Fiction
Mimpi Retak [3]

17 May 2012


Advertisement
Sebuah hari yang biasa

May baru saja menyelesaikan koran paginya, ketika tamu pertama itu datang.

”Sudah ada yang menunggu, Ibu,” kata Surti, sembari membereskan peranti makan.

”Sepagi ini?”

Surti mengangguk.

May menghela napas panjang. Barangkali, hidup memang makin sulit. Makin banyak persoalan membelit, yang harus diurai dengan segera. Makin dini pula mereka berupaya mencari jalan keluar. Begitu banyak cara ditempuh untuk mencari penyelesaian.

Kemampuan May melihat sesuatu, bisa jadi dianggap sebagai salah satu sarana, yang mampu memberikan alternatif penyelesaian. Meskipun, kadangkala, alternatif penyelesaian yang diberikan tidak selalu sesuai harapan mereka. Toh, tetap saja tak hentinya tamu berdatangan. Barangkali, mereka telah terpuaskan dengan sekadar melihat masa depan, memenuhi rasa penasaran yang memenuhi benak. Berharap mendapatkan pembenaran dari apa yang menjadi dugaan mereka.

Tamu pertama itu adalah seorang wanita paruh baya. Sesungguhnya, dia seorang wanita yang cantik. Tapi, penampilannya yang atraktif justru mengaburkan kecantikan alami yang dimilikinya. Yang terlihat kemudian justru tempelan klise di sekujur tubuh. Wanginya menyengat. Pasti diteteskannya terlalu banyak parfum, sehingga orang yang berada satu ruangan dengannya akan merasa seperti berada di laboratorium pabrik parfum. Orang tidak tahan berlama-lama di sana. Karena, sesungguhnya, yang menarik adalah harum yang samar, yang menabur misteri.

Rambutnya bergelombang tertata rapi. Bahkan, angin pun tak akan mampu menggerakkannya, karena segala gelombang itu telah dikunci dengan semprotan hairspray. Pasti kaku rambut itu, terasa keras ketika disentuh. Padahal, yang menarik adalah rambut yang bergerak lambat, seirama gerak angin. Ketika angin mengempaskan helaian rambut yang saling melintang, pastilah jemari akan terulur untuk ingin serta merapikannya.

Bedak dan gincunya tebal, menutup pori dan kilau alami kulitnya. Menghadang gerak seseorang yang ingin menyentuh.

May mengulurkan tangan. Tamu ini adalah tamu barunya.

”Selamat pagi, Ibu.”

”Selamat pagi,” balasnya, menyimpan kegugupan.

”Nama Ibu?”

Wanita itu menyebutkan namanya, kegelisahan tampak jelas dari cara duduknya yang tidak tenang.

”Silakan,” May mengarahkannya tanpa basa-basi. Dia tahu wanita ini segera memerlukan sebuah pelepasan. Basa-basi perkenalan hanya akan menyebabkan penundaan, yang menyiksanya lebih lama.

”Suami saya selalu menjauh beberapa bulan terakhir ini.”

May mengangguk, disimaknya kalimat wanita itu dengan tenang.

Suami menjauh? Ah, kasus yang sangat umum. Entah berapa wanita datang padanya dengan problem serupa. Nyaris tak terhitung.

”Padahal, sudah saya lakukan segala yang terbaik. Tidak pernah sekali pun saya tampil dekil untuknya. Saya selalu berusaha tampil rapi, cantik, wangi, sungguh tidak kalah dengan rekan-rekan di kantornya yang keren-keren itu,” lanjut wanita itu.

Kegelisahannya langsung mengalir deras tak terbendung. Segala kamuflase penampilannya tak mampu menyamarkan gurat kegelisahan yang membebaninya.

”Mawar,” ucap May pendek, sebelum wanita itu usai menuntaskan luapan kegelisahannya.

”Mawar?” Wanita itu terkejut. ”Maksudnya?”

May terdiam sesaat, beberapa detik berlalu dalam hening. Ditatapnya lekat wanita gelisah itu. Lalu, dihelanya napas panjang.

”Suamimu tidak tahan dengan harum mawar dari parfummu. Bagi sebagian orang, aroma itu mungkin menyenangkan. Tapi, suamimu merasa ada sesuatu yang magis dari aroma itu, membuatmu menjadi seseorang yang tidak dikenalnya.”

”Saya mendapatkan parfum itu dari seseorang. Dia katakan justru ini yang akan membuat suami saya kembali pada saya.”

”Suamimu tidak pergi ke mana pun. Dia justru menunggumu untuk kembali.”

”Maksud Ibu?” 

”Kembalilah pada dirimu yang semula.”

”Tapi...,” wanita itu tercengang, bercampur bingung.

”Lupakan rekan-rekan sekantor itu. Mereka bukan pesaingmu. Mereka adalah rekan sekerja, para wanita karier yang harus tampil sesuai standar. Bidang pekerjaan mereka yang mensyaratkan aturan itu. Mereka tampil seperti itu bukan untuk menarik hati suamimu atau pria mana pun. Tapi, mereka tampil untuk karakter dan karier mereka sendiri.”

striku suka debaran jantungku, selalu disandarkannya diri pada dadaku, mencari denyut jantungku berdebar melewati liang telinganya. Tapi, jantungku tidak selalu mau berdebar untuknya. 

”Begitukah?”

”Sekarang, pulanglah. Lakukan mandi besar, lepaskan segala atri­but kamuflase ini. Suamimu sudah kenyang dengan segala kamuflase ini di lingkungan kerjanya. Karena itu, yang dia perlukan ketika berada di rumah adalah kesederhanaanmu, kenaturalanmu. Sesuatu yang biasa, dirimu apa adanya, sama seperti ketika dia men­cin­taimu sejak pertama kali bertemu.”

Wanita itu tertegun. Nyaris tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Tapi, ia tak berkata apa-apa.
May mengangguk. Ditepuknya lembut jemari wanita itu.

”Jangan risau dengan bau keringatmu. Suamimu bahkan masih menyimpan sapu tanganmu yang belum tercuci.”

Sesaat kemudian, dibukanya pintu untuk wanita itu, tidak memerlukan alternatif lain. Yang dia perlukan hanya jalan pulang, untuk kembali pada diri sendiri. Di sanalah suaminya menunggu.

Wanita itu masih belum selesai dengan keterkejutannya. Barangkali, dia tidak menyangka akan mendapatkan solusi penyelesaian masalah yang sedemikian mudah. Barangkali, dia merasa solusi itu terlalu sederhana, sangat tidak sepadan dengan kegelisahan yang selama ini mencengkeramnya. Tapi, ketika May membukakan pintu untuknya, disertai senyum yang menenteramkan, keyakinan memenuhi benak wanita itu, bahwa benar inilah jawaban yang dicarinya. Maka, dilangkahkannya kaki, menuju pada sesuatu yang dicarinya selama ini, yang ternyata tak pernah meninggalkannya.

Bersamaan dengan langkah pergi wanita itu, aroma mawar yang pekat memenuhi segala sudut ruang, perlahan mengalir keluar.

Tamu kedua adalah seorang pria berumur 60 tahunan. Tampil rapi dengan rambut uban tersisir rapi. Ajudannya tampak menung­gu di depan pintu. Dia bukan seseorang yang asing bagi May. Dia seorang tamu yang sudah berkali-kali datang, setiap kali tentu dengan persoalan berbeda. Entah apa yang membelitnya kali ini.

”Selamat siang, Ibu,” sapanya, menyalami May dengan jabat erat.

”Selamat siang juga.” May mempersilakan tamunya duduk. ”Rasanya, baru tempo hari datang. Ada masalah baru?”

”Saya kehilangan,” jawab tamu itu langsung.

”Apa yang hilang?”

”Uang lima juta rupiah. Saya ambil dari ATM, lalu lupa saya taruh di mana.”

May terdiam.

”Sudah saya cari di mana-mana, di mobil, di rumah, di kantor, semua kantong baju dan celana. Tapi, tak ketemu juga. Heran, uang itu seperti menguap begitu saja, padahal sudah ada dalam genggaman tangan saya!”

”Lalu?”

”Itulah, Bu. Saya yakin, hanya Ibu yang sanggup membantu saya menemukan kembali uang itu.”

”Hmm, menemukannya... barangkali, ya. Tapi, untuk mengembalikannya padamu, rasanya tidak,” gumam May, perlahan.

”Maksud Ibu?”

May terdiam sejurus lamanya, seakan membiarkan detik meng­alir dalam hening. “Agaknya uang itu bergerak mencari jalannya sendiri, untuk menemukan mereka yang memerlukannya,” katanya kemudian.

”Ibu, uang itu milik saya. Tentu saya sangat memerlukannya.”

”Kau masih memiliki uang yang lain, sementara mereka tidak.”

”Tapi, Ibu, sungguh, tolong saya. Katakan di mana uang itu?”

”Kau menaruhnya di atas atap mobil, lalu kau mencari kunci mobil. Dan, sesudah itu kau lupa. Uangmu beterbangan saat mobilmu melaju, dan di sana banyak orang tak berpunya, yang beruntung menemukan lembaran uang itu. Di antara mereka ada yang sudah tidak makan berhari-hari, ada yang perlu menebus obat di apotek, ada yang perlu melunasi tunggakan uang sekolah....”

”Ibu!” tamu pria itu nyaris menjerit.

May tersenyum samar. ”Bersyukurlah. Kau telah terpilih oleh Yang Mahakuasa untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Mereka bersyukur atas uang itu dan mendoakanmu semoga kau mendapat balasan setimpal.”

Tamu pria itu lemas seketika. Tubuhnya yang tegap berdasi, mendadak bagai luruh tanpa tulang.

”Ikhlaskanlah.”

”Tapi, ini sungguh tragis,” keluhnya, penuh penyesalan.

”Setiap orang akan mendapatkan sejumlah sesuatu sesuai bagiannya. Ketika Yang Mahaesa menganugerahkan kelimpahan, sesungguhnya Dia memberi kita kesempatan untuk berbagi. Tapi, ketika itu tak juga kita lakukan, maka Yang Mahaesa pula yang akan meng­ambil kembali kelebihan itu dengan caranya sendiri,” kata May, hati-hati.

”Begitukah?”

”Bersyukurlah bahwa cara yang dipakai untukmu sangat mulia, menjadikanmu berkat untuk menolong orang lain. Setidaknya, kalau mau, bisa saja berkat yang tak kau bagi itu, terambil melalui musibah atau sakit yang mungkin kau alami.”

Pria itu tercenung.

”Jadi, begitulah. Kau katakan tadi bahwa aku bisa membantumu mene­mukan uang itu. Dan telah kau lihat kini di mana uangmu berada. Tapi, ada sesuatu yang bernama keterbatasan. Itulah yang kita alami kini, se­hingga meski menemukannya, tidak berarti kau memilikinya kembali.”

Pria itu termangu, tampak termenung. Sesaat kemudian dia pamit dan pulang dalam diam. Entah apa yang berkecamuk dalam benaknya. May tidak tahu.

May menghela napas panjang. Tidak setiap orang mendapatkan penyelesaian sesuai keinginan masing-masing. Harapan sering kali jauh dari kenyataan. Rencana kadangkala menyimpang jauh dalam pelaksanaannya. May hanya berharap bahwa ’penglihatannya’ mampu memberikan alternatif sebuah jalan keluar, walau tidak selalu melepaskan jerat yang membelit. Itu saja.


                                                        cerita selanjutnya >>


Penulis : Sanie B. Kuncoro



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?