Fiction
Molek dari Tepian Sungai Musi [6]

3 Apr 2012

<< Cerita Sebelumnya

Molek mengetuk pintu. Tidak berapa lama dia mendengar suara orang menyahut dan pintu terbuka. Seorang wanita tua memandangnya heran.

“Apakah Cek Inten ada di rumah?” tanya Molek.

Muka tua itu berubah curiga. “Awak siapa?” tanyanya.

“Saya Molek, keponakan Kemas Zein dari Kampung Dua Puluh Enam. Saya ingin menemui Cek Inten”

“Tunggulah dulu.” Wanita itu masuk, membiarkan Molek berdiri di depan pintu, memandangi ruang tamu berperabot indah.

Rumah batu ini berlantai pualam putih, seputih dindingnya yang dikapur bersih. Beratap tinggi, berjendela terbuka lebar, membawa masuk kesejukan. Ini rumah impian Molek, ketika berkhayal jadi noni Belanda berambut pirang dengan baju penuh renda, mengem­bang, menjuntai menutupi kaki. Noni cantik yang bergerak anggun di lantai dansa bersama Mang Zein kekasih tercinta.

Tak berapa lama wanita tua itu mengajaknya masuk. Bukan ke ruang tamu, melainkan masuk ke sebuah kamar tidur. Tampak Inten sedang duduk di depan meja rias. Rambut panjangnya hitam berkilat, tergerai lurus sampai nyaris menyentuh lantai. Tanpa menoleh, ia berkata, “Duduklah di ranjang.”

Molek bimbang. Semua keyakinannya seakan hilang. Dia duduk di sisi ranjang. Lewat cermin dia bisa melihat wanita itu mengamatinya, sambil tetap sibuk menggulung rambut dengan dua kawat panas untuk membentuk ikal-ikal.

“Kau cantik sekali.”

Inten mengangkat sebelah alis yang bak semut beriring itu. Dia berbalik sehingga bertatapan langsung dengan Molek. “Sekarang katakan apa yang sebetulnya kau inginkan. Jangan bergurau lagi.”

Molek menggeleng. “Aku tidak bergurau. Aku mengagumimu. Betul, menurutku, kau sungguh cantik.”

Inten tampak heran. “Siapa kau ini? Aku merasa tak mengenalmu. Tadi aku menerimamu hanya karena terkejut ada perempuan muda mengunjungiku. Selama ini aku hanya berurusan dengan laki-laki dan tamuku hanya mereka. Jadi, sekarang ceritakan siapa kau dan apa tujuanmu menemuiku.”

“Aku anak Kemas Anas. Namaku Nyimas Molek. Kemarin aku melihat kau bertemu Kiagus Zein, dia mamangku.”
Inten tertawa. “Oh, kau calon menantu Zein itu?”

Molek terkejut. “Kau sudah tahu? Bagaimana mungkin? Padahal, kami belum resmi menerima lamaran.”

“Hanya orang buta tuli saja yang belum mengetahui kabar itu. Seluruh kampung sudah membicarakannya. Apakah Zein yang menyuruhmu kemari? Apa dia sudah gila? Tak ada perempuan baik-baik yang datang ke sini. Jadi, cepatlah pulang sebelum ada yang melihat kedatanganmu.”

Molek menggeleng. “Tak ada yang menyuruhku ke sini. Aku suka sekali melihat penampilanmu, sungguh pantas. Aku ingin sekali bisa berdandan secantik itu. Maukah kau mengajariku?”

Inten menatap Molek heran. Gadis yang aneh. Selama ini tak ada seorang pun wanita yang memujinya. Kaum sejenisnya mema-lingkan muka, mencemooh jika bertemu dengannya. Dia perempuan simpanan Belanda, manusia rendahan.

“Kau Molek, ’kan? Kau juga sangat molek.”

Molek tersenyum. “Nama itu sebetulnya tidak cocok untukku. Seharusnya adikkulah yang diberi nama Molek. Kau pernah melihat adikku? Dia sungguh cantik, meskipun tidak secantik dirimu.”

Mereka berpandangan, lalu sama-sama tersenyum. “Kemarilah,” panggil Inten, menyuruh Molek mendekat ke kursinya.

Molek melihat sekilas bayangannya di kaca, lalu menatap Inten yang telah berdiri di belakang.

Advertisement
“Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini, tapi aku akan memperlihatkan padamu bahwa nama Molek betul-betul pantas untukmu.”

Inten mengurai rambut Molek yang tebal ikal, panjang melebihi pinggul. “Ah, rambut yang sungguh indah. Jika punya rambut seperti ini, aku tak perlu menghabiskan berjam-jam mengeriting rambut untuk mendapatkan ombak-ombak tebal di bagian depan.”

Molek diam. Dalam hati ingin memercayai kata-kata Inten. Tapi, dia tidak berharap banyak. Karena, menjadi saudara Aisyah dan Denti selama ini telah membuatnya sadar bahwa dia bukan apa-apa.

Dia memerhatikan tangan-tangan Inten yang menyisir rambut. Tangan itu berjari lentik dan indah. Sebuah pertanyaan mendesak-desak di pikirannya. “Kau begitu cantik. Tapi, kenapa kau jadi seperti ini? Maksudku, kenapa kau tidak menikah saja? Dengan keelokanmu, pasti banyak lelaki baik-baik yang ingin menikah denganmu.” Molek bertanya, lalu menutup mulut dengan tangan. “Maaf, maaf, aku bertanya macam-macam. Ah, betapa lancangnya aku ini.” Molek membalikkan badan memegangi tangan Inten.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Ayo, menghadap ke kaca lagi. Aku belum selesai menyanggul rambutmu.”

Molek menurut. Tapi, kini ada kebisuan tak nyaman di antara mereka, membuat hatinya jadi makin tak enak.
“Apakah kau mau mendengar ceritaku?” tanya Inten.

Ada sebersit rasa heran dalam diri Inten, kenapa dia ingin bercerita pada gadis yang datang tak diundang ini, yang tanpa ujung pangkal meminta diajari berdandan. Dia tak habis pikir, kenapa dia mau menuruti keinginannya.

“Aku tahu apa yang dipikirkan orang saat melihatku. Sebetulnya aku juga tak ingin seperti ini. Seadainya bisa memilih, aku lebih suka menikah dengan lelaki baik-baik, menjadi istri sah, mengurus mertua dan anak-anak. Tapi, aku tak punya pilihan. Aku terlahir dari keluarga bangsawan. Sayangnya, kami sangat miskin.”

Molek pernah mendengar bahwa Inten bergelar raden ayu. Tapi, masyarakat berpura-pura tidak tahu atau lupa, karena menganggap kelakuan Inten tak pantas untuk kehormatan setinggi itu.

“Ketika aku berumur tiga tahun, Mbuk meninggal dan saat ber­umur lima belas Abah pun meninggal. Aku hanya hidup bersama Wak Uti, ayuk (kakak perempuan) Abah, di kolong rumah orang yang tadinya rumah kami. Kami sering hanya makan sekali sehari. Itu pun jika orang kaya di atas memberi nasi. Tadinya mereka kasihan, sering memberi sisa makanan. Namun, lama-kelamaan mereka sebal dan berpikir, daripada diberikan pada kami, lebih baik untuk menggemukkan ayam peliharaan.

”Apakah kau tahu, betapa tak adilnya masyarakat pada anak perempuan yatim piatu. Bukannya aku ingin bermalas-malasan dan menggantungkan hidup dari belas kasihan orang, tapi tidak ada yang bisa kukerjakan untuk mencari nafkah. Satu-satunya hal yang paling mungkin adalah menikah. Tapi, tidak ada yang menginginkanku sebagai menantu, meski aku bergelar baik. Pertama, karena anak-anak yang lahir selalu mengikuti garis ayahnya, dan gelarku takkan memperbaiki status keturunan berikutnya. Jadi, percuma saja. Kedua, pernikahan yang diatur harus selalu menguntungkan.”

”Suatu malam aku berjalan ke sana kemari tak tentu arah, perutku melilit, kepalaku pusing karena kelaparan. Aku mulai berpikir, mengapa aku tidak mati saja. Jika mati, tentunya takkan merasa lapar lagi. Mungkin, aku bisa bertemu Abah dan Mbuk. Betapa aku merindukan mereka dan juga kesal karena mereka meninggalkanku sendirian. Untuk apa aku mereka hadirkan di dunia jika hanya untuk dilupakan dan ditinggalkan.

”Ketika sedang memikirkan Abah dan Mbuk itulah, tiba-tiba seorang opsir mendekati. Kukira, dia baru pulang dari rumah minum, karena tampak mabuk. Dia berdiri di hadapanku, melihat air mata bercampur debu yang mengotori mukaku, menanyakan mengapa aku menangis. Meski takut, kuceritakan bahwa aku belum makan dan mengulurkan tangan, berharap dia mau memberi uang. Lelaki itu menghapus air mataku, lalu mengajakku ke suatu tempat, berjanji memberi uang jika aku mau melakukan keinginannya.

”Begitulah, meskipun aku menangis, merintih kesakitan dan ter-noda, aku betul-betul mendapat uang malam itu. Uang yang menurutku sangat banyak, karena cukup untuk makan dua hari. Aku berjalan terseok-seok, pulang ke rumah, mulai memahami bahwa itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia ini, tanpa orang tua di sisiku.”

Kisah itu menyedihkan. Namun, Inten menceritakannya dengan nada biasa saja. Meski begitu, Molek merasakan dadanya sesak.

“Malam itu sungguh mengerikan. Tapi, aku tak menyesal. Pria itu memang rusak, tapi setidaknya dia mengulurkan tangannya padaku, sementara mereka yang terhormat malah berpaling, membuangku.”

“Kau sungguh kuat. Meski sulit, kau tidak menyerah. Kukira kau lebih hebat daripada wanita-wanita sok suci lain, yang hanya duduk-duduk dan mencela orang. Kau seorang pejuang,” kata Molek.

“Kau sungguh bermulut manis, pandai menyenangkan hati orang.” Inten senang sekali, berpikir-pikir apakah seperti ini rasanya punya saudara perempuan. Bisa diajak bicara dan selalu siap menghibur.

“Kau tahu Adenan?” tanya Inten.

Molek mengangguk. Meski tak mengenal langsung, seluruh pen-juru kota tahu nama itu. Dia pejuang besar pemimpin gerilyawan yang dicari Belanda.

“Dia kakakku. Nyaris tak ada orang yang tahu, karena sejak kecil dia diambil oleh teman Abah yang tidak punya anak. Abah ingin anak laki-lakinya bersekolah agar bisa hidup lebih baik. Begitulah untungnya laki-laki, jadi lebih berharga dibandingkan perempuan. Meski-pun sejak itu kami tak pernah bertemu, aku tahu dia kakakku.”


Penulis: Lisa Andriy




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?