Aku merasa ada yang tidak biasa. Beberapa pagi ini suamiku mendadak berubah menjadi ’manusia pagi’. Dia begitu rajin bangun pagi dan menjalani rutinitas paginya penuh dengan suka cita. Padahal, yang terjadi sekian tahun ini berbagi hari dengannya, aku harus selalu bersusah payah membangunkannya. Harus sekuat tenaga menghentikan tidur paginya. Harus dengan kekuatan penuh berusaha melepaskan dirinya dari jeratan rasa kantuk.
Segala cara sudah pernah kulakukan.
Tapi, apa yang dilakukannya sekarang?
Beberapa pagi ini dia mengakhiri tidur begitu dini. Bahkan, mendahuluiku. Mandi dengan riang. Bersiul-siul, sembari memilih kemeja dan dasi. Dia bahkan sudah wangi, sebelum aku sempat menikmati koran pagi. Sesuatu hal yang nyaris tidak pernah terjadi sebelum ini.
Aku bukannya tidak suka dengan perubahan ini. Barangkali, justru harus bersyukur, karena itu berarti aku terbebas dari kejengkelan pagi yang memburu. Aku hanya merasa ada yang tidak biasa. Entah apa.
Di sinilah kusadari keterbatasanku. Dan betapa ironisnya situasiku. Ketika aku mampu melihat orang lain dengan mudah, serupa melihat bioskop bercerita di depan mata, justru untuk seseorang yang begitu dekat, tak mampu kulihat apa pun. Meski hanya samar sekalipun.
Barangkali, aku harus mencari jawabannya dengan cara lain.
Malam sudah larut. Sudah kupadamkan semua lampu. Hanya tertinggal lampu baca, yang masih digunakan suamiku. Dia memang suka membaca di tempat tidur, menunggu kantuk menghampirinya.
Aku menyusup ke dalam pelukannya, menyusuri bidang datar dadanya. Aku selalu suka melakukannya. Meraba kulit liat pembungkus jantungnya, dan merasakan jantungnya berdetak-detak. Kurebahkan telingaku pada bidang datar itu, mencoba mengalirkan detak jantung itu melewati liang telingaku. Bila tertangkap detak itu, maka memantullah detak itu menjadi debar yang menggetarkan seluruh dinding hatiku. Mengalirkan sensasi luar biasa pada seluruh urat nadiku, yang membawaku pada suatu hal, bahwa aku memiliki seseorang yang kuinginkan selamanya. Maka, aku akan memeluknya dengan sangat erat, ikatan pelukan yang tak ingin kulepaskan sejenak pun.
Tapi, tidak selalu detak jantung itu tertangkap. Juga malam ini. Tak ada apa pun yang mengalir di liang telingaku untuk menggetarkan dinding hatiku. Yang tersentuh hanya gerak napas dengan irama lambat.
”Tak kudengar detak jantungmu,” kataku mengeluh, setengah merajuk. Apakah aku sudah tak mampu lagi membuatmu berdebar-debar?”
”Tidakkah debaran semacam itu hanya pantas untuk remaja?” suamiku menyentuh bahuku, berusaha menenangkan, tapi tak beranjak dari bukunya. ”Aku sudah paruh baya. Telah pula memilikimu seutuhnya. Apakah masih pantas kupunya segala gejolak itu?”
”Atau, aku terlalu tawar untuk memunculkan gejolakmu?”
Suamiku menutup bukunya. Matanya menatapku lembut. ”Mengapa mendadak berprasangka begitu? Ada sesuatu?”
”Entahlah. Aku hanya ingin mendengar detak jantungmu.”
”Tetap ada di sini,” suamiku merebahkan kepalaku di dadanya. ”Dengarkanlah dengan cermat. Jantungku berdetak untukmu, selalu untukmu.”
”Sungguh? Kau yakin tidak ada orang lain?”
Suamiku mendadak terkejut. ”Mengapa bertanya begitu?”
”Entahlah. Ketika kehilangan detak jantungmu, kadang-kadang aku berpikir, adakah seseorang lain berada di balik punggungmu. Dan dia mencuri detak jantung yang seharusnya milikku itu. Aku tak mau itu dicuri orang.”
”Praduga sembarangan. Dengan kemampuan penglihatanmu, mana mungkin kusimpan seseorang di balik punggungku?”
Sebuah janji yang menentramkan. Siapa mampu menolak janji sesempurna itu? Kueratkan pelukan. Meyakinkan diri bahwa dia sungguh-sungguh milikku. Mendadak debaran yang kutunggu muncul begitu saja, begitu cepat jantung itu berdetak. Berdentam-dentam menimbulkan deburan yang menggetarkan seluruh dinding hatiku. Getar yang selalu kucari.
Kunikmati detak itu. Ruang hatiku penuh dengan deburan jantungnya, kusimpan dengan rapi, kukunci rapat pada seluruh ruang urat nadiku. Tak akan kubiarkan deburan itu menghilang dariku, sekejap pun.
Tapi, mendadak, satu pertanyaan melintas. Mengapa debar jantung itu muncul tiba-tiba. Adakah sesuatu yang memunculkannya?
BARON
Apa yang kurang dalam hidupku? Karier yang mapan dengan jenis pekerjaan yang sesuai bidang pendidikanku. Rumah besar warisan orang tua di tengah kota. Seorang istri yang memiliki kemampuan khusus ’melihat’ sesuatu. Rumahku tidak pernah sepi dari para tamu yang memerlukan kemampuan khusus istriku, untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Seiring dengan itu mengalir pula berbagai penghargaan non-material yang kami terima.
Kami seakan diposisikan sebagai seseorang yang tidak biasa, yang selalu mendapat perlakuan khusus dalam banyak hal. Mungkin, karena mereka pernah terbantu oleh ’penglihatan’ istriku. Tapi, sejujurnya, sering kali hal itu memunculkan situasi yang tidak nyaman untukku. Sedemikian istimewanya mereka memperlakukan istriku, sehingga seakan menempatkan aku sebagai bayang-bayang. Setiap kali harus mendampingi istriku, aku lebih banyak berfungsi sebagai pengiring belaka, tepatnya: pelengkap penderita. Celakanya, aku harus merelakan diri memaklumi situasi tidak nyaman ini, demi apa yang bernama kepatutan pandangan sosial.
Istriku adalah seorang sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Aku ingat ketika pertama kali menemukannya, pada masa orientasi pengenalan mahasiswa. Di masa lalu yang lucu itu aku sungguh jatuh kasihan melihat segala kedekilannya. Rambutnya yang ikal dihias pita daun-daun kering, yang menyampah di pelataran kampus. Baju seragam inisiasinya dilengkapi oleh sobekan-sobekan kain kumal yang dijahit kasar. Lalu, sepatunya adalah sepatu olahraga yang sudah bolong, menampakkan jemari kaki.
Tema pekan orientasi mahasiswa yang kami tetapkan waktu itu adalah kemiskinan. Jadi, para mahasiswa baru itu harus tampil total dengan segala atribut kemiskinan. Landasan idealisme kami sebagai senior mahasiwa ketika itu adalah supaya mereka mampu memahami kemiskinan dengan lebih baik, yang barangkali berguna bagi penerapan ilmu mereka di masa mendatang.
Ah, baru sekarang kusadari betapa muluk harapan itu. Siapa peduli tentang kemiskinan, ketika segala fasilitas kehidupan tersedia di depan mata untuk dinikmati? Lagi pula, terlalu naif mengira dapat memahami kemiskinan hanya melalui simbolisasi yang tampak di permukaan. Penyederhanaan masalah yang terlalu mudah.
Apakah cukup merasakan dasar kemiskinan hanya melalui bau sampah, baju sobek-sobek, sepatu bolong? Itu semua simbolisasi belaka. Pada kenyataannya, kemiskinan lebih dari sekadar menahan rasa lapar, ketidakmampuan untuk menentukan apakah ada sesuatu yang bisa dimakan hari ini, rasa perasaan diri yang tersingkir, karena dianggap sesuatu yang tidak ada. Atau, bahkan rasa terhina, karena dianggap sesuatu yang harus dihindari, supaya tidak menimbulkan masalah lebih lanjut.
Tapi, begitulah mahasiswa dengan segala kemudaannya. Merasa telah melakukan hal-hal besar, justru karena ketidaksadaran bahwa begitu jauh yang masih harus dipahami di dasar kehidupan. Tanpa menyadari bahwa permukaan kehidupan sama sekali bukanlah representasi yang ada di dalamnya, justru lebih merupakan kamuflase, serupa telaga yang menyimpan kedalaman tak terduga.
Begitu pun aku. Hanya dengan melihat gadis kurus dengan atribut kemiskinan itu, aku jatuh kasihan dan merasa harus memberikan pertolongan. Lebih tepatnya diskriminasi khusus. Dan sebagai panitia tentu aku punya akses untuk itu. Lalu, tampillah aku sebagai penyelamat baginya. Suatu cara klise untuk merayu gadis belia.
Begitulah. Aku menemukan calon istriku dengan jalan yang terasa sangat mudah. Barangkali, Tuhan sangat sayang padaku, karena pada kenyataannya banyak kemudahan lain yang kutemukan dalam hidup. Jenjang pendidikan yang selesai tepat waktu, mendapatkan pekerjaan yang tepat, dengan jenjang karier menjanjikan. Barangkali, sesungguhnya hidupku telah lengkap.
Tapi, begitulah. Ketika segala sesuatu memudahkan hidup, tidak berarti hidup menjadi nyaman. Bisa jadi, yang terasa justru kedataran. Hidup menjadi terasa biasa.
Jadi, ketika kemudian muncul seseorang yang lain, itu bagaikan sebuah pensil warna, yang siap mewarnai bidang datar polos kanvas lukisanku. Ibarat pusaran angin, yang siap menggelombangkan pantai-pantai landai di sepanjang pesisir jiwaku.
cerita selanjutnya >>
Penulis : Sanie B. Kuncoro