Untuk bisa ’menyelami’ kebiasaan makan orang Bangka, cicipilah lempah alar keladi (akar talas) dan seruput kuah beraroma terasinya hingga tandas. Akar ini bersih karena tumbuh menjalar di atas tanah. Lunak dan agak berlendir. Tidak menimbulkan gatal, jika diracik dengan tepat. “Membangkitkan memori karena cuma tumbuh di Bangka,” tutur Noni.
Pilihan isi lempah lainnya adalah jantung pisang, daun singkong, ikan tenggiri, dan ikan pari. Kuah dimasak dadakan agar segarnya maksimal. Ada juga otak-otak, yakni istilah Bangka untuk sajian mirip pempek. Pilihannya antara lain otak-otak tenggiri, kulit tenggiri atau alar keladi. Sausnya taoco-sambal, bukan cuko seperti di dapur Palembang. Jangan lupa, bawa pulang kincalok (fermentasi udang), jika Anda mau belajar membuat sambal Bangka di rumah.
Lokasi: Jl. Panglima Polim Raya No. 102. Telp: (021) 7392344. Jam buka: 10.00 – 24.00 WIB. Harga*): Rp3.500 (kue) – Rp185.500. Suasana: Berhias tudung saji …. semarak, warna khas Bangka.
*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.
Aria Novitasari