Cakra memang kuliah di Arkeologi, walaupun telah sembilan tahun belum juga lulus. Itu pula yang mendekatkan Cakra dengan Naka-Raka. Ia kerap bercerita tentang sejarah makam-makam raja Dinasti Warmadewa yang dimakamkan di kawasan Gunung Kawi. Cerita ini membuat Naka-Raka takjub. Cerita tentang Raja Anak Wungsu bersama permaisurinya yang dimakamkan di sana. Anak Wungsu adalah putera ketiga Raja Udayana. Ia berhasil memerintah Bali hingga menuju kemakmurannya. Itu yang pernah dicerita-kan Cakra padanya tentang sejarah tempat itu.
Namun yang membuat berdecak, memberi acungan dua jempol adalah kemampuan Cakra menyanyikan kidung. Pernah terbayang laki-laki muda jaman ini fasih menembang? Lily benar-benar tidak menyangka laki-laki yang lebih mirip laki-laki berandalan macam Cakra memiliki suara yang begitu merdu. Lily memergokinya suatu kali di rumah Cakra. Laki-laki itu memegang lontar di tangan dan menyanyikannya dengan suara panjang-pendek. Beberapa orang mendengarkan suara Cakra dengan seksama. Ia rupanya mengajari mereka. Luar biasa. Murid-murid Cakra ada yang berumur dua kali umurnya. Layak bila Lily menggodanya sebagai tetua adat. Ia memang tokoh penting dalam adat di masyarakat Banjar Senggu, dimana Cakra dilahirkan. Ia kerap menjadi pemimpin rapat-rapat adat dengan bahasa yang terdengar pelan dan berwibawa. Ia membuat para peserta rapat adat, dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga remaja tekun mendengarkan kata-katanya. Lily pun dibuat terpesona dan tersihir. Cakra menjadi idola dalam masyarakatnya. Tidak heran banyak gadis-gadis remaja yang jatuh hati padanya. Ibu-ibu yang getol menjodohkan anaknya dengan Cakra. Apalagi dengan wajah se-charming itu. Lily mengutuki dirinya yang sering diam-diam menikmati wajah Cakra. Menikmati senyum dan suaranya yang terdengar amat menawan. Ah…
Pantai Lebih, Juni 1994
Pagi yang cerah di Pantai Lebih. Inilah kali pertama Lily dan Cakra benar-benar sengaja pergi bersama, tanpa Naka. Cakra menawarkan sebuah date yang romantis. Makan sate ikan di sebuah restoran pinggir pantai yang nyaman. Lily menanggapi dengan ringan tawaran itu. Toh sekalipun tampak seperti laki-laki berandalan, Cakra sesungguhnya laki-laki yang baik hati.
Lily dan Cakra sedang menikmati keindahan laut sambil mengunyah gurihnya sate ikan yang dicampur dengan kelapa parut saat terdengar sayup-sayup suara gamelan di kejauhan. Lily melihat sebuah rombongan yang berjumlah sekitar seratus orang berjalan berjalan dengan langkah-langkah panjang. Kain-kain yang melilit kaki berkibar-kibar; kebaya warna warni berkilat-kilat diterpa sinar matahari yang mulai meninggi. Mereka adalah rombongan melasti, jelas Cakra. Mereka ke laut untuk membersihkan alat-alat upacara.
Suara gamelan bergerak semakin dekat. Rombongan itu sesaat lagi akan melewati tempat Lily dan Cakra berdiam menikmati soft drink mereka. Entah mengapa pada detik itu baik Lily maupun Cakra serentak saling memandang, pada detik yang sama rombongan itu melintasi mereka. Ada yang terasa meloncat dari dada mereka. Tanpa dikomando, keduanya memandangi rombongan itu bergerak semakin jauh, hingga bayangannya semakin kecil mendekati bibir pantai.
Masih terlihat sepasang dewa yang diusung rombongan itu. Satu-nya berperawakan besar, berpenampilan garang dan berkulit hitam. Satunya lagi berkulit putih, bermata sipit dengan kepala yang berhiaskan mahkota bunga. Sepasang dewa yang dipuja itu sangat menarik perhatian Lily karena belum pernah ia saksikan pada berba-gai pura yang dikunjunginya bersama Cakra. Mengapa dewa yang dipuja itu harus sepasang, laki-laki dan perempuan?
Itu barong landung. Jelas Cakra tanpa diminta. Dan Cakrapun bercerita tentang kisah awal mula Barong Landung.
Pendeta istana, Mpu Siwa Gama tidak memberikan berkatnya, lalu menciptakan hujan terus menerus hingga seluruh kerajaan tenggelam. Sang raja kemudian memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang dan raja kemudian dijuluki sebagai Dalem Balingkang.
Karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa. Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah. Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara, ia terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit. Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya karena sebelumnya mengaku sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri –Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei– itu lalu di-buatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.
Barong Landung. Kisah cinta perempuan dari Negeri Cina dengan seorang Raja Bali. Lily mengguman dalam hati. Apakah antara dirinya dengan Cakra pun akan ada kisah cinta? Antara seorang perempuan keturunan seperti dirinya dengan seorang pemuda Bali. What a coinsidence. Jauh di lubuk hatinya Lily merasa ada sesuatu yang ganjil antara dia, Cakra dan sepasang dewa yang disebut sebagai Ba-rong Landung itu. Rasa yang sepertinya sudah lama bercokol diam-diam di hatinya. Rasa yang tidak pernah bisa ia mengerti
Denpasar, Juli 1994
Laba-laba. Lily merasa kembali terjebak dalam sarang laba-laba yang mengurungnya dari segala penjuru. Seperti di Jakarta, pekerjaannya sebagai wartawan di Bali pun telah merampas sebagian besar waktunya. Mungkin karena Lily ingin selalu total dalam pekerjaannya. Makanya, waktu pun menjadi harga mati yang harus siap ia korbankan.
Lily semakin sibuk dengan pekerjaannya yang sepertinya ingin menumpas habis seluruh waktu yang ia punya. Pagi, siang, petang, dan malam berlari meninggalkan Lily jauh di belakang. Kesibukan yang menumpuk membuat Lily tidak lagi mempunyai waktu untuk mengunjungi Naka dan keluarganya. Sesuatu yang tiap malam ia sesali, namun Lily tidak berdaya. Dan Cakra, seperti semakin melarutkan hidupnya dalam kubangan besar. Kunjungan laki-laki itu yang semakin sering ke kantornya.
Dengan Cakralah Lily menghabiskan sisa malamnya setelah pekerjaannya rampung. Pembicaraan panjang dengan Cakra membuat Lily merasa hidupnya penuh, membuatnya menindas diam-diam rasa bersalahnya pada Naka. Sebuah tanggungjawab yang belum tuntas ia lakukan. Menemukan Raka dan mengobati luka di hati Naka. Ektase dengan pekerjaan dan Cakra, membuat Lily memilih memuaskan egonya. Melupakan Naka. Melupakan keluarganya. Walau rasa bersalah sesekali berbisik ke hatinya bila hening datang.
Penulis: Ni Komang Ariani