Tak lama setelah dinobatkan sebagai Pemenang Favorit Wajah Femina 2006, jalan karier sebagai presenter berita langsung terbentang di hadapan Ajeng Kamaratih (26). Sebagai seorang jurnalis, ia berharap bisa mengedukasi orang Indonesia agar bangga dan mau memelihara budayanya.
Sejak remaja, Ajeng telah memendam impian untuk menjadi seorang pembaca berita atau jurnalis. “Saya suka pekerjaan jurnalis karena memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang. Mulai Raja Sultan Hamengkubuwono X, para pesepak bola asing, penyanyi R&B asal Amerika, Bryan Mc Knight, hingga orang-orang dari kalangan bawah,” tutur wanita yang mengidolakan Putra Nababan ini.
Menyadari bahwa modeling bisa menjadi penunjang kariernya sebagai presenter, wanita berwajah manis ini pun berusaha menggali potensi dirinya lewat ajang pemilihan Wajah Femina tahun 2006 lalu. ”Saya sadar Wajah Femina (WF) adalah paspor saya untuk ‘terbang’ menggapai banyak kesempatan. WF bukan sekadar ajang pencarian model, tapi menjadi kampus bagi saya untuk menggali banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa mengembangkan diri saya,” tuturnya, senang.
Berbekal ilmu hasil penggojlokan selama karantina, Ajeng yang terpilih sebagai Pemenang Favorit pun mulai menapaki kariernya sebagai model. Apa yang ia dapatkan selama menjalani kehidupan sebagai model, menurut Ajeng, amat membantunya sebagai model, bahkan hingga kini ketika ia menjadi presenter. “Saya jadi tahu cara berpose dan menampilkan angle terbaik wajah saya, membuat mata ‘berbicara’ dan tampil luwes di depan kamera,” ungkap Ajeng yang berkulit sawo matang ini.
Kurang dari setahun malang-melintang menjadi model di berbagai majalah dan membintangi 20 iklan, tawaran menjadi presenter berita akhirnya datang kepadanya. “Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan,” ucapnya, senang. SCTV memintanya ikut casting sebagai presenter berita di program Liputan 6. Ajeng pun lolos casting dan dipercaya membawakan sesi ‘Hukum dan Kriminal’ di program Liputan 6 Pagi SCTV, selain juga turun ke lapangan sebagai reporter.
“Satu pengalaman yang tak bisa saya lupakan adalah ketika pertama saya ditugaskan ke lapangan. Saat itu, saya harus ikut tim SAR mencari jenazah yang sudah hanyut selama 5 hari di Sungai Ciliwung. Tentu saja saya takut, tapi saya harus menekan emosi saya dan memberanikan diri ikut nyemplung ke sungai yang kotor itu,” ceritanya.
Sekalipun mimpinya telah menjadi kenyataan, Ajeng masih merasa tak puas. Ia ingin mengeksplorasi dirinya lebih dalam lagi. Ia mengikuti pemilihan Miss Indonesia pada tahun 2008. “Saya menantang diri karena ingin memiliki kesempatan untuk mewakili bangsa di forum internasional,” ungkapnya. Walau tak berhasil mewakili Indonesia, ia cukup bangga bisa masuk dalam urutan 5 besar di ajang pemilihan bergengsi ini. Tak lama setelahnya, Ajeng pun dipinang oleh RCTI untuk membawakan siaran berita di program Seputar Indonesia.
Enam tahun menggeluti dunia news presenting, Ajeng yang sejak tahun 2009 menjadi news anchor di RCTI akhirnya berhasil masuk 10 besar nominasi peraih kategori Presenter Berita Terfavorit di ajang Panasonic Gobel Awards 2012.
“Perjuangan saya meraihnya bisa dibilang tak mudah. Dahulu, saat baru menjadi presenter, saya sering dimarahi oleh Rosianna Silalahi karena sering salah baca atau ‘blank’ saat reportase live di depan kamera. Tapi, hal itu justru makin menantang saya untuk membuktikan diri,” ujar wanita yang fasih berbahasa Inggris, Prancis, dan Jerman ini.
Meski sekarang sudah dikenal, ia tak ingin sekadar menyajikan informasi dengan baik kepada pemirsanya, tapi juga memendam harapan bisa memberi kontribusi yang bermanfaat bagi bangsa. “Saya ingin sekali menanamkan kecintaan pada budaya Indonesia,” ungkapnya. Menurut Ajeng, Indonesia begitu kaya akan keragaman budaya, tapi sayangnya belum banyak orang Indonesia yang mengapresiasinya, apalagi memeliharanya.
“Contohnya saja, ada berapa banyak tarian tradisional di Indonesia dan seberapa banyak dari kita yang menguasainya?” katanya. Merasa prihatin dengan kondisi ini, Ajeng pun berniat ingin memperbanyak liputan-liputan yang banyak mengangkat tentang budaya Indonesia. “Ini penting agar budaya kita dicintai dan tetap lestari,” katanya, mantap.
Ajeng tak main-main dengan rencananya. Untuk mendukung obsesinya, ia sampai mengambil cuti kerja dan terbang ke Paris bulan September lalu untuk menempuh studi singkat selama 6 bulan tentang art, literature, and history di Sorbonne University.
“Selain ingin belajar tentang seni dan sejarah Eropa, saya juga jadi tahu bagaimana cara mereka menjaga peninggalan bersejarah dan melestarikan budayanya. Orang Eropa sangat bangga akan budayanya sehingga mereka betul-betul menjaganya. Ini yang belum menjadi perhatian bangsa kita,” tutur wanita penyuka traveling ini. Dengan membawa pulang predikat ‘excellent’ dari Sorbonne, Ajeng merasa siap untuk menerapkan apa yang dipelajarinya selama berada di Negara Eiffel itu, di tanah air.