Suatu malam, ketika Bowo sedang santai dan Riska sedang menyiapkan bahan mengajar, Riska menerima telepon dari ibunya. Dengan suara terbata-bata, Bu Puji menceritakan bahwa Bowo telah mengirim surat ke KUA Pedurungan. Dengan begitu, ketika Anton akan mengurus administrasi pernikahan, Kepala KUA menolak, dengan alasan Riska masih berstatus sebagai istri Bowo.
Mendengar cerita ibunya, Riska kaget bukan main. Meski Riska masih menyukai Bowo, rencana Riska untuk menikah dengan Anton sudah bulat. Bahkan, tanpa setahu Bowo, ia sudah mengajukan permohonan berhenti dari tempat dia mengajar. Ia sudah mengurus pemindahan KTP dari Jakarta ke Semarang. Menurut Bu Puji, Anton sekarang tahu bahwa Riska berstatus istri orang. Namun, Anton tidak mempersoalkan status Riska itu, karena hanya menikah siri.
Dengan perasaan marah, Riska bergegas menghampiri Bowo yang sedang menonton teve, sambil tidur-tiduran.
“Mas, kamu menulis surat ke KUA Pedurungan, ya?”
Bowo sama sekali tidak kaget. Ia memang sudah menunggu dan justru merasa puas suratnya mendapat respons dari kepala KUA Pedurungan. Dengan kalem ia mengangguk.
“Sampai hati kamu, Mas!” kata Riska.
“Kamu juga sampai hati membohongi aku dan berselingkuh.”
“Gara-gara suratmu, Ibu jadi sakit” lanjut Riska, menangis.
“Ah, kamu selalu beralasan ibumu sakit. Saat kamu ketahuan selingkuh, kamu pamit padaku akan mengantar ibumu berobat.”
Isak Riska makin keras, tapi Bowo tidak beranjak.
“Kalau begitu, aku akan pergi dari rumahmu,” kata Riska.
Ia berjalan keluar kamar tidur, mengambil koper dari kamar sebelah, membuka lemari, mengeluarkan pakaian dan barang-ba-rangnya, lalu memasukkannya ke dalam koper. Mulanya Riska berharap Bowo akan mencegahnya. Tapi, Bowo malah turun dari tempat tidur dan membantu Riska mengepak barang-barangnya.
Malam telah larut, Riska sadar, dia tidak mungkin meninggalkan rumah tengah malam begini. Ia takut naik taksi malam-malam sendirian. Riska pikir, Bowo pasti tidak akan mau mengantar. Di antara beberapa koper dan tumpukan barang yang berserakan, Riska duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur, sambil masih terus menangis. Ketika akhirnya kelelahan menangis, Riska jatuh tertidur. Bowo tidak berusaha membangunkan. Ia hanya mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Riska.
Pagi-pagi sebelum Bowo bangun, Riska keluar dari kamar, lalu menelepon Anton. Riska minta agar Anton mengalihkan pendaftaran pernikahan mereka ke tempat Anton saja. Saat bangun tidur, Bowo mendapati istrinya masih sibuk mengemasi barang-barangnya. Tanpa menegur, Bowo langsung mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, Bowo bertanya, “Kamu jadi pergi? Untuk kamu ketahui, meskipun kita menikah siri, aku tidak pernah berniat menceraikan kamu. Kalau kamu tetap melanjutkan niatmu menikah dengan Anton, itu urusanmu. Kamu yang akan menanggung dosanya.”
Justru itu yang aku mau, pikir Riska. Meskipun nanti telah menjadi istri Anton, aku tetap menganggapmu sebagai suami.
Pagi itu Riska tak jadi pulang. Dia mondar-mandir, membereskan barang-barangnya, menemani Bowo sarapan, bahkan ngobrol.
“Ris, niatmu sudah bulat untuk menikah dengan Anton?”
“Ya, Mas,” jawab Riska, pendek.
“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?”
“Mas tetap jadi suamiku.”
“Apakah ada peraturan yang membolehkan wanita punya dua suami? Lalu, bagaimana jika Anton tahu?”
“Jangan sampai dia tahu?”
“Kamu nanti akan tinggal dan menetap di Semarang?”
“Nanti aku akan mencari waktu untuk menengok Mas, aku kan masih punya pekerjaan di Jakarta.”
Malam harinya, sekitar pukul tujuh, Bowo mengantar Riska ke tempat kakaknya. Barang bawaan Riska cukup banyak. Selain dua koper, ada beberapa kantong besar plastik berisi barang-barang yang tidak cukup di koper, ada beberapa busana yang masih di gantungan baju, sepatu, tas, buku, dan perlengkapan lain. Dalam perjalanan menuju rumah kakak Riska, Bowo menyatakan, nantinya dia tidak akan menelepon atau mengirim SMS.
“Mas, doakan aku, ya?”
“Doa apa?” jawab Bowo, sambil tertawa.
Meskipun dia masih menyayangi dan mengasihi Riska, sebagai suami yang telah dikhianati istrinya, dia tidak akan mendoakan kebahagiaan Riska hidup bersama Anton. Justru, dia berharap kehidupan rumah tangga mereka tidak akan pernah tenang dan damai.
Akhir Juli 2006, hari Sabtu pagi, Riska dan Anton melangsungkan acara akad nikah. Malam harinya diselenggarakan resepsi pernikahan di sebuah gedung pertemuan. Sosok Bowo untuk sementara menghilang dari ingatan Riska. Sementara Bowo di Jakarta melewati malam Minggu dalam kesendirian dan kesepian.
Dalam kesendiriannya, terbayang di benak Bowo tentang masa-masa dirinya hidup bahagia bersama Riska. Seakan memutar ulang sebuah film drama yang mengasyikkan, terbayang kehidupan suami-istri yang saling menyayangi dan saling berbagi kasih. Namun, dalam waktu bersamaan, Bowo juga teringat saat-saat menyedihkan, ketika dia berkali-kali dibohongi Riska dan menyaksikan perselingkuhan Riska dengan mata kepala sendiri.
Bowo membayangkan, Riska sedang menikmati malam penuh kemesraan bersama Anton. Mungkin Riska sudah tidak ingat lagi padanya. Lalu, apa yang masih dia harapkan? Bowo bertanya pada dirinya sendiri. Apakah dia akan terus-menerus menjadi pria tua yang tidak berdaya menghadapi Riska? Apakah dia akan terus-menerus mengikuti skenario yang dibuat Riska?
Saat sedang merenung, Bowo tersadar bahwa dengan menikahi Anton, berarti Riska sudah bukan istrinya lagi. Bowo mau menerima kenyataan bahwa dirinya terlalu tua untuk menjadi suami Riska. Bowo ikhlas untuk melepaskan Riska. Bowo berpikir, mungkin ini jalan terbaik yang digariskan untuknya. Karena, kalau dia terus menjadi suami Riska, secara materi mungkin dia tidak sanggup memenuhi keinginan-keinginan Riska.
Bowo berjanji pada dirinya untuk tidak lagi mau menemui Riska. Namun, ada kalanya, ketika hati Bowo sedang sedih dan teringat Riska, timbul rasa rindunya.
Sebulan setelah menikah dengan Anton, dengan dalih akan menyelesaikan sisa pekerjaan di Jakarta, Riska meminta izin pada Anton untuk pergi ke Jakarta. Riska mengirim SMS pada Bowo, minta dijemput di bandara.
Di hari yang telah ditentukan, Bowo terlihat di bandara, menunggu kedatangan Riska. Saat Riska datang dengan menjinjing traveling bag kecil melewati pintu keluar, Bowo bergegas menghampirinya.
”Ris, kamu kelihatan tambah cantik. Bagaimana? Sudah puas berhasil menikahi Anton?”
”Jangan begitu, dong, Mas. Aku menikah dengan Anton kan untuk menyenangkan hati ibuku,” jawab Riska.
”Ya, tapi kamu sendiri kan juga senang dan kamu juga mau.”
”Sudahlah, Mas. Kita nikmati saja pertemuan kita ini.”
Untuk kesekian kalinya Bowo merasa menjadi pria yang bodoh. Bowo seperti lupa akan janjinya, untuk tidak menemui Riska, apalagi bermesraan dengannya. Bowo justru membenarkan pendapatnya sendiri bahwa dirinya dan Riska masih berstatus suami-istri. Karena, belum pernah sekali pun Bowo mengucapkan kata cerai.
Sedangkan Riska, meskipun telah menjadi istri Anton, tidak menolak diajak bermesraan oleh Bowo.
”Ada yang aneh, Mas? Kok, tersenyum?”
”Hubungan kita ini lucu. Ketika jadi istriku, kamu berselingkuh dengan Anton yang kamu anggap sebagai kekasih. Kini, setelah kamu menikahi Anton, sepertinya kamu menganggap aku sebagai kekasih, dan sekarang sedang melakukan perselingkuhan.”
”Ah, tidak usah terlalu dipikirkan, Mas,” jawab Riska, santai.
Tentang kelanjutan hubungan mereka bertiga, hanya waktu yang akan mampu menjawabnya. (Tamat)
Penulis: Adam Saleh