingintahuan yang tak perlu.

Apa yang dilakukan Perempuan Penunggu Malam? Aku mencoba menerjemahkan kalimat isyaratnya. Apa yang ia tanam? Bunga? Mengapa ia tampak curiga pada orang di sekitarnya? Apa yang ia lakukan? Mengapa ia tak bersahabat dengan orang-orang di sekitarnya? Aku membayangkan Perempuan Penunggu Malam adalah perempuan kesepian. Amat kesepian.
kuputuskan untuk bercerita pada Radite tentang buku harian itu. Aku tak pernah mendengar tentang legenda Perempuan Penunggu Malam, sedangkan Radite tumbuh besar bersama kisah itu. Radite mungkin dapat menerjemahkan catatannya yang ditulis dengan bahasa bersayap. Bahasa yang tak mudah untuk diartikan secara harfiah. Hanya Radite yang dapat membantuku. Karena hanya ia yang berkomunikasi denganku saat ini.

Radite menatapku tak mengerti saat kusodorkan buku itu. Perlahan ia mulai membuka halamannya, lalu membaca. Aku menantinya untuk berkomentar. Baru membaca tiga halaman, ia menatapku.

“Dari mana kau dapatkan buku ini?”

“Loteng.”

“Loteng?”

“Apa ada yang aneh?”

“Aku pinjam buku ini.”

“Buat apa?”

“Aku butuh buku ini. Agar orang-orang tahu.”

“Aku yang menemukannya.”

Kami terdiam. Radite tampak amat membutuhkan buku itu, seakan buku itu adalah napasnya. Aku tidak mengerti apa yang ada di benaknya.

“Buku ini amat berarti bagiku.”

“Amat berarti?”

“Ya.”

“Dibanding aku?”

“Kenapa harus dibandingkan?”

“Aku tanya apakah buku ini amat penting, lebih penting dibanding aku?”

Dia terdiam. Aku menatap matanya. Aku cemburu. Karena aku melihat keinginan yang besar di bola matanya. Api itu berkobar. Lebih besar daripada saat ia mencumbuku.

“Tak bisa dibandingkan.”

“Kamu tidak punya keberanian untuk bilang buku itu lebih penting dari aku.”

“Kamu lebih penting.”

“Bohong.”

Dia berkata aku lebih penting hanya untuk menghindari perdebatan. Agar aku terdiam dan tak membahasnya.

“Buku ini amat penting buatku. Suatu saat kamu akan mengerti.”

Aku membaca ketulusan dalam nada bicaranya. Kepalaku mengangguk, tanda mengerti. Radite pulang sambil membawa buku itu.

Radite tak datang selama tiga hari. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku ingin bertanya pada orang yang lewat, tapi aku telah lama tidak bercakap dengan orang lain. Aku memendam rasa inginku melebihi apa pun yang diduga orang. Aku bolak-balik menjenguk ke luar, berharap sosok Radite muncul. Terkadang aku merasa suaranya berbisik di daun telingaku. Seakan ia lekat di tengkukku.

Sempat juga aku berpikir untuk mendatangi rumahnya. Tapi, aku tak tahu alamatnya. Walau sebenarnya mudah bagiku untuk melacak jejaknya. Tempat tinggal kami hanyalah pedesaan. Hampir bisa dipastikan penduduknya saling kenal. Apalagi, menurut Radite, ia tinggal di rumah pamannya. Seorang berpengaruh di desa itu. Semua orang mengenalnya. Tapi, aku tak punya keberanian untuk mendatanginya. Aku tak mau diusik mereka. Aku yakin mereka tak mau terusik dengan kedatanganku. Mungkin orang desa menganggap aku telah mati.

Pada hari kelima, Radite muncul di hadapanku seperti hilang akal. Dia menerobos masuk dan memandang berkeliling dengan pandangan liar. Aku memegang lengannya dan dapat kulihat kedua pergelangan tangannya luka memar. Seperti bekas ikatan tali tambang.

“Kenapa tanganmu?”
Advertisement

“Luka.”

Hanya itu jawabnya. Radite kemudian duduk seperti memikirkan sesuatu. Dia terlihat seperti binatang liar yang terluka. Dan kini tersudut di pojokan dengan muka beringas. Tapi, ia tunduk padaku.

“Biar aku obati.”

Aku mengobati luka di pergelangan tangannya. Pandangan matanya berangsur terlihat kembali normal. Yang pertama ia ucapkan adalah tentang buku itu.

“Buku itu….”

Aku baru teringat akan buku itu. Aku belum membaca buku itu sampai selesai. Aku merasa lelah, walau hanya membaca dua tiga lembar saja. Terlebih, aku masih ngeri dengan kisah yang aku temukan di buku itu: tetesan darah.

“Buku itu kenapa? Apakah kau membaca sesuatu yang mengerikan?”

Radite mendengus, mukanya terlihat kesal.

“Dia merebutnya.”

“Siapa?”

“Pamanku.”

“Pamanmu? Untuk apa ia merebut buku itu?”

“Dia bilang buku itu menyesatkan. Seharusnya aku membaca kitab suci dan menggumamkan doa. Dia pikir aku sesat.”

“Itu hanya catatan. Tak lebih.”

Kami terdiam. Napasnya mulai memburu. Mukanya terlihat amat kesal.

“Cuma kamu yang mau mengerti aku.”

Aku merasa tersanjung. Tapi, ia tak peduli dengan reaksiku. Dia mengucapkan hal itu seperti mengucapkan kata, ‘Aku lapar.’ Sesuatu yang amat biasa.

“Lalu, kamu biarkan saja dia merampas buku itu. Itu bukan bukumu. Aku yang menemukannya.”

“Dia ingin mengikatku.”

Aku tak mengerti apa maksudnya, mengikatnya. Radite meremas telapak tangannya sendiri.

“Dia ingin mengawinkan aku dengan anaknya.”

“Anaknya? Sepupumu?”

“Ya.”

Tidak ada perasaan cemburu. Entah mengapa aku justru merasa iba.
“Mungkin kau mengenalnya. Atau, setidaknya kau tahu. Namanya Atri.”

Aku pernah melihat perempuan itu. Wajahnya tirus dengan rambut lurus. Mukanya khas penduduk setempat. Gadis yang amat biasa. Tapi, hanya sedikit perempuan yang hilir-mudik dengan roda empat di daerah sini. Atri salah satunya.

“Aku tahu.”

Aku tak ingin tahu lebih lanjut tentang Atri. Yang terpenting bagiku adalah buku itu.

“Apa kau tak bisa merampas buku itu lagi?”

“Dia menyembunyikannya. Aku tak tahu ia menyembunyikannya di mana.”

Radite tampak gelisah. Aku kesal bukan main. Tapi, aku berusaha berpikir jernih. Aku tahu apa yang harus dilakukan Radite.

“Kau bisa mendapatkan buku itu lagi. Kamu hanya tinggal memintanya pada Atri.”

“Atri?”

“Aku rasa dia mencintaimu. Dia akan melakukan apa saja untukmu.”


Penulis: Anggoro
Pemenang Penghargaan Sayembara Cerber femina 2008




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?