Fiction
Mimpi Retak [9]

17 May 2012


Advertisement
Senyap. Sunyi sekali. Lebih sepi dari aroma larut malam yang pekat. Barangkali, serupa inilah kesenyapan larut malam di kedalaman telaga. Tiada suara, tiada cahaya, tiada gerak. Hanya air bening yang diam. Atau, serupa itukah bening kematian?


Tatap mataku mengabur, mencoba menangkap bayang suamiku. Dia ada di depanku, sangat dekat. Jarak kami barangkali tidak lebih dari satu meter. Tapi, sesungguhnya dia begitu jauh. Jarak yang terbentang di antara kami sejauh timur dari barat, selebar utara dari selatan. Kami tak lagi saling terjangkau.

”Kembalilah padanya,” kataku.

”Tapi...,” suamiku kehilangan kata-kata.

”Segeralah, atau kau akan kehilangan dia selamanya.”

Kupalingkan wajah, kubentangkan jarak, menyembunyikan bening yang menggenang di ujung mataku. Selesai sudah. Jalinan yang pernah kuikat dengannya pada sepanjang perjalanan kini terlepas simpulnya. Rajutan mulai terlepas menjadi seuntai benang panjang. Jalinan rajutan yang pernah saling mengikat, kini hanya menjadi segaris panjang kenangan belaka.

Kukerjapkan mata, bertahan untuk melihat betapa rajutan kami terurai menjadi benang panjang kenangan. Apa yang harus kulakukan dengan kenangan itu? Haruskah kutinggalkan? Ataukah, kulupakan? Atau, justru kubawa?
Sejauh mana kenangan bisa dibawa? Sebaliknya, sejauh mana kenangan bisa dilupakan? Belum kutemukan jawabannya. Yang kutemukan adalah bahwa sebuah kenangan, meski jauh dan silam, justru akan terlihat lebih jelas ketika aku melihatnya dengan tatap mata yang mengabur oleh genangan air mata.

Aku pernah menyimpan sebuah mimpi yang sempurna. Sebuah mimpi yang terbungkus rapi dengan keindahan, yang kukira hanya akan berakhir, ketika takdir kematian datang pada waktunya. Bahkan, kukira kami akan tetap memiliki mimpi kami itu di surga nanti. Ah, adakah surga itu?

Pernah kubaca tentang John Burroughs, seorang naturalis dan esais, yang mengatakan, ”Surga yang memberikan kebahagiaan bukanlah suatu tempat, melainkan situasi diri, di dalam batin, di dalam jiwa....”

Pernah kutemukan surga itu, di dalam pelukan seseorang. Seseorang yang kukira kumiliki dengan sah, mutlak, tak tergugat. Setiap kali berada dalam pelukan itu, ketika sepasang lengannya erat mendekapku, dan detak jantungnya memenuhi relung telingaku, segala kesempurnaan ada dalam genggamanku. Kebahagiaanku penuh. Bangunan mimpiku paripurna. Telah kumiliki surga terindah.

Tapi, ternyata, surga itu tidak selamanya bagiku. Masa kepemilikanku sudah berakhir. Perjalanan kebersamaan kami telah sampai pada sebuah ujung. Aku harus berhenti dan melepaskan seseorang untuk pergi. 
Sungguh pedih melepas pergi seseorang dengan cara seperti ini. Ternyata lebih melukai dibandingkan dengan perpisahan karena kematian. Serupa mimpi yang usai sebelum tidur berakhir. Serupa layang-layang yang terlepas dari benang penariknya dan melayang tak berjejak terbawa angin tak tentu arah.

Sungguh tidak pernah kukira bahwa mimpiku akan berakhir secepat ini pada sebuah padang tandus. Padang tandus yang bahkan tidak pernah terlintas dalam bayang mimpiku sekalipun. Namun, kini aku terperangkap di padang itu sendirian, berbekal mimpi retak yang nyaris tanpa harapan. 

BARON
Bagaimana sebuah luka dibuat? Dengan sayatan pisau? Sabetan cemeti bergerigi? Benturan dengan benda sekeras batu? Pukulan berulang-ulang?

Ternyata, tidak kuperlukan alat bantu apa pun untuk membuat luka. Aku hanya mengucapkan beberapa patah kalimat, yang ternyata sanggup menorehkan luka lebih dalam dari segala sayatan alat-alat peluka itu.

Istriku tidak menangis. Juga tidak marah. Hanya gurat wajahnya menyiratkan sesuatu yang lebih dari amarah dan kepedihan. Entah bagaimana menarasikannya. Seribu kosakata dalam kepalaku, tak ada satu pun yang tepat untuk merepresentasikannya.

Apakah aku menyesal? Entahlah. Barangkali, akan lebih baik bila aku tetap setia pada dusta. Menyimpan dengan rapi bayang lain dalam benakku dan berdalih sedemikian rupa setiap kali kecurigaan itu muncul. Curiga yang muncul setiap kali deburan jantungku tak tergapai olehnya, karena tercuri oleh bayang lain.

Mungkin, dusta memang lebih baik. Karena, bukankah dengan begitu semuanya akan beralur normal seperti biasa? Aku hanya memerlukan persediaan alasan yang cukup. Sesuatu yang tidak sulit. Apa sulitnya membuat alasan? Alasan bisa didaur ulang berkali-kali. Bahkan, alasan basi bukan sesuatu yang haram. Sangat biasa, nyaris setiap orang pernah menyajikannya.

Jadi, mengapa kupilih kejujuran yang melukai? Karena egoistis dan serakah. Kukira kejujuran itu akan bisa membuatku memiliki orang-orang yang kuinginkan dengan seutuhnya. Perkiraan yang keliru. Bagaimana mungkin kulalui dua jalan bersimpangan pada waktu yang sama tanpa membelah diriku? Akhirnya, bukan hanya aku yang terbelah, tapi sekaligus istri dan kekasihku.

Mimpi istriku terselesaikan sebelum dini hari. Sementara kekasihku menyelesaikan hidupnya terlalu dini dengan caranya sendiri. Dan, aku tertinggal dalam kesendirian yang getir.

Di ruangan yang dingin itu kutemukan kekasihku tertidur dalam kesendirian. Hening ruangan itu, menebarkan aroma getir yang pekat pada segala sudut.

Begitu diam tidur kekasihku. Ah, dia memang selalu tenang dalam setiap tidurnya. Tidak berisik, tidak memanjakan gerak. Setiap kali melihat tidurnya, serupa berada di tepian telaga yang tenang tanpa riak. Hanya datar air yang bergeming memantulkan cahaya.

Tapi, kini bukan telaga yang tersimpan dalam tidurnya. Kini tidur itu begitu pias, pudar cahaya.

Kucari jemarinya, kubawa dalam genggamanku. Dingin jemari itu, tidak memberikan reaksi seperti yang kuharapkan. Tidak seperti saat pertama kali kugenggam di masa lalu. Ketika itu, jemari itu bergerak lembut, menyerah lunak dalam genggamanku, menghangat dengan sentuhanku.

Kini ia diam. Begitu dingin, membekukan segala harapanku.

”Jangan pergi,” kataku memohon.

Tapi, dia tidak menjawab, tak ada suara selirih pun.

”Sungguh, jangan pergi, bertahanlah untukku,” kataku lagi, masih menyimpan harapan. Harapan yang setipis kabut, namun sesungguhnya berlapis-lapis, serupa seribu tetesan hujan.

Tak ada reaksi apa pun. Dia justru makin dingin, makin mengabaikan permohonanku. Makin tidak peduli.

Ini sungguh bukan dirinya. Selama ini dia selalu menjadi yang terhangat untukku. Dia selalu ingin berada dalam pelukanku, selalu bersandar pada punggungku. Menarikan jemari lincahnya ke seluruh dataran punggungku, lekuk bahuku atau tonjolan rahangku. Ah, dia paling suka daguku yang membiru abu-abu usai bercukur. Kadang dia menjerit kecil, ketika jemarinya menemukan sisa cambang liar di daguku yang lolos dari jangkauan pisau cukurku.

Apa yang terjadi pada jemari lincah itu sekarang? Jemari itu begitu diam, bahkan dingin dengan suhu yang nyaris membekukan.

”Apa yang terjadi padamu?” tanyaku, tanpa suara.

”Marahkah kau karena aku terlambat datang padamu? Atau, kau sengaja pergi lebih dini untuk menghilang dariku?”

Aku tergugu tak berdaya, kurebahkan diri pada bahunya yang tak bergerak. Tidak dapat kuingkari kenyataan yang terhampar di depanku. Hari yang telah kami perkirakan itu datang juga. Kekasihku menghadirkan hari itu lebih dini, sama sekali di luar perkiraan. Ah, andai kau tunda keputusan untuk pergi, barangkali hari tidak akan berhenti seperti hari ini. Gumamku mengalir tanpa suara.

Dunia apakah yang telah kubawa untukmu, Kekasih? Mulanya, pasti kau kira dunia yang kubawa akan seindah anyelir merah magenta yang pernah kukirim untukmu pagi itu. Lembut dan segar dengan titik-titik embun bening pada helai kelopaknya.


                                                      cerita selanjutnya >> 


Penulis: Sanie B. Kuncoro



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?