Kondisi ini terjadi karena meningkatnya aktivitas otot polos kandung kemih (otot destrusor) atau kontraksi kandung kemih yang berlebihan. Penyebab kondisi ini dapat digolongkan menjadi dua. Pertama, karena kelainan saraf (neurogenic). Contohnya, stroke, tumor di otak, parkinson, trauma kepala, trauma tulang belakang, kelainan anatomi tulang belakang sejak lahir, dan tumor tulang belakang.
Kedua, penyebab yang tidak bersumber dari penyakit saraf (non-neurogenic). “Hingga saat ini, penyebab OAB terbanyak adalah faktor non-neurogenic dan tidak diketahui penyebabnya. Banyak peneliti yang menghubungkan OAB dengan proses aging,” ujar dr. Harrina E. Rahardjo, SpU, Ph.D, spesialis urologi di Derpatermen Urologi RSCM
Dokter Harrina menambahkan, penyakit infeksi saluran kemih, diabetes melitus, batu kandung kemih, dan tumor di kandung kemih dapat menimbulkan gejala mirip dengan OAB. Kabar baiknya, OAB dapat diobati dengan pemberian obat antimuskarinik dan melakukan bladder training dengan bantuan dokter spesialis fisik dan rehabilitasi, serta fisioterapi. Selain itu, mengobati penyakit penyebabnya bila dapat teridentifikasi. (f)