Fiction
Penantian Terakhir [1]

17 May 2012

Hujan deras mengguyur Solo, tepat saat taksi yang kutumpangi memasuki gerbang Bandara Adi Sumarmo. Sopir taksi yang sejak tadi mengajakku mengobrol, mulai mengaktifkan wiper untuk menghalau tempias hujan dari pandangannya, sebelum akhirnya taksi berhenti tepat di depan pintu masuk bandara. Aku pun melompat turun. Sementara sopir taksi membuka bagasi dan menurunkan koper mungilku.

”Matur nuwun (terima kasih), Pak,” ucapku, seraya menyerahkan lembaran dua puluh ribuan sebagai ongkos taksi. Sopir taksi itu mengucapkan terima kasih, sebelum menghilang dari hadapanku. Sesaat aku termenung, didera keraguan hebat. Benarkah keputusan yang kuambil ini? Aku bertanya dalam hati. Namun, bila ingat kilasan-kilasan peristiwa menyakitkan itu, rasanya tak ada yang salah dengan keputusanku ini. Tidak. Aku tidak mau kembali ke sana lagi. Aku ingin pergi membuka lembaran baru!

Aku masuk ke salah satu kafe, yang banyak tersebar di sepanjang bandara. Pelayan yang sedang mengelap meja, tersenyum ke arahku. Aku duduk dan memesan segelas susu cokelat hangat dan sandwich. Belum sampai lima menit, pesananku datang. Rasa pedih mendadak menyergap hatiku, mengingat semua yang kualami selama sepekan terakhir ini. Namun, buru-buru kutepis kilasan-kilasan peristiwa yang menyakitkan itu.

Di dalam pesawat, sekali lagi kutatap ujung landasan dan semua hal yang akan mengingatkanku pada kehidupan sebelum ini, untuk kali terakhir. Diam-diam rasa takut mulai menerkam, menggantikan kepedihan yang tadi sempat membuai jiwaku. Ketakutanku makin membesar mengingat kehidupan baru yang akan kujalani ke depan.

Ya, mungkin dalam satu hingga tiga jam ke depan, seluruh hidupku tak akan pernah sama lagi. Semuanya akan berubah. Sungguh aku takut, karena aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan menantiku di depan sana nanti. Diam-diam, aku pun berharap, semoga ada seseorang yang menelepon dan memintaku untuk membatalkan kepergianku ini.

Tapi, tidak. Tidak ada telepon seperti itu. Itu hanya ada dalam khayalanku. Bagaimana mungkin aku bisa mengharapkan Pras akan menghubungiku, bila ia memikirkanku saja tidak pernah? Toh, dia sudah berbahagia dengan wanita itu... siapa namanya? Ah, sudahlah.

Kukenakan sabuk pengaman. Pesawat mulai bergerak menyusuri landasan. Gerimis yang mengguyur sudah tak sederas tadi. Meski begitu, landasan masih terlihat basah. Makin lama makin cepat, hingga akhirnya pesawatku menukik naik, menembus angkasa.

Sesuai rencana, aku turun di Jakarta dan naik pesawat lagi menuju Sumatra. Setiba di Sumatra, aku akan dijemput Mas Rangga. Mas Rangga pula yang mengajakku bergabung dengan Yayasan Sahabat Alam yang dipimpinnya. Yayasan ini bergerak di bidang pelestarian satwa langka. Menurut Mas Rangga, pekerjaan ini cocok untukku. Maklumlah, selama ini dia mengenalku sebagai wartawan yang cukup peduli terhadap isu-isu lingkungan hidup.

”Kamu penyuka kucing bukan, Ni? Nah, inilah saatnya membuktikan rasa cintamu itu dengan mengabdi di sini, untuk menyelamatkan kucing-kucing di sini!” Begitu kata Mas Rangga.

”Ya, aku cinta kucing, Mas. Tapi, setahuku yang kau selamatkan itu bukan kucing! Tapi, macan!” balasku, sewot.
Begitulah, kubulatkan langkah untuk bergabung dengan Mas Rangga sebagai pelarianku. Sebetulnya, aku merasa ngeri dengan apa yang akan kulakukan di sana nanti. Bisakah aku bertahan hidup di sana nanti, setelah 28 tahun lebih kujalani hidupku dalam gelimang kemudahan fasilitas? Perjalanan Solo-Jakarta dan disambung Jakarta-Sumatra, berlangsung lancar tanpa kendala yang berarti.

Tiba di salah satu bandara perintis di Sumatra, aku mencari Mas Rangga. Tak kulihat sosoknya di ruang tunggu. Tak ada tulisan berisi namaku di deretan para penjemput. Aduh, bagaimana ini? Satu per satu penumpang yang sepesawat denganku mulai beringsut meninggalkan bandara. Ada yang pergi dengan rombongan penjemputnya atau naik ojek sendiri. Sementara aku masih celingukan seperti turis kesasar. Untung ini bukan Jakarta. Coba aku celingukan seperti ini di Jakarta, wah... bisa jadi mangsa empuk preman! Mungkin, nasibku akan sama tragisnya dengan TKI!

Tiba-tiba dari kejauhan kulihat sebuah mobil besar yang warnanya sudah tak keruan, saking banyaknya lumpur yang melekat di badan mobil, berjalan terseok-seok. Mobil itu berjalan ke arahku dan ketika sudah tiba di depanku, seorang pria melompat turun. Tingginya kira-kira 175 cm dengan berat 65 kg dan berkulit sawo matang. Wajahnya lumayan manis sebetulnya, seandainya dia mau melepas kacamata hitamnya yang sudah ketinggalan zaman itu.

”Maaf, apakah Anda Kania?” tanyanya padaku.

”Ya,” kuanggukkan kepala.

”Mas Rangga tidak bisa menjemput. Ada keadaan darurat di markas. Jadi, dia menyuruh aku menjemputmu,” ia menjelaskan.

Oh, begitu. Ia sama sekali tak meminta maaf atas keterlambatannya, yang membuatku seperti turis kesasar selama 15 menit di pintu keluar bandara! Tanpa meminta persetujuanku, dia langsung meraih koper merah di tanganku. ”Yuk, berangkat. Kita masih harus menempuh dua jam perjalanan dari sini!” ujarnya, sambil memasukkan koperku ke tempat duduk belakang.

Aku pun naik dan duduk di sebelahnya. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya. Dengan satu sentakan dahsyat mobil itu melompat ke depan... benar-benar melompat, sebelum akhirnya berjalan menyusuri jalanan di depannya. Ia sama sekali tak meminta maaf atas insiden barusan! Ugh! Benar-benar pengemudi yang tak kenal sopan santun dan tak tahu cara memperlakukan wanita rupanya! Apakah hidup sekian lama di belantara telah memupus nilai-nilai kesopanan dari perbendaharaan katanya?

Advertisement
Kami melewati daerah-daerah pedesaan. Pemandangannya sangat indah dengan banyak hamparan sawah, ladang diselingi pegunungan. Ya, seandainya dia mau sedikit saja mengerem laju mobilnya, agar aku bisa lebih leluasa menikmati lukisan. Sayangnya, dia mengemudi seperti kesetanan. Dia pikir jalanan ini sirkuit Monako apa? Lagi pula... hei, bisa-bisanya dia tidak memperkenalkan diri padaku! Huh! Benar-benar tak tahu sopan santun.

”Hei... bisakah kau menyetir dengan santai dan tidak ugal-ugal­an seperti ini?” akhirnya keluar juga kekesalanku.

”Kenapa? Kau ingin menikmati pemandangan alam di sekitarmu? Kita bukan sedang piknik!” ujarnya, ketus.
Hah! Aku terbelalak menghadapi kekasarannya. Kenapa Mas Rangga mengutus sopir sebengis ini untuk menjemputku? Memangnya tak ada yang bisa bermanis-manis sedikit saja pada wanita?

”Aku tidak berkata begitu. Kau sendiri yang mengambil kesimpulan seperti itu! Maksudku, kita kan melewati jalan desa. Bagaimana bila tiba-tiba melintas anak penggembala sapi atau bebek atau ayam, misalnya? Padahal, kau melaju sekencang ini seolah sedang berpacu di sirkuit F-1!” ujarku, sedikit berteriak, mengatasi gaduhnya suara mesin dan kerikil-kerikil yang tergilas roda mobil.

”Yang seperti itu hanya ada di film-film!” tukasnya, keras kepala. Huh, dasar keras kepala! ”Atau... jangan-jangan kau takut mabuk, ya?” ujarnya tiba-tiba, sambil melirikku dengan tatapan yang sa–ngat merendahkan.

Apa? Mabuk? Mustahil. Seorang Kania tak mungkin mabuk! ”Aku ini wartawan, sudah terbiasa dengan medan dan cuaca tak bersahabat! Aku tak kenal kata mabuk darat, udara, maupun laut, tahu? Tubuhku sekuat banteng, asal kau tahu saja!” protesku, jengkel.

Dia malah tersenyum. Baru sekali ini dia tersenyum lepas padaku. ”Hei, jangan sebut-sebut namaku!” ujarnya, menahan senyum.

Kini ganti aku yang terkejut dan terpukul telak, lantaran tak bisa membalas kata-katanya. Tapi, dia tak berkata-kata lagi. Jadi, aku tak tahu di bagian mana aku telah menyebut namanya. Apakah namanya Mabuk? Atau berkonotasi dengan kata mabuk? Atau, jangan-jangan dia pemabuk? Ah... sudahlah, ngapain aku harus pusing-pusing memikirkan siapa nama makhluk sombong berhati dingin ini!

Di sebuah kedai, dia menghentikan mobilnya. Kupikir dia akan mengisi bensin. Tapi, sampai lama dia tak juga muncul. Masa membeli bensin saja selama ini? Jangan-jangan dia menimba sendiri dari kilang minyak di belakang kedai sana! Saat kekesalanku memuncak, tiba-tiba makhluk sok itu muncul dan berdiri tepat di dekatku.
”Ternyata, kamu benar-benar takut mabuk, ya, sampai memilih di mobil terus?” tanyanya, kejam.

”Hei, jangan menuduh sembarangan. Aku tidak takut mabuk! Aku tidak takut apa pun di dunia ini, tahu?” balasku, jengkel.

”Kalau begitu, kenapa kau tidak turun dari mobil dan ikut makan bersamaku di warung?” ujarnya, membuat kejengkelanku meluap tak terkendali. Sebagai wartawan, aku sering bertemu dan berhadapan dengan berbagai macam tingkah dan sifat manusia. Tapi, tidak ada yang semenjengkelkan makhluk sok di depanku ini!

”Tidak bisakah kau mengatakan padaku, kita mampir makan dulu di sini, sebelum melanjutkan perjalanan? Apa kau pikir aku ini Deddy Corbuzier yang jago membaca pikiran orang lain? Yang kau lakukan tadi hanyalah melompat turun dan masuk ke warung, setelah itu tidak keluar-keluar lagi. Jadi, bagaimana aku bisa tahu kau sedang makan atau menimba air di dalam sana?!” tukasku, dengan kemarahan tak terbendung.

”Ya, sudah, kalau begitu, ayo, turun dan makan dulu. Perjalanan kita masih jauh,” akhirnya ia mengalah dan berkata dengan suara lebih lembut. Tetapi, hatiku sudah telanjur jengkel oleh perlakuannya barusan.

”Aku tidak makan. Aku masih kenyang. Tadi di pesawat aku sudah makan,” kataku, didorong oleh harga diriku yang telah terluka. Sesaat kulihat ekspresi keterkejutan di kedua bola matanya. Dia sudah melepas kacamata hitamnya yang norak itu, sehingga bisa kulihat sepasang mata kecokelatan miliknya. Mata yang sangat indah, sebetulnya, asal dia bisa menghapus kesedihan itu dari sana. Benarkah dia sedih? Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia?


Penulis: Astrid Prihatini WD
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?