Fiction
Molek dari Tepian Sungai Musi [9]

3 Apr 2012

<< Cerita Sebelumnya

Zein menuruni bendi dengan ragu-ragu. Dia mengutuki mulutnya yang berteriak menyuruh berhenti di kamar bola (gedung tempat pembesar Belanda mengadakan pesta). Dia pernah datang ke tempat ini. Tempat yang penuh kegembiraan. Orang tertawa, berdansa, makan, minum, menikmati dunia.

Dia masih ragu-ragu berdiri di depan pintu. Saat membulatkan tekad untuk berbalik arah, dia melihat orang yang ingin dilihatnya sedang tertawa gembira dikelilingi banyak lelaki. Sosok tubuhnya indah, terbungkus baju biru bersulam benang perak.

Zein menghampiri. “Molek, aku ingin bicara denganmu.”

“Hei, jangan seenaknya. Hari ini aku sedang berpesta. Kalau kau mau dihibur, kau harus mengantre dan menunggu giliranmu,” kata lelaki yang berdiri di samping Molek.

Zein menatap lelaki itu marah. Molek memegang tangan lelaki di sampingnya. “Dia saudaraku. Jangan salah paham. Dia mungkin membawa kabar dari rumah. Izinkan aku berbicara dengannya. Kau jangan marah. Aku janji hanya sebentar dan segera kembali untukmu.”

“Baiklah, tapi jangan terlalu lama.”

“Tidak akan,” jawab Molek, meyakinkan.

Molek berjalan mendahului Zein keluar ruangan. Mereka terus berjalan dalam diam, lalu berbelok ke samping kamar bola yang agak gelap dan sepi. Setelah yakin mereka hanya berdua, Molek mengulurkan tangan menyalami Zein. “Apa kabar, Mang?” tanya Molek.

Dia takut dan malu mengingat kejadian terakhir saat mereka bertemu. Dia juga gembira, karena Zein masih mau menemuinya. “Sudah lama kita tidak bertemu. Mungkin sudah tiga bulan lebih. Bagaimana perjalanannya? Apakah Abah juga sudah pulang? Apa Abah sehat?”

“Mengapa kau begitu tenang?” kata Zein, marah. Tangannya terkepal memukul dinding batu.

Molek terpekik, memegangi tangan yang memar dan memerah. Dia mengeluarkan saputangan dari balik setagen dan membalut tangan Zein. “Mengapa kau menyakiti dirimu seperti ini?”

Zein mencengkeram bahu Molek dan mengguncangnya keras. “Kau yang mengapa? Mengapa kau melakukan ini? Aku mendengar semuanya. Tentang kecantikanmu, kepandaianmu yang memikat banyak pria. Bahkan, wali kota senang bercakap-cakap denganmu. Mengapa kau menyiksaku seperti ini? Setiap kali mendengar berita tentangmu, dada ini menjadi sakit. Seakan ada seribu jarum yang menusuk-nusuk. Aku tak bisa tidur. Tak bisa berpikir yang lain selain dirimu. Kau memenuhi kepalaku, menutupi mata ke mana pun aku memandang. Aku sudah tak kuat lagi mendengar dan melihat kau bersama lelaki-lelaki itu. Kau hanya milikku. Aku tak ingin membaginya.”

Zein menatap Molek lekat-lekat. “Kita akan menikah dan aku akan menyembunyikanmu hanya untukku. Kau tahu bahwa kau hanya milikku.”

“Terima kasih. Aku… aku sangat bahagia.” Tangan Molek bergetar ketika menyentuh wajah yang dirindukannya itu. Mata tajam dengan alis tegas, hidung mancung, dan dagu berbelah. Kini dia bisa menyentuhnya.

Zein menarik Molek, memeluknya erat, ”Aku akan menemui Anas besok dan melamarmu.”

Molek membeku. Dia seakan disentakkan kembali ke bumi, terjatuh keras. Dia menjauhkan diri. “Tidak. Itu tidak bisa. Aku sudah keluar dari rumah. Aku sudah membuang diriku sendiri.” Molek mundur dan berbalik. “Aku memang ingin jadi istrimu, tapi sudah terlambat. Waktu sudah tak bisa diputar ulang. Aku tak berhak mendapat kehormatan itu.”

Molek tak bisa membayangkan reaksi Abah. Dia takut memikirkan Yusuf dan keluarga besar Zein. Jika Zein menikah lagi dengan wanita baik-baik dari keluarga biasa, pasti bisa diterima. Tapi, mengambil perempuan nakal yang pernah bertunangan dengan anaknya, pasti akan ada badai, kebencian, dan kemarahan. Dia tak ingin Zein terlibat masalah, kehilangan persahabatan dan rasa hormat dari orang sekitarnya.

“Maafkan aku. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa menjadi istrimu. Aku harus pergi. Jika kau mau menerima hubungan diam-diam, datanglah padaku, kapan pun kau mau. Aku akan selalu menunggumu.”

“Aku akan membantu Adenan langsung di lapangan.”

Molek mengangguk setuju.

Zein tampak heran. “Kenapa kau tidak melarangku?”

Molek menggeleng. “Sedari dulu aku tahu kau seorang pejuang yang berani melakukan apa pun demi cita-cita muliamu. Aku tak akan menghalangi.”
Advertisement

“Tapi, kita tak bisa bertemu seperti ini lagi, Zein membantah tak puas. Mungkinkah Molek tak peduli pada keselamatannya? Bukankah ada banyak lelaki yang mengelilingi, memberi perhatian dan cinta tak terbatas untuknya. Jadi, apalah artinya jika harus kehilangan satu.

“Kita pasti bisa bertemu lagi. Jangan khawatir, aku tetap mencintaimu.”

Molek tak ingin begitu tenang. Dia ingin memeluk Zein dan melarangnya pergi. Tapi, dia harus penuh pengertian, mendukung Zein dan menjadi kebalikan dari istrinya di rumah. Dia harus tampak dewasa, matang, lembut, dan membawa ketenteraman. Itu semua agar Zein kembali padanya. Agar Zein terus teringat padanya. Dengan Zein, dia harus selalu menggunakan akal sehat, meskipun hatinya tidak terima. Begitulah nasihat Inten kepada Molek agar bisa memenangkan hati lelaki ini.

Zein meraih tangan Molek. Dia tak ingin membahas sesuatu yang mungkin menyebabkan hatinya sakit. Karena itulah dia ingin pergi dan berjuang bersama Adenan. Dia ingin melarikan diri dari semua masalah ini. Betapa dia benci jika membayangkan Molek bersama lelaki lain, terutama Kapten Beaur yang kabarnya sangat mencintai Molek dan bermaksud menjadikannya istri.

Harum mawar makin kuat. Zein menunduk, menatap barisan bulu mata lentik dan berusaha tersenyum.
Molek menyandarkan kepala di dada lelaki itu.

“Apa itu kalung baru?” tanya Zein, saat melihat sekilas sinar kemilau di balik kebaya Molek.

Molek mengeluarkan sebentuk kalung yang tadi tampak tidak terlalu jelas karena tertutup kerah bajunya. Semalam Kapten Beaur datang dengan tangan tersembunyi di belakang. Mata birunya bersinar-sinar penuh semangat, ketika dia menyuruh Molek menebak apa yang dibawanya.

“Apakah itu bunga? Bunga mawar merah harum untuk menghias rambutku?” Molek pura-pura menebak, padahal dia tahu betul barang itu pasti perhiasan. Selama ini Kapten Beaur membanjirinya dengan itu.

“Mawar memang selalu membuatmu lebih cantik. Tapi, ini bukan mawar, ini lebih istimewa.”

“Apa itu?” tanya Molek, seakan sangat antusias.

Kapten Beaur mengulurkan sebuah kotak. “Ini agar kau bertambah cantik. Bukan karena kemilaunya. Kau jauh lebih menyilaukan dari itu. Tapi, karena kebahagiaan yang memancar dari wajahmu, karena tahu aku mempersembahkannya sebagai tanda cintaku padamu.”

Ketika Molek membuka tutup kotak, matanya menatap sebentuk kalung yang berkilau ditimpa cahaya. Kalung emas itu terdiri dari dua rantai emas, yang di sepanjang rantainya bergantungan burung-burungan berhias intan. Di bagian tengah ada liontin besar berukir bunga, juga dihiasi intan. Kalung yang sungguh indah, orang menamainya kalung anak ayam.

Molek tahu, kalung ini bukan kalung sembarang. Hanya keluarga bangsawan yang sangat kayalah yang memilikinya. Molek ingat Nyai mempunyai satu kalung anak ayam, warisan keluarga besar. Semua anggota keluarga boleh meminjamnya untuk dipakai. Nyai hanya menyimpan dan merawatnya.

“Apakah kau juga mencintaiku?” tanya Beaur.

Molek memandang mata biru yang membuatnya tenang dan nyaman. Hati Molek melembut. Dia mengangguk. Kapten Beaur seperti pria dalam khayalannya dulu, pintar, cerdas, menghormati dan memperlakukannya sederajat. Mereka sering berbicara bersama dan Molek menyukainya.

Molek meraba kalungnya.

“Aku benci kalung itu.”

Molek terkejut melihat api yang membakar di mata Zein. “Jangan marah. Aku akan melepasnya. Aku tadi lupa hingga terus memakainya.”

“Kau tak pernah membiarkanku memberikan sesuatu padamu, tapi kau memamerkan perhiasan yang diberikan pemujamu itu. Apa maksudmu? Apa kau tidak tahu hatiku sakit melihat benda-benda itu di tubuhmu?”


Penulis: Lisa Andriy




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?