Wajar saja jika Raisa sempat krisis percaya diri. Ini untuk pertama kalinya ia mengikuti ajang pemilihan model. Ia pun nyaris tanpa pengalaman di dunia modeling. Namun, undangan untuk datang ke Gedung Femina, membangkitkan kembali rasa percaya dirinya.
“Waktu itu saya ditelepon untuk datang. Katanya akan ada proses seleksi finalis. Tak disangka, sampai di sana semua semifinalis yang diundang datang, dinyatakan sebagai 20 finalis Wajah Femina 2011. Saat itu rasanya tidak keruan. Kaget, sekaligus senang,” ungkapnya.
Raisa mengaku sudah mengenal Wajah Femina sejak kecil. Sang bunda, yang rajin membaca femina, yang memperkenalkannya. Melihat banyaknya alumni yang berprestasi, Raisa makin tertarik pada ajang pemilihan ini.
“Kredibilitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Lihat saja, alumninya banyak yang berprestasi. Dari sini saya yakin, saya akan mendapat banyak pengalaman, ilmu, dan teman-teman baru. Setelah merasakan sendiri, Wajah Femina bukan sekadar ajang berkompetisi. Banyak pembelajaran yang saya terima dari orang-orang hebat. Saya merasa sedang berada di gudang ilmu,” kata Raisa, yang mengagumi Nadya Mulya, Pemenang II Wajah Femina 2001.
Ada hal yang menorehkan kenangan manis untuknya selama mengikuti karantina. Raisa yang tidak pernah belajar akting, baru mengetahui kalau dirinya bisa akting, setelah mengikuti kelas akting yang dipimpin oleh aktor senior, Didi Petet. Tak disangka, Didi memberi tanggapan positf. “Saya suka akting kamu, emosinya dapat,” ujar Raisa, menirukan ucapan Didi. (f)