Studi dari Bringham Young University, AS, mengungkap bahwa 75% pasangan pemain game online berharap pasangan mereka berhenti sibuk sendiri dan mulai memberikan perhatian lebih pada intimasi mereka. Sebaliknya, pasangan yang sama-sama penyuka game online, mayoritas justru melaporkan kepuasan yang lebih besar dalam hubungan.
Kata Psikolog: Quality time menjadi salah satu kunci kelanggengan dalam pernikahan. Sederhana saja, seperti mengobrol hangat di teras rumah sambil menikmati singkong goreng, atau mengobrol ringan di malam hari sebelum tidur. Nah, momen berduaan ini sebaiknya bebas dari gangguan benda-benda elektronik, seperti televisi maupun gadget.
Bila pada saat berduaan, Anda dan pasangan sama-sama sibuk dengan gadget, maka hal ini bermuara pada dua kemungkinan. Pertama, gadget menjadi upaya pelarian terhadap kekecewaan yang mereka pendam terhadap pasangan. Kedua, gadget sebagai mobile office, membuat Anda lupa waktu dan cenderung mengabaikan keberadaan pasangan.
2. Awas, jangan sampai terkena wedding hangover!
Psikolog asal Australia, Melissa Weinberg, dalam sebuah studinya mengungkap fenomena terjadinya wedding hangover. Fase ini terjadi tak lama setelah pesta pernikahan dan honeymoon berakhir. Tak ubahnya seseorang mengalami ‘jackpot’ akibat terlalu banyak minum minuman keras, mereka masa-masa ini membuat pasangan menikah yang tidak siap secara mental maupun fisik merasa kaget, bingung, dan depresi. Apabila tidak diatasi, perkawinan bisa bubar di perempat jalan.
Kata Psikolog: Pesta pernikahan itu bukan kehidupan pernikahan. Semua yang tampak indah dalam pesta pernikahan memang tak menjamin kualitas kehidupan pernikahan yang serupa. Boleh-boleh saja mempersiapkan pesta pernikahan secara meriah. Tapi, jangan sampai hal itu lebih diutamakan ketimbang urusan rumah tangga yang sebenarnya, seperti keuangan rumah tangga, tempat tinggal setelah menikah, hubungan dengan keluarga besar, hingga soal anak.
3. Mendengar secara objektif
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Psychological Science mengungkap, seseorang cenderung lebih memperhatikan suara pasangan ketimbang orang lain. Kesimpulan ini didapat setelah meneliti pasangan menikah usia 44-79. Tiap orang merekam suara mereka yang kemudian diperdengarkan kepada pasangan masing-masing, bersamaan dengan suara orang asing. Hasilnya? Mereka lebih mampu memahami suara pasangan dengan lebih akurat dan jelas.
Kata Psikolog: Sistem kerja otak yang merespons stimulus yang sama selama bertahun-tahun, secara otomatis menghasilkan efek habituasi. Di situ, otak langsung bisa merespons aktivitas maupun perkataan dari sumber yang sama, secara otomatis. Habituasi ini tak memerlukan proses berpikir dan berjalan dengan cepat. Itu pula yang terjadi dengan suara pasangan Anda yang terdengar lebih meyakinkan dan tepercaya ketimbang orang lain. Meski begitu, ketika meminta pendapat pasangan, Anda tetap harus mendengarkannya secara objektif dan realistis.
4. Menikahlah!
Karen Sherman, dalam bukunya Marriage Magic, menyimpulkan bahwa mereka yang menikah cenderung lebih sehat dan bahagia. Ini membuat individu yang menikah memiliki risiko yang lebih rendah terkena penyakit kanker, jantung, dan depresi ketimbang mereka yang lajang. Secara kejiwaan, pernikahan juga membuat seseorang jadi lebih bahagia karena memiliki status yang jelas serta kehidupan yang lebih tertata.
Kata Psikolog: Pendapat di atas memang masih pro-kontra. Beberapa orang mengaku bahagia, meski tidak menikah. Tapi, ini dengan beberapa syarat, yaitu ia punya karier bagus, hubungan yang hangat dengan keluarga, serta punya relasi sosial yang baik.
Namun, mereka yang menikah memang terbukti lebih sehat dan bahagia, baik secara fisik maupun mental. Tidak melulu untuk alasan pemenuhan kebutuhan biologis melalui aktivitas seksual, tapi Anda juga memiliki kawan hidup yang selalu mendampingi, secara fisik dan emosi, sehingga terbebas dari kesepian, yang menjadi alasan utama serangan depresi pada seseorang. Dengan catatan, pernikahannya berjalan bahagia. (f)