“Teman Ibu yang mana?
“Teman pengajian. Bu Sri Lestari, Ibu kenal ketika sama-sama mengikuti pengajian di rumah Bu Suryo. Kebetulan dia duduk di sebelah Ibu dan bicara soal anaknya yang katanya masih lajang.
“Ibu sudah bertemu anaknya?
“Belum. Kata Bu Sri, anaknya sudah mapan. Bahkan, sudah punya rumah sendiri. Ibu pikir, siapa tahu dia bisa jadi jodoh kamu.
“Berapa usianya, Bu?
“Bu Sri bilang 34 tahun.
“Lebih muda dari aku, kata Riska.
“Kan tidak apa-apa, Ris. Zaman sekarang banyak suami yang usianya lebih muda dari istrinya. Apalagi, kalau bedanya cuma setahun.
“Bedanya, ya, tiga tahun, dong, Bu.
“Bukannya di KTP usiamu tertulis 35 tahun?
Riska tidak menjawab pertanyaan ibunya, malah balik bertanya, “Lalu, kapan mereka akan ke rumah?
“Kalau kamu tidak keberatan, besok juga bisa. Ibu pikir, makin cepat makin baik. Nanti malam Ibu akan telepon.
“Siapa, Bu, nama anaknya? Jangan-jangan aku kenal.
“Namanya Anton, bekerja di Pemda Semarang.
“Ibunya cerita mengapa dia telat menikah?
“Ibunya belum banyak bercerita. Menurut Ibu, mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Atau, belum ketemu jodoh saja.
Namun, Riska punya pikiran lain. Mungkin Anton termasuk pemalu, atau mungkin malah terlalu pilih-pilih calon istri.
Keesokan harinya, Kamis sore, Bu Sri bersama Anton datang bertamu ke rumah Bu Puji. Sesuai permintaan Riska, hanya Bu Puji sendiri yang akan menyambut kedatangan Bu Sri dan anaknya. Riska akan menyusul kemudian.
Saat melihat penampilan Anton, Bu Puji langsung tertarik. Postur tubuh Anton atletis, dengan tinggi sekitar 175 cm, rambut agak keriting, dan wajahnya cukup ganteng.
Setelah berbincang beberapa menit, Riska keluar dengan membawa hidangan minuman. Sejak melihat Riska keluar dari ruang makan, mata Bu Sri dan Anton tidak lepas mengamati Riska. Menurut Bu Sri, Riska kelihatan lebih cantik daripada fotonya.
Setelah meletakkan hidangan di meja, Riska menyalami Bu Sri dan Anton. Sambil tersenyum Bu Puji membuka suara, “Riska baru kemarin datang. Sengaja saya panggil pulang untuk berkenalan dengan Bu Sri dan Nak Anton.
“Sudah berapa lama tinggal di Jakarta? tanya Bu Sri.
“Sudah lama, mungkin sepuluh tahun, jawab Riska, sambil memandang ibunya seakan minta persetujuan.
“Setelah tamat SMA, Riska melanjutkan kuliah di Jakarta. Pulang sebentar untuk menikah, dan kembali lagi ke Jakarta.
Anton sudah diberi tahu ibunya bahwa Riska pernah menikah, dan kemudian bercerai. Karena itu, Anton tidak kaget mendengar penjelasan Bu Puji. Menurut Anton, Riska terlihat lebih muda dari usianya.
“Dulu Mas Anton SMA-nya di mana? tanya Riska tiba-tiba.
“Saya di SMA Papandayan.
“Kalau saya lulusan SMA Imam Bonjol. Karena, sebelum pindah kemari, Ibu tinggal di daerah Tanjung Mas.
Melihat Riska dan Anton cepat akrab, Bu Puji dan Bu Sri merasa senang. Bu Puji dan bu Sri membiarkan Riska dan Anton terus berbincang-bincang. Sampai tiba saatnya Bu Sri dan Anton pamit pulang, mereka belum membicarakan masalah lamaran atau pernikahan. Pertemuan baru dalam tahap saling melihat muka, dan saling kenal.
Tapi, keesokan harinya sekitar pukul sebelas pagi, tanpa janjian terlebih dahulu, Anton sudah datang ke rumah Riska. Anton mengajak Riska makan siang di luar. Riska tidak keberatan.
“Sampai kapan di Semarang? kata Anton.
“Rabu depan harus kembali ke Jakarta.
“Kok, cepat sekali?
“Saya harus mengajar.
Di tengah-tengah acara makan siang, tiba-tiba ponsel Riska berbunyi. Riska sengaja membiarkan dering telepon berbunyi, tanpa berusaha untuk membuka ponselnya. Anton heran. Ketika ponsel berbunyi lagi, barulah Riska bereaksi. Di layar terbaca nama Bowo.
“Halo, kata Riska dengan suara pelan.
“Aku baik-baik. Ibu masih sakit, kata Riska, berbohong.
Anton yang mencuri dengar, merasa heran.
“Mas, sudah dulu, ya. Nanti malam saja aku telepon. Sekarang sedang banyak tamu, kata Riska, menutup pembicaraan.
“Telepon dari siapa? tanya Anton
“Dari teman, jawab Riska, santai.
“Wah, di Jakarta kamu pasti banyak temannya, Anton mulai menyelidik.
“Lumayan.
“Ada yang istimewa?
“Tidak ada. Semua teman biasa, Riska berbohong. “Mas Anton sudah punya pacar?
“Belum. Dulu aku memang punya, tapi lalu putus.
Selesai makan siang, Anton mengantar Riska pulang. Sebelum berpisah, Anton mengatakan bahwa malam Minggu akan menjemput dan mengajak Riska nonton. Riska hanya mengangguk.
Menjelang tidur malam, Riska merenungkan pertemuannya dengan Anton siang tadi. Secara fisik Anton memenuhi kriteria Riska. Muda, mapan, dan punya masa depan cerah. Lalu, bagaimana dengan Bowo?
Setelah menjadi istri Bowo, memang tumbuh rasa sayang Riska pada Bowo. Riska merasa banyak berutang budi pada Bowo. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana kalau sampai Bowo tahu rencana Riska untuk menikah dengan Anton. Kalau mengingat kebaikan Bowo, Riska merasa menyesal, mengapa dulu dia mau diajak nikah oleh Bowo, mengapa tidak berteman saja.
Malam Minggu, Anton dan Riska nonton. Dalam suasana gedung yang gelap, tiba-tiba saja tangan Anton sudah menggenggam erat tangan Riska. Riska tidak berusaha melepaskan. Bahkan, ketika Anton mengelus tangan Riska, Riska membalas elusan tangan Anton.
Dalam perjalanan pulang, Anton menanyakan kemungkinan Riska pindah ke Semarang.
“Aku belum tahu kapan. Tapi, nantilah aku lihat perkembangannya, jawab Riska.
“Nanti aku bantu mencarikan kerja di sini.
“Kalau aku pindah ke sini, aku paling hanya bisa mengajar.
“Aku punya beberapa teman yang menjadi dosen di sini. Tapi, sebelum pindah, kamu akan bolak-balik ke Semarang?
“Ya, kalau liburan, aku juga pulang.
“Kalau kamu mau, aku juga bisa ke Jakarta menjemputmu.
“Ya, nanti kita atur.
Pada saat Riska akan kembali ke Jakarta, Anton mengantar Riska ke bandara, menunggu sampai pesawat yang Riska naiki terbang menuju Jakarta.
Dalam kesendiriannya di pesawat, Riska terus berpikir, menimbang-nimbang, mencari jalan terbaik untuk berpisah dari Bowo, tanpa harus menyakiti hatinya. Riska sendiri merasa berat berpisah dari Bowo, apalagi aktivitas Riska di Jakarta selama ini banyak bergantung pada bantuan Bowo. Mulai dari antar-jemput mengajar di Jakarta maupun di luar Jakarta, mengantar ke mana saja Riska pergi. Pendeknya, semua keperluan dan kebutuhan Riska, selalu dipenuhi Bowo.
Hari Senin malam, ketika Bowo dan Riska sedang tidur-tiduran, sambil nonton TV di kamar tidur, Riska berkata, “Mas, aku lihat kedua anakmu bahagia banget, sudah dikaruniai momongan. Aku juga kepingin punya anak, Mas.
“Apa kamu bisa? Katanya, kamu punya masalah dengan kandungan kamu? Dalam hati Bowo bertanya-tanya, apakah Riska sedang melamun atau memang sungguh-sungguh ingin punya anak.
“Kata Ibu, di Semarang ada orang pintar yang dapat mengobati kandungan yang bermasalah.
“Kenapa tidak dari dulu, ketika kamu masih dengan suami pertamamu?
“Ya, waktu itu kan aku belum lama menikah. Jadi, belum tahu bahwa kandunganku bermasalah.
“Tapi, setelah pernikahanmu berjalan empat tahun, dan kamu belum juga punya anak, kenapa tidak terus memeriksakan diri ke dokter atau ke orang pintar, seperti kata ibumu?
“Sudah, Mas. Kan dari hasil pemeriksaan dokter itu, aku akan tahu bahwa kandunganku bermasalah. Tapi, waktu itu aku belum berpikir untuk berobat alternatif.
Karena pembicaraan soal anak ini, Bowo sadar bahwa dirinya juga punya masalah, yaitu pernah menjalani operasi prostat.
“Ris, kalau tidak salah, aku pernah mengatakan bahwa aku pernah menjalani operasi prostat.
Bowo berharap bahwa dengan ucapannya, Riska tidak akan meneruskan pembicaraan soal anak. Tapi, Riska malah seperti melempar bola ke tangan Bowo.
Penulis: Adam Saleh