Fiction
Molek dari Tepian Sungai Musi [2]

3 Apr 2012

<< Cerita Sebelumnya

Namun, Abah lebih longgar, juga karena persahabatannya dengan Mang Zein. Maka Abah berkata, selagi Molek tidak meminta pakaian laki-laki, dia boleh melakukan apa pun yang dia mau. Tak ada yang berani menentang Abah. Mereka yang tak setuju hanya bisa mendongkol, mengeluh, dan berkata bahwa dengan kepandaiannya, Molek makin mirip laki-laki. Empat tahun ini Mbuk dan Nyai makin hari makin cemas, karena tidak ada satu pun lamaran yang datang pada Molek. Dalam hati, mereka menyalahkan Mang Zein.

“Aku akan menyiapkan baju Nyai yang akan dibawa, kata Aisyah, memutus lamunan Molek. Dia masuk ke kamar Nyai.

Sementara itu Molek melangkah ke luar. Di tengah-tengah pintu depan yang menuju ke garang (teras), dia duduk dengan nyaman. Molek tersenyum, membayangkan betapa marahnya Nyai, jika melihat dia sekarang. Kata Nyai, anak gadis yang duduk di tengah lawang (pintu) susah dapat suami. Tidak masuk tidak keluar, tidak menolak tidak juga mengiyakan. Begitulah pantangan-pantangan aneh itu makin ketat mengikat, jika menyangkut Molek. Tak boleh sedikit pun dilanggar, karena dia hampir melewati garis batas waktu.

Molek menjulurkan kedua kaki, lalu menggoyangnya ke kiri dan ke kanan dengan senang. Jika di rumah tak ada orang, dia bisa berbuat semaunya. Seandainya dia bisa melihat Mang Zein sekilas saja, hari ini akan jadi hari keberuntungannya. Molek mendengar suara bergemeratak di atas. Titik-titik hujan turun deras. Hujan panas, karena matahari bersinar terang.

Aisyah berlari keluar. “Yah, hujan, aku tidak bisa pergi.

“Ini hanya hujan panas, biasanya cepat berhenti, kata Molek.

Aisyah ikut duduk di sampingnya, mereka memandangi hujan yang turun menimpa tanah kering, menimbulkan uap tipis. Orang di jalan berlarian, berusaha secepatnya pulang atau berteduh menghindari basah. Sebuah bendi memasuki pelataran. Laki-laki yang menariknya berlari cepat-cepat seakan berlomba dengan hujan.

“Mang Zein! seru Molek, mengenali penumpang yang terburu-buru melompat turun, separuh melemparkan uang.

“Aduh, hari panas begini, tapi hujan deras, keluh Mang Zein.

Molek mengulurkan tangan, mencium tangan Mang Zein. Aisyah mengikuti teladan kakaknya. “Mbuk kalian ada? tanya Mang Zein.

“Mbuk dari tadi pagi sudah pergi ke rumah Bicik Zainab. Mari masuk dulu, Mang. Molek menunjuk pakaian Mang Zein. “Baju-nya jadi basah. Lebih baik pakai baju Abah. Kata orang, hujan panas membawa penyakit.

“Baiklah. Aku memang tidak boleh sakit dan tidak mau sakit. Aku harus membantu persiapan pernikahan Lela.

Molek masuk ke kamar Abah. Mencari-cari di gerobok (lemari) baju yang kira-kira pas untuk Mang Zein. Abah lebih pendek dan gemuk, sedangkan Mang Zein tinggi, hampir setinggi orang-orang Belanda.

Dia hanya menemukan sarung, membawanya pada Mang Zein yang menunggu di ruang tamu ditemani Aisyah. Sebetulnya Molek lebih suka melihat Mang Zein memakai celana panjang yang membuatnya kelihatan terpelajar. Tetapi, celana Abah takkan muat.

“Aku akan mencarikan bajunya. Molek berbalik ke belakang. Dia membongkar-bongkar pakaian lama Abah dan menemukan kemeja tangan pendek biru terlipat rapi di tumpukan baju.

Molek masuk ke kamar Abah mengantarkan baju. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Mang Zein hanya memakai kaus, sibuk membetulkan lipatan kain. “Ini bajunya, Mang, Molek mengulurkan baju dengan wajah tertunduk. Untung kulitnya tidak putih. Jika Aisyah yang berdiri di sini, orang pasti akan tahu betapa malunya dia, karena mukanya langsung jadi semerah udang rebus.

Mang Zein menoleh. “Terima kasih, Molek.

Jemari Molek seakan tersengat panas, ketika tanpa sengaja saat memberikan pakaian, jemari itu bersentuhan dengan tangan Mang Zein. Dia buru-buru keluar kamar. Ah, kenapa dia sekarang jadi begini. Tapi, begitulah, keanehan ini sudah berlangsung lebih dari setahun. Pikirannya selalu tertuju pada Mang Zein dan hatinya selalu gelisah ingin bertemu. Molek ingat, sedari kecil dia sangat menyukai Mang Zein. Tapi, sekarang rasa sukanya bertambah dan berkembang menjadi perasaan suka seorang wanita pada seorang pria.

Molek menghela napas. Dia menemui Aisyah yang sedang menyiapkan kopi. “Potonglah kue dan sajikan di depan, pe&rintahnya, lalu berbalik menuju ruang tamu dan menemui Mang Zein.

“Abah-mu baru pulang lusa. Dia harus menunggu uang sewa rumah yang di Prabumulih. Orangnya minta batas waktu sampai besok pagi, jelas Mang Zein, ketika melihat Molek mendekatinya.

“Mang Zein belum pulang? tanya Molek.

“Tadinya aku mau pulang. Tapi, karena hujan, aku lebih dekat ke sini, kupikir mampir saja dulu. Sekalian melihat gadis-gadisku. Baru sebentar tidak bertemu, kalian berdua makin cantik saja, puji Mang Zein, sambil mengangguk pada Aisyah, yang meletakkan kopi dan mempersilakan minum.

“Aku punya sesuatu untuk kalian. Mang Zein mengulurkan bungkusan kertas putih. Aneka permen bermunculan dari balik kertas pembungkus. Aisyah girang.

“Lain kali aku harus ingat untuk tidak membawakan kalian bonbon lagi, kata Mang Zein, menyeruput kopinya.
Advertisement

“Wah, kenapa? tanya Aisyah kecewa. Matanya seperti burung nazar memandangi permen-permen itu dengan teliti, menghitung dan mencari mana yang diinginkannya. Itu bukan sikap gadis yang baik. Molek menyenggol untuk menghentikan keserakahan itu.

“Said masih bisa mendapat bonbon. Tapi, kalian berdua sudah besar dan cantik, pastilah lebih suka dibawakan pita atau renda.

“Kukira aku lebih suka ini, Aisyah menunjuk permennya. “Pita tidak bisa dimakan. Aku tak mengerti mengapa orang melarangku begini dan menyuruhku begitu. Mereka menentukan macam-macam, seakan mengerti betul apa yang kumau. Mereka memikirkan diri sendiri dan menganggap aku sama dengan mereka. Mamang tahu, selain banyak pakaian baru, aku tak suka semua yang berhubungan dengan menjadi dewasa.

Mang Zein tertawa. “Aisyah selalu bicara seenaknya. Tapi, hati-hatilah kalau didengar mbuk-mu. Bisa habis kau dimarahi.

“Tapi, apakah dewasa juga mengharuskan kita berbohong? Yang kukatakan tadi sejujurnya apa yang kurasakan. Tadinya, aku mengira akan mendapat kesenangan lain sebagai ganti hal-hal menga­syikkan, yang tak boleh lagi dilakukan, tapi apa yang kudapat? Hanya peraturan-peraturan yang makin membuatku tertekan.

Molek memandangi Aisyah yang persis dirinya dulu, sering mengeluh dan merasa tak puas. Bedanya, Aisyah berani mengungkapkan kekesalan, Molek lebih banyak memendam dalam hati.

“Sudahlah, jangan bermuka suram begitu. Suatu saat kau pasti akan mengerti. Karena, yang kau jalani ini adat yang telah berlaku lama sekali. Tak ada yang bisa mengubah. Semua orang mengalaminya, tanpa begitu banyak mengeluh seperti kamu. Apa kau mau jadi omongan dan celaan orang? Mang Zein membujuk Aisyah. “Tapi, Mamang janji, sampai kapan pun akan selalu membawakan Aisyah bonbon, karena lebih suka itu dari hadiah apa pun.

Saat itu Molek membenci Aisyah. Dia tidak suka adiknya mendapat perhatian lebih. Aisyah memang senang mencari perhatian dan dia selalu mendapatkannya. Dengan kecantikan dan kata-kata tak terduga, semua terpesona, dari saudara, tetangga, bahkan orang yang sekadar lewat di jalan, selalu saja lebih memerhatikan Aisyah. Sebetulnya, Molek tidak begitu peduli kalau itu menyangkut orang lain. Tapi, Mang Zein adalah miliknya, dia tak suka Mang Zein ikut-ikutan memerhatikan Aisyah.

Molek menggandeng Said. Kainnya berkibar-kibar ditiup angin. Molek berhati-hati memilih jalan. Di pinggir yang tidak beraspal, setelah hujan menjadi becek. Dia tidak menyukai tanah yang menempel di sandal atau air yang membasahi kaki. Said justru senang, kakinya sengaja menginjak genangan dan air terciprat ke mana-mana.

Tiba-tiba sebuah pemandangan indah melintas di samping, mengalihkan mata Molek dari kelakuan Said yang menjengkelkan. Wanita itu begitu cantik, dengan kebaya merah darah dan kain songket berwarna sama, memegangi payung kain cokelat keemasan. Dia seperti matahari menyilaukan, berjalan berlenggak-lenggok lemah gemulai, menikmati jadi pusat perhatian dan tidak peduli dengan cuaca yang muram dan lembap.

Kecantikannya tiada banding. Molek tahu siapa wanita itu. Semua orang mengenalnya, semua membicarakannya, namun tak satu pun berani menyapa. Pria membicarakan wanita itu sambil tertawa, suara mereka mengandung gairah tertentu di dalamnya. Para wanita mengelus dada dan menyumpahi, tetapi diam-diam berusaha meniru dandanannya. Molek sendiri, sering berkhayal, suatu saat bisa menjadi secantik Inten, sehingga pria impiannya terpesona dan jatuh cinta padanya.

Said menyentakkan gengaman Molek, berlari mendahului, ketika melihat tujuan sudah di depan mata. Dia bergabung dengan anak-anak kecil yang asyik bermain-main di halaman. Dia berteriak, “Cek, aku di sini saja, ya.
Molek mengangguk, lalu berjalan menaiki tangga. Langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda berdiri di ujung tangga sambil mengangkat kursi.

“Yusuf, sapanya, mengenali sang pemuda. “Apa kabar?

Molek berjalan masuk, menyalami orang-orang yang duduk-duduk di dalam rumah. Matanya sembunyi-sembunyi mencari sosok yang ingin dilihatnya. Yang tampak justru Aisyah sedang menyajikan kopi, teh, dan kue-kue. Dia menunggu adiknya menyelesaikan tugas, lalu menghampiri.

“Cek? Siapa yang menunggu rumah?

“Rumah kukunci. Kuncinya kutitip pada Ujuk.

Aisyah menariknya bersemangat, “Ayo, sini. Cek harus melihat kamar pengantinnya. Bagus sekali.

Molek mengikuti Aisyah yang masih memegangi nampan. Aisyah menyibakkan tirai dan menarik kakaknya naik ke kamar.

“Molek, ayo, masuk. Baru datang? Bicik Zainab memanggil.

“Saya menunggu Abah pulang. Katanya hari ini, ternyata baru besok, kata Molek, sambil mencium tangan bibinya dan tersenyum pada Lela yang sedang bepacar (mewarnai kuku tangan dan kaki dengan pewarna alami).

Molek memandangi sekeliling kamar, semua tersusun indah. Kasur tinggi tempat tidur pengantin telah dipasangi seprai kuning mengilat, pinggiran kasur dihias songket merah, dan di atas kasur tersusun bantal-bantal dari yang besar hingga yang kecil, bertumpuk-tumpuk memenuhi hampir separuh kasur. Semua terbungkus songket merah dengan kain pelangi di tengahnya. Benang emas di songket itu berkelip-kelip ditimpa cahaya.

Sepasang lemari pengantin berukir megah mengapit tempat tidur, sudah diisi hiasan keramik Cina dan bertumpuk kain songket yang tidak terkira harganya. Di depan meja rias banyak antaran dari pengantin pria. Nampan-nampan kuningan berhias kertas kuning emas dan merah berisi antaran lebih besar tampak memenuhi salah satu sudut kamar. Di situ juga terdapat bendera-bendera kecil dari kertas merah dan kuning, yang ditusukkan pada gedebong pisang, siap dibawa saat pengantin pria datang.


Penulis: Lisa Andriy


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?