Keberhasilan Proximity memenangakn klien di pilkada tak bisa dilepaskan dari kerja keras timnya. Mulai dari melakukan riset, pendampingan, pelatihan kampanye, hingga training public speaking. Tim Proximity sendiri menyediakan paket lengkap, mulai dari bagian statistik, event organizer, humas, marketing, hingga tim kreatif. Tak terkecuali tim kehumasan yang juga bertugas memberikan pelatihan komunikasi kepada klien yang berlaga di pilkada, termasuk membekali tim suksesnya agar bisa ‘mendekati’ calon pemilih. “Secara khusus, kami juga mendatangkan pakar public speaking untuk memberikan kursus singkat kepada klien, mengenai tata cara berkomunikasi yang baik di depan masyarakat dan media, hingga cara menghadapi lawan saat debat publik,” tutur pria yang juga Direktur Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Surabaya ini.
Bagi Suko, menentukan karakter pemilih di daerah kecil terbilang lebih sulit. Harus ada pendekatan yang berbeda agar bisa ‘masuk’ ke daerah-daerah tersebut. Ketika hendak berkampanye di wilayah pedesaan, misalnya. Suko dan timnya melakukan dialog dengan penduduk desa setempat untuk mengetahui lebih dalam mengenai potret pemimpin yang diinginkan masyarakat tersebut. “Di sinilah skill komunikasi diuji. Kami tak bisa lagi menggunakan cara berkomunikasi cara elite, tetapi harus mau menurunkan level agar bisa mendekati masyarakat pedesaan yang mayoritas lulusan SD,” jelas pria yang juga mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga, Surabaya, ini.
Dari situ, mulailah dilakukan personal branding untuk memoles citra para kandidat yang ditanganinya. “Kami lalu merancang strategi personality branding, supaya kandidat bisa jadi idola. Sebab, berdasarkan survei, sosok personal lebih berperan ketimbang program kerjanya,” kata Suko.
Dalam memoles kandidat, Suko mengaku ‘mencontoh’ cara berkampanye yang dilakukan oleh Barack Obama, yakni dengan cara ngobrol langsung dengan calon pemilih secara door to door, ke rumah mereka masing-masing. “Apa yang dilakukan Obama itu sangat rasional dan sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, masyarakat Jawa akan merasa lebih ‘diorangkan’ ketika didatangi secara langsung ke rumah masing-masing,” papar Suko.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya menguasai ilmu politik, komunikasi, juga memahami metode penelitian bagi mereka yang ingin menggeluti profesi konsultan politik. Sebab, menurutnya, ketiga hal tersebut berjalan berdampingan dan tak bisa dipisahkan. “Tetapi, tak perlu khawatir, karena pekerjaan ini melibatkan banyak orang. Anda pun bisa memilih satu bidang sesuai kemampuan. Jika Anda tertarik bidang kreatif, Anda bisa jadi tim kreatif. Bila menyukai dunia event, Anda bisa masuk ke tim event,” papar pria yang kini tengah menyelesaikan program doktoral di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini.