Menjadi sosok yang tak terlihat dan rentan disepelekan di kantor, jangan sampai membuat kita malah meremehkan diri sendiri dan juga pekerjaan. Sylvina Savitri dari Experd Consultant mengingatkan untuk selalu menanamkan dalam pikiran untuk berusaha sebaik mungkin, semampu kita, sebagai bagian dalam tim, terlepas dari kata-kata orang lain.
“Kita memang sangat rentan tersakiti oleh kata-kata orang lain, termasuk saat diremehkan. Tetapi, yang lebih berbahaya daripada anggapan orang lain tentang diri Anda adalah anggapan Anda terhadap diri sendiri,” ujar Sylvina.
Bila situasi ini terjadi, hadapilah dengan besar hati. Mintalah saran atau nasihat, apa yang sebaiknya dilakukan agar dapat menjadi lebih baik di kemudian hari. Peliharalah pemikiran yang positif dan semangat untuk belajar, sehingga Anda senantiasa dapat mengasah kemampuan.
Terlepas dari label underdog yang melekat, tiap orang memiliki kredibilitas dan reputasi yang kelak akan diperhitungkan di mata orang lain. Ketika berhasil menyelesaikan tugas, ia akan dianggap lebih kredibel. Sementara itu, apabila ia menampilkan kinerja yang tidak sesuai standar, kredibilitasnyalah yang dipertaruhkan. Jadi, jangan biarkan label underdog menjadi penghalang Anda untuk menunjukkan kemampuan terbaik Anda sebagai bagian dalam tim.
Karena kinerja profesionalnya tidak terlalu diperhitungkan sebagaimana sang unggulan, bisa saja seorang underdog terjebak dalam zona nyaman di tempat kerjanya. Tak sedikit kaum underdog yang memilih untuk tidak berkompetisi dengan rekan-rekannya untuk mengejar puncak karier.
Meskipun demikian, menurut Sylvina, pilihan ini tidaklah sepenuhnya salah. Jika seorang underdog lebih suka bertahan di tempatnya berada saat ini, bisa saja dia memang memilih bersikap realistis. Apalagi kalau memutuskan untuk pindah kerja, dia harus belajar lagi, dan belum tentu bisa menandingi kinerja rekan-rekannya yang lebih muda.
Di lain pihak, bisa saja Anda merasa bahwa tidak seharusnya Anda menjadi underdog di tempat kerja, misalnya, pada situasi ketika Anda tidak dipromosikan, sementara menurut Anda, Anda adalah orang yang tepat untuk menduduki posisi tersebut.
Jika Anda dihadapkan pada situasi ini, sebaiknya lakukan evaluasi secara berkala. Manfaatkan evaluasi kinerja tahunan dari perusahaan, dan mintalah masukan dari atasan jika dibutuhkan. Bila Anda merasa memiliki keahlian atau bakat yang selama ini tidak diapresiasi rekan-rekan dalam tim, sehingga perkembangan karier seolah terhambat, segeralah mengambil keputusan.
Yang paling penting, jangan membiarkan situasi ini berlarut-larut, karena Anda justru akan makin sulit untuk bergerak maju. Dalam situasi seperti ini, bertahan di zona nyaman bukan lagi pilihan yang realistis. Selain karier yang dapat berujung pada jalan buntu, Anda juga rentan menyesal karena tidak mengambil keputusan sedari dulu.
Ingatlah selalu, pilihan ada di tangan Anda sendiri. Anda tak harus serta-merta pindah kerja, karena situasi yang sama bisa saja terjadi lagi di tempat baru. Selama Anda masih menemukan nilai tambah dalam pekerjaan yang saat ini digeluti, misalnya kesempatan untuk mencari ilmu atau membantu orang lain, berfokuslah ke sana. Dengan demikian, Anda dapat menikmati manfaat nilai tambah tersebut untuk diri Anda sendiri, daripada sibuk melihat kekurangan diri atau apa yang tidak bisa Anda lakukan sebagai bagian dari tim.
Puji Maharani