Pasangan yang berbeda keyakinan, biasanya belum merasakan adanya kendala selama masa pacaran, apalagi bila tinggal di luar negeri. Di negera kita biasanya kendala baru mulai bermunculan ketika mereka memutuskan untuk menikah. Selain datang dari keluarga, pihak negara juga tidak mendukung pernikahan beda agama. Bila adik sudah yakin akan menikah dengan kekasihnya itu, sebaiknya kendala ini diselesaikan dulu. Adik Anda bukan hanya perlu meyakinkan ibu Anda untuk menerima kekasihnya yang berbeda agama, tetapi juga memikirkan jalan keluar agar perkawinan ini sah secara hukum.
Sedangkan menurut Monty Satiadarma, bagi sebagian orang, perbedaan keyakinan agama tidak menjadi masalah, namun bagi sebagian lain hal ini merupakan masalah mendasar. Alangkah lebih bijaksana jika adik Anda sendiri yang berbicara mengenai masalah ini kepada ibu Anda, bukan Anda. Bukankah ia yang berniat membina rumah tangga, dan bukankah ia, dengan segala kedewasaannya, telah memiliki pertimbangan sendiri akan pilihan hidupnya. Anda perlu menyampaikan kepada adik, bukan Anda tak ingin menjadi ‘penyambung lidahnya’, namun Anda memercayai dirinya sebagai individu dewasa yang memiliki jalan hidup atas pilihannya, dan ia pulalah yang harus bertanggung jawab atas segala pilihannya.
Jika Anda gagal ‘membujuk’ Ibu, Anda yang disalahkan adik. Jika Anda berhasil membujuk Ibu dan kelak ada masalah dalam hidup adik (walau tentu tidak diharapkan), Anda yang akan disalahkan oleh Ibu. Jadi, lebih baik tidak mengambil alih keputusan tindakan hidup seseorang, karena masing-masing individu memiliki tanggung jawab atas diri dan keputusan hidup masing-masing.