Travel
Oxford, Petualangan Sehari Bersama Harry

14 Mar 2014


Jauh sebelum Harry Potter menjadi siswa paling populer disini, Oxford sudah menjadi kota pelajar paling terkenal di Inggris. Buat seorang potterhead, atau penggemar berat franchise Harry Potter, seperti saya Elmo mendapat kesempatan berlibur di Inggris Raya terasa seperti menerima surat penerimaan siswa baru dari Hogwarts. Jadwal itinerary pun segera dipenuhi berbagai lokasi yang berkaitan dengan dunia sihir yang tidak bisa dimasuki sembarang muggle itu. Untuk melengkapi acara napak tilas saya di London, saya berkunjung ke Oxford, kota pelajar yang juga berperan penting dalam kehidupan the boys who lives.


'Orientasi Kampus'

Untuk mencapai Oxford, selain dengan kendaraan pribadi, bisa dengan bus atau kereta dari London. Namun, karena saya harus memanfaatkan waktu dengan efektif selama liburan ini, keretalah yang menjadi pilihan transportasi saya.

Lama perjalanan dengan kereta adalah satu jam, dan di dalam kereta saya nyaris tidak pernah mengalihkan pandangan dari luar jendela. Ini adalah salah satu keuntungan menggunakan transportasi darat selama liburan, yaitu pemandangan di luar jendela yang indah. Hamparan  berwarna hijau kecokelatan, warna khas musim gugur, memberikan perasaan tenang dan damai, yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di Jakarta.

Setibanya di stasiun kereta Oxford, saya masih harus berjalan sedikit sampai ke pusat kota, atau dalam kasus saya kali ini, berlari karena hujan mulai turun. Ini juga salah satu situasi yang mungkin tidak akan bisa saya nikmati di ibu kota tercinta, mengingat  tiap kali hujan turun, justru emosi yang muncul melihat barisan mobil yang terhenti di depan mata, belum lagi udara yang terkadang menjadi lembap dan tidak nyaman.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari seorang teman yang sudah pernah mengunjungi Oxford, sebelum memulai penjelajahan kota, tidak ada salahnya mengikuti salah satu walking tour yang ada. Sebelum berangkat, saya sudah mencari sedikit informasi mengenai ini, dan menemukan bahwa ada  dua macam walking tour di Oxford yang cukup direkomendasikan banyak turis.

Yang pertama walking tour resmi, yang membutuhkan reservasi terlebih dahulu dari para pesertanya dengan harga yang sudah ditetapkan. Atau, yang kedua, walking tour independen yang bisa langsung diikuti oleh pengunjung begitu mereka tiba. Saya bergabung dengan grup yang kedua, karena itu berarti waktunya bisa lebih fleksibel, dan saya tidak perlu terburu-buru.

Pemandu walking tour saya saat itu adalah seorang pria dari Irlandia bernama Stuart yang sangat ramah. Lucunya, ia ternyata pernah bekerja sebagai guru di Bandung dan Surabaya. Sebelum tur dimulai, selagi menunggu peserta yang lain berkumpul, ia memberikan kupon untuk berbelanja di beberapa toko sekitar tempat pertemuan kami (kelihatannya ia akan mendapat komisi dari toko-toko itu kalau ada tamu-tamunya yang berbelanja).

Begitu jumlah anggota tur sudah cukup, Stuart langsung membawa kami berkeliling. Kesan pertama saya mengenai kota ini terasa sangat menyenangkan. Walaupun terkenal akan kampusnya yang menjadi universitas tertua di Inggris dan sebagian dunia,  tidak terasa kaku dan terlalu formal.

Selagi membawa kami berkeliling, Stuart memperkenalkan beberapa bangunan kampus pada kami, yang mungkin tidak akan bisa saya kenali kalau tidak mengikuti tur ini, salah satunya Christ Church Cathedral. Stuart mengatakan,  ada beberapa ruang di bangunan megah ini yang dipakai sebagai lokasi syuting film-film Harry Potter. Ketika ia mengatakan itu, saya tahu harus kembali ke ruangan-ruangan itu nanti.

Salah satu kelemahan walking tour seperti ini, menurut saya, adalah peserta harus pandai membagi ‘konsentrasi’ antara menikmati bangunan yang ditunjukkan dan mendengarkan penjelasan yang diberikan sang pemandu. Beberapa kali saya hampir tertinggal rombongan, karena terlalu sibuk memperhatikan detail bangunan-bangunan yang kami lewati dan mengambil foto. Sebagai seseorang yang sangat tertarik pada arsitektur, berada di sebuah tempat yang dikelilingi bangunan bergaya Gotik dan Victoria klasik membuat saya merasa menjadi anak kecil yang dibawa ke toko mainan oleh kedua orang tuanya.

Dengan perasaan yang sedikit bercampur antara kecewa dan senang, saya mengucapkan selamat berpisah pada Stuart ketika turnya berakhir setelah satu jam. Pria Irlandia yang kocak itu mengucapkan terima kasih karena kami telah memercayakan dirinya sebagai pemandu. “Give us what your heart desires, folks,” ucapnya, sambil menengadahkan bowler hat yang dipakainya selagi memberikan tur, dan ia memalingkan wajahnya untuk menghindari rasa sungkan para peserta yang meletakkan berbagai jumlah uang poundsterling sebagai penghargaan atas jasanya mengajak kami berkeliling di tengah hujan.


Hogwarts dan Wonderkand

Advertisement
Usai tur, saya merasakan perut bergemuruh karena lapar dan udara dingin. Memang tepat waktunya makan siang, berarti sudah waktunya untuk mencari makan siang di sekitar pusat hiburan kota. Pilihan saya  jatuh pada  makan siang murah meriah (untuk ukuran poundsterling) di sebuah kedai sandwich. Sepaket smoked salmon and cream cheese sandwich dan segelas teh hijau hangat  terasa fantastis di siang musim gugur yang sedang diguyur hujan.
Layaknya cuaca di Inggris yang selalu labil, hujan yang turun pun tidak berlangsung lama dan segera disusul dengan cuaca cerah yang hangat. Namun, saya yakin cuaca cerah ini tidak akan bertahan lama. Jadi, sebelum disambut hujan lagi, saya segera menuju tujuan yang sudah saya ‘tandai’ sejak datang tadi, Christ Chuch College.

Dengan latar belakang awan kelabu yang bergulung-gulung, kemegahan bangunan berdesain Victoria klasik ini justru makin terasa. Detail arsitekturnya seolah bercerita akan pengalaman hidupnya yang berwarna, termasuk ketika franchise film mengenai bocah sihir yang mendunia itu ‘meminjam’ bangunan ini sebagai bagian dari petualangan ajaibnya.

Salah satu ruangan yang dipakai adalah The Great Hall. Jika Anda membaca rangkaian novel karangan J.K. Rowling itu, Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan nama ini. Ya, ruang makan yang besar di dalam gedung kampus ini adalah inspirasi untuk The Great Hall di Hogwarts. Ruang makan ajaib ini memiliki langit-langit hampir tembus pandang untuk menikmati cuaca di luar, dilengkapi dengan empat meja panjang yang mewakili masing-masing rumah di Hogwarts. Mungkin seperti ruang makan di sekolah sihir itu, The Great Hall milik Christ Church College hanya dibuka pada jam-jam tertentu, sesuai waktu yang tidak dipakai untuk makan ataupun menikmati afternoon tea, agar pengunjung bisa mengunjunginya tanpa mengganggu aktivitas di dalamnya.

Untuk memasuki Great Hall, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar £7, yang mungkin tidak seberapa kalau dibandingkan dengan proses pembersihan dan perawatan bangunan ini. Setelah membeli tiket masuk, pengunjung harus melewati ruangan lobi dan menaiki tangga menuju ruang makan.

Sesaat saya terpana, bukan hanya karena desain interior ruang lobi yang cantik, tetapi saya mengenali tangga itu sebagai tempat Harry dan teman-teman satu angkatannya menunggu sebelum mereka dipanggil Professor McGonaggall untuk diperkenalkan dan mengikuti proses seleksi rumah. Melihat dengan mata sendiri tangga ini, saya hampir tidak bisa menahan senyum di wajah, dan tidak bisa menahan jari saya untuk menjepret tangga batu itu dengan kamera berkali-kali dari berbagai sudut.

Walaupun Great Hall di Christ Church ini tidak memiliki langit-langit yang bisa menunjukkan cuaca di luar,  ruangan ini juga memiliki meja panjang untuk para staf pengajar dan dekan menikmati hidangan. Ketika sedang berkeliling dan mengambil foto, kami seolah diikuti puluhan mata milik para alumnus yang diabadikan di foto-foto yang tergantung di tembok. Salah satunya adalah Charles Dodgson, atau yang lebih dikenal sebagai Lewis Carroll, sang penulis cerita klasik Alice in Wonderland. Lewis Carroll adalah salah satu lulusan University of Oxford di bidang sastra yang mendunia. Beberapa karakter dari ceritanya yang terkenal itu diabadikan sebagai visual di jendela The Great Hall. Tak hanya sebagai gambar di jendela, di dalam kompleks perkampusan juga dibangun sebuah toko yang menjual berbagai produk dengan tema cerita klasik legendaris itu, Alice Shop. Namun sayang sekali, pengelola toko tidak mengizinkan pengunjungnya untuk mengambil foto di dalam toko. Jika Anda atau anak Anda penggemar Alice in Wonderland, toko menggemaskan ini tak boleh dilewatkan.

Menjelang sore, saya kembali ke stasiun untuk mengejar kereta, dan tidak terlalu sore kembali ke London. Berhubung ketika baru datang tadi, saya tidak terlalu memperhatikan sekeliling karena sibuk berlari kehujanan, kali ini saya bisa melihat-lihat sekeliling selagi berjalan. Walaupun nama kota ini terdengar ‘berat’ karena adanya salah satu kampus paling bergengsi di dunia, karakter kotanya tidak menunjukkan hal itu. Seperti kota-kota pelajar lainnya, di Oxford juga ada kafe-kafe untuk berkumpul bersama teman-teman atau keluarga, bioskop, dan pusat perbelanjaan yang menyenangkan. Bisa jadi ini yang membuat kota ini menjadi tempat belajar favorit, karena keseimbangan serius dan bersantainya.


TIP


>>Cara menjelajahi Oxford yang paling efektif adalah berjalan kaki dan bersepeda. Berhubung naik taksi cukup mahal, alternatifnya adalah naik bus nomor 2 dan 7 yang akan membawa Anda berkeliling dari pusat kota.

>>Musim gugur (September-November) adalah waktu yang paling pas untuk berkunjung ke Oxford, ketika mahasiswa sudah memulai aktivitasnya dan kota terasa lebih hidup. Sementara musim semi diramaikan Oxford Fashion Week (Maret) dan Oxford Jazz Festival (April).

>>Anda bisa mengunjungi berbagai museum seperti Ashmolean Museum of Art and Archeology (salah satu yang tertua di dunia), atau naik ke atap Abingdon Country Hall Museum untuk menikmati pemandangan kota.

>>Salah satu tempat makan yang paling populer di Oxford adalah Kadai & Naan, yang menyediakan hidangan khas Nepal dan India. Tidak seperti kebanyakan makanan eksotis di Eropa yang 'sepi' bumbu, tempat ini memiliki rasa yang cukup otentik.(f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?