Kakak saya, orang yang bisa dibilang pintar, sekolah S-2 dan S-3 di luar negeri. Namun yang disayangkan, keluarganya berantakan dan dia akan bercerai dari suaminya. Apakah sedemikian beratnya hidup berjauhan dengan pasangan? Apakah ada kaitan antara pendidikan tinggi dengan perceraian? Saya sendiri belum menikah, apa pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka?
Gia - Jakarta
Menurut Psikolog Irma Makarim, menjalani studi di luar negeri memang cukup berat, perlu konsentrasi penuh dan menghabiskan waktu, yang sering kali membuat yang bersangkutan mengalami kesulitan untuk membagi waktu dengan keluarga. Karenanya, dibutuhkan kerja sama dan dukungan dari pasangan, apalagi bila mereka tinggal berjauhan.
Banyak pasangan yang berhasil melalui masa-masa berat ini. Biasanya mereka telah mengantisipasi sejak awal. Membicarakan secara matang dan membuat kesepakatan bersama untuk tetap menjaga kehangatan, bersedia meluangkan waktu untuk berbagi, dan saling mendukung, biasanya dapat membuat rumah tangga tetap langgeng. Sebaliknya, ketidaksiapan pasangan dalam menghadapi kondisi seperti ini, bisa menimbulkan gangguan dalam berkomunikasi, yang akhirnya berdampak buruk bagi rumah tangga. Inilah pelajaran yang bisa Anda petik. Komunikasi yang baik dan terbuka adalah kunci dari hubungan yang langgeng di antara pasangan.
Perkawinan yang langgeng tidak berhubungan dengan tinggi rendahnya pendidikan, juga bukan semata karena tinggal berjauhan, walaupun ini bisa menjadi kendala. Ini lebih banyak bergantung pada sikap dan perilaku dalam memelihara hubungan dalam rumah tangga.
Menurut Psikolog Monty Satiadarma, pendidikan dan perkawinan merupakan dua hal yang berbeda. Pintar di sekolah tidak menjamin kebahagiaan rumah tangga. Cemerlang dalam pendidikan tinggi dilandasi oleh kecerdasan, ketekunan, dan keterampilan serta kreativitas, terutama dalam bidang ilmunya. Keselarasan berumah tangga dilandasi oleh toleransi, kebersamaan, kepercayaan, dan kesediaan berbagi.
Pelajaran utama bagi Anda adalah hendaknya tidak bersikap menggeneralisasi atau menyamaratakan segala hal. Tiap hal memiliki dimensi masing-masing, dan tiap individu memiliki sikap dan pola yang berbeda dalam menghadapi ragam tantangan. Pendidikan menunjang individu dalam pengetahuan, tetapi tahu sesuatu tidak menjamin individu mampu melakukannya. Adakalanya individu tahu sesuatu dan ia justru melakukan sesuatu yang melanggar pengetahuannya.
Dimensi kehidupan amat luas wilayahnya. Pendidikan hanya sebagian kecil dari dimensi kehidupan, sementara wilayah kehidupan lain membutuhkan pemahaman yang boleh jadi berbeda dengan bidang pendidikan yang ditekuni. Pendidikan bisa menjadi bagian kesiapan untuk menikah dan berumah tangga, akan tetapi kesiapan berumah tangga tidak semata-mata berpijak pada pendidikan.
Kesiapan untuk berumah tangga dilandasi oleh kesiapan untuk bersikap toleran di antara pasangan, untuk menerima pasangan beserta kelebihan dan kekurangannya, dan tidak menuntut pasangan untuk mengikuti standar berdasarkan persepsi pribadi. Pemaksaan kehendak atas diri pasangan menimbulkan tekanan, dan tekanan menggugah munculnya upaya perlawanan yang kemudian melahirkan konflik. Konflik yang berkepanjangan menimbulkan kesenjangan interpersonal yang secara bertahap akan membawa pasangan pada perpisahan.(f)