Celebrity
Pasangan Jiwa Dewi Sandra

11 Oct 2013


Naik turun kehidupan menuntun pemenang Panasonic Award 2004 kategori Presenter Wanita Terbaik ini pada pengalaman hidup yang membuatnya menjadi pribadi yang  makin positif. Kegagalan rumah tangga atau pemberitaan negatif tentang dirinya membentuk pribadinya  makin kuat dan tegar.

Meninggalnya sang ibunda dirasa Dewi Sandra sebagai titik terendah dalam hidupnya. “Waktu ibu saya meninggal hampir berdekatan dengan perceraian kedua saya. Itu bisa dibilang saat paling depresi dalam hidup saya. Saya sangat kehilangan sosok pahlawan saya, sosok yang mana selalu mendoakan saya, apa pun kesalahan saya. Saya benar-benar merasa sendiri, empty…,” cerita Dewi.

Dewi menyadari, tawa riang yang diberikan oleh para sahabatnya tak bisa sepanjang waktu ia rasakan. Mereka memiliki kehidupan masing-masing. Ia merasakan kehampaan ketika pulang ke rumah. Inilah yang membawanya pada keinginan untuk mendalami agama dan banyak membaca buku seperti karya Mitch Albom, Paulo Coelho, sampai buku Robin S. Sharma berjudul The Monk Who Sold His Ferarri yang menjadi favoritnya.
Ia termasuk pribadi yang berprinsip bahwa cinta adalah ketika dua orang hidup bersama selamanya. Bukan hanya yang indah-indah saja, tapi juga bisa menerima kekurangan masing-masing. “Termasuk, ketika berat badan kita naik dua kilo! After my experience, men are not for that. Selama ini tidak ada pria yang mampu membuka hati saya ke tahap itu,” sesalnya.

Kekecewaan demi kekecewaan yang akhirnya bermuara pada kata ‘cerai’ itu membuat Dewi enggan jatuh cinta, atau menerima cinta yang baru. Tak hanya dirinya, para sahabatnya pun over protective soal kehidupan cinta Dewi. Sehingga, ketika Agus Rahman (35), suaminya kini, yang seorang karyawan di salah satu mal di Jakarta, mendekati dirinya, para sahabatnya inilah yang menilai kepribadian dan kesungguhan Agus.

Perkenalannya dengan Agus berawal saat ia diminta tampil di acara yang diselenggarakan oleh tempat Agus bekerja. “Tidak ada momen cinta pada pandangan pertama antara saya dan Agus. Kami memulainya dalam sebuah pertemanan,” ungkap Dewi, tersenyum.
Namun, kesabaran Agus yang luar biasa dalam menunggu ‘lampu hijau’ dari Dewi akhirnya berhasil meluluhkan hati wanita berdarah Inggris-Betawi ini. Terlebih, ketika kehadirannya diterima dengan hangat oleh keluarga besar Agus, hatinya pun  makin mantap memilih Agus. 
Advertisement

Tetapi, ini bukan akhir dari tantangan yang harus mereka lewati. Setelah setahun saling kenal dan dekat, Agus masih harus menanti persetujuan dari Nina, adik Dewi yang tinggal di London. “Dia satu-satunya keluarga yang saya miliki saat ini, dan dia sangat protektif terhadap saya. Jadi, saya harus minta persetujuannya,” jelas Dewi. Perjalanan Jakarta-London pun dilakukan Agus untuk mendampingi Dewi yang ingin mengunjungi Nina. Keseriusan dan niat baik Agus tidak berakhir dengan sia-sia, ia pulang mengantongi restu dari Nina.

Rupanya, kejutan lain telah menanti Dewi dalam perjalanannya bersama Agus pulang ke tanah air. Di atas pesawat yang membawa mereka dari London ke Jakarta, Agus melamar Dewi! “Kami memiliki visi dan misi yang sama dalam pernikahan. Bahwa menikah hanyalah sekali seumur hidup. Ia juga berjanji tidak akan meninggalkan saya, seburuk apa pun kondisi pernikahan kami,” ujar Dewi.

Keyakinan inilah yang kemudian memantapkan langkah Dewi untuk menuju ke pelaminan bersama pria pilihannya. Dua bulan setelah lamaran di udara itu, pada 11 Desember 2011, di Jakarta, keduanya mengikat janji sehidup semati berdua. “No fancy party just a simple garden party yang sangat kekeluargaan dan intim,” cerita Dewi mengenai pesta pernikahannya yang diselenggarakan di Plataran Cilandak.

Menjalani bahtera rumah tangga dengan Agus menjadi sesuatu yang sangat disyukuri Dewi saat ini. Bagi Dewi, Agus adalah hal terindah yang terjadi selama hidupnya. Di ulang tahun suaminya yang ke-35, Dewi yang memang termasuk tipe wanita romantis dan spontan, ‘menculik’ Agus untuk  menghabiskan waktu berdua di Taman Safari, Cisarua, Bogor. Ia juga menulis 35 pucuk surat berisi ungkapan cinta dan syukurnya kepada Agus.
Demikian pula Agus. Di sela kesibukannya, ia masih bisa menghadirkan senyum di wajah Dewi lewat kejutan-kejutan bunga darinya. Dari semua itu, momen yang paling berkesan dan dinikmati oleh Dewi adalah ketika Agus menjadi imam saat salat berdua.

“Saya paham bahwa kita tidak bisa mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan dalam hidup ini. Tapi, saya yakin, saya mendapatkan apa yang saya butuhkan,” ungkap Dewi, yang senang dapat mewujudkan salah satu kerinduannya, yaitu bisa menjalani ibadah umrah berdua suami. (Ayu Widya S.)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?