Health & Diet
Olahraga Bukan Solusi?

4 Jun 2014


Olahraga Bukan Solusi?
Dampak yang diakibatkan dari sedentary lifestyle atau gaya hidup tidak bergerak ini tampaknya sama atau malah lebih buruk daripada merokok. Bahkan, istilah sitting is the new smoking kini sering dipakai untuk menyadarkan orang dari bahaya mengintai para pekerja kantoran yang menghabiskan banyak waktunya di meja kerja. Michael pun sependapat. “Orang zaman sekarang sudah pintar dan paham tentang rokok. Kini mereka beralih ke masalah lain, yaitu sedentary lifestyle,” kata dr. Michael Triangto, SpKO dari Klinik Slim and Health.

Sepintas, solusi dari berbagai masalah yang disebabkan oleh sedentary lifestyle ini sepertinya hanya satu, yaitu mulai bergerak alias olahraga. Tapi, menurut Michael, solusinya di sini bukan sembarang bergerak. Sebab, mereka yang sesekali berolahraga sepulang kantor atau di akhir pekan juga bukan berarti terbebas dari bahaya risiko penyakit yang disebutkan di atas. Pasalnya, satu jam olahraga tidak bisa ‘membayar’ 7-8 jam yang Anda habiskan dengan tidak bergerak dalam satu hari.
   
“Pada umumnya orang menyamakan konsep aktivitas fisik dengan olahraga yang dilakukan sekali dua kali dalam seminggu. Padahal, untuk menghindari risiko-risiko tadi, tubuh harus bergerak lebih sering dan teratur,” ujarnya.
   
Untuk lebih jelasnya, Michael menggambarkan kemampuan aktivitas fisik manusia pada batas 100%. Mereka yang sedang berolahraga berat seperti lari atau bersepeda sesungguhnya memakai kemampuannya di atas 100%. Namun, jika beberapa hari setelah olahraga kita kembali duduk di kursi selama berjam-jam, tubuh akan kembali ke kondisi sedentary. 

Aktivitas fisik yang terjadi secara drastis atau olahraga berat yang dilakukan hanya sesekali, menurut Michael, bisa fatal akibatnya. Ia memberi contoh orang yang tiba-tiba bermain futsal karena di kantor ada yang mengajak, padahal sebelumnya ia tidak pernah berolahraga. “Akibatnya banyak yang terkena stroke atau serangan jantung karena tubuhnya tidak biasa bekerja terlalu keras,” ujar Michael, menyayangkan. 

Advertisement
Menurut Michael, mereka yang ingin mengubah sedentary lifestyle tidak perlu buru-buru memikirkan harus heboh berolahraga, karena pada dasarnya aktivitas fisik yang diperlukan manusia secara alami bukanlah olahraga berat yang membuat pegal dan kapok. Yang penting teratur. Ia lebih menyarankan olahraga yang lebih ringan seperti berjalan santai, tai chi, atau yoga memakai kemampuan fisik manusia di bawah 100%.
“Supaya bisa efektif, aktivitas fisik harus dilakukan secara teratur, terencana, dan berkesinambungan. Seperti minum obat, aktivitas fisik memiliki dosis dan frekuensi yang berbeda-beda untuk  tiap orang,” kata Michael.

Idealnya, gerakan-gerakan fisik ini dilakukan dengan program yang terencana, memakai ‘resep’ latihan-latihan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh orangnya. Selama latihan, denyut jantung kita juga harus diukur dan dijaga supaya tidak melebihi kemampuannya. Misalnya, lakukan jalan kaki selama 30 menit sehari, hingga mencapai denyut nadi 60 sampai 80% target heart rate, yaitu 220 dikurangi usia Anda saat ini. Misalnya: 60% - 80% x (220 - 30), hasilnya = 114 - 152 denyut per menit.
Selain berolahraga di luar jam kantor, Anda bisa terus bergerak  tiap 30 menit sekali atau tiap ada kesempatan, seperti jalan ke dan dari tempat makan siang, bermain kejar-kejaran dengan si kecil, dan sebagainya.

American College of Sports Medicine merekomendasikan 150 menit per minggu, artinya bisa Anda ‘cicil’ sebanyak 5 hari, masing-masing selama 30 menit. Memang yang paling mudah adalah menjadikan aktivitas fisik bagian dari gaya hidup sehari-hari, sehingga bisa dilakukan tanpa terasa menyiksa.

PRIMARITA S. SMITA

Baca juga: Bugar di meja kerja



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?