Evaluasi diri, merupakan langkah penting berikutnya. Menurut Pingkan C. B. Rumondor, dosen di jurusan Psikologi BINUS, fase ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tapi mencoba menilai kejadian dari sudut yang objektif. Pertama, jika calon pasangan tidak sesuai dengan harapan, cek kembali daftar ekspektasi Anda, apakah sudah realistis?
Cek juga kondisi Anda, apakah Anda sudah menjadi calon pasangan yang sepadan bagi pria idaman Anda? Jangan-jangan Anda terlalu fokus mendapatkan pria impian, sampai-sampai lupa memperhatikan diri.
Satria juga menekankan pentingnya untuk tetap menjadi diri sendiri, baik secara online maupun offline. Kejujuran adalah landasan penting dalam setiap hubungan. Sebab, sering ia menemui kasus kekecewaan kopi darat akibat salah satu pasangan merasa “tertipu” dengan profil online teman kencan mereka.
Salah satu hal yang paling pantang dilakukan menurut Satria adalah mengedit foto. “Pria itu mahluk visual, di awal sudah tentu dia memilih calon teman kencan berdasarkan apa yang menarik di matanya,” ungkapnya, mengingatkan. Jadi, ketika apa yang ia lihat di layar digital tidak sama dengan kenyataannya, maka mereka cenderung memperlihatkan kekecewaan itu di awal bertemu.
Menurutnya, kalau seperti ini yang terjadi, Anda juga bisa ikutan trauma. Anda akan pulang dengan ‘menghukum diri’ bahwa Anda tidak cukup menarik untuk membuat pria jatuh cinta. Namun, apabila Anda yakin dan nyaman membawakan diri sendiri, maka faktor fisik hanyalah ‘pemantik’. Selanjutnya yang berbicara adalah chemistry. Apabila Anda berdua ‘klik’ dalam berkomunikasi, bisa jadi hubungan offline ini akan berlanjut ke tahap yang Anda berdua ingini! (f)