Kecintaannya pada traveling membuat Nadine hanya ‘betah’ bertahan di Jakarta sekitar 1-2 minggu. Setelah itu, wanita kelahiran Hannover (Jerman), 8 Mei 1984, ini mengaku gelisah dan ingin buru-buru meninggalkan Jakarta.
“Ayah saya (Andi Chandrawinata) juga mendorong saya untuk terus bepergian. Jika melihat kulit saya sudah memutih, dia langsung bilang, ‘Sudah waktunya kamu ke luar Jakarta dan cari pengalaman baru,’kadang saya merasa asing jika kelamaan di Jakarta,” katanya tersenyum.
Jakarta yang gemerlap, dengan kesibukan penduduknya yang seakan-akan dikejar waktu, memberikan refleksi tersendiri bagi Nadine. Ia mengaku banyak belajar dari masyarakat di daerah bahwa ada kesederhanaan yang sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Bukan hanya dengan bekerja keras mati-matian demi mencapai target, kemudian melupakan mengisi hidup kita dengan kebahagiaan.
Namun bukan berarti pemeran film Generasi Biru arahan Garin Nugroho ini jadi anti-Jakarta. Ia mengaku tetap kangen Jakarta dengan segala dinamikanya. Apalagi, di Jakartalah Nadine banyak beraktivitas di dunia hiburan sebagai model dan aktris. “Jika diminta memilih menjadi entertainer atau environmentalist, rasanya tidak bisa. Keduanya mengalir dalam diri saya,” tambah wanita yang tidak peduli jika kulitnya bertambah gelap ini.
Nadine juga merasa bahwa berbagai perjalanannya membuat emosinya lebih terkontrol. Misalnya, saat bepergian, banyak peristiwa yang sudah direncanakan terpaksa gagal karena faktor di luar kehendaknya. Tidak jarang, ia tidak bisa pergi ke satu pulau karena cuaca buruk, atau mobil mogok saat perjalanan darat.
“Jika dulu saya cepat mengeluh kalau ada hal yang tidak beres, sekarang saya bisa lebih santai. Tiap masalah pasti ada hikmahnya. Saya juga berusaha untuk terus berpikir positif, termasuk saat menghadapi masalah,” papar wanita yang gemar olahraga basket dan bulu tangkis ini.
Rully Larasati