Anemia dapat terjadi pada siapa saja. Namun, secara statistik wanita dan orang tua lebih berisiko mengalami anemia dibandingkan anak-anak maupun pria. “Wanita rentan terhadap anemia karena mengalami kehilangan darah tiap bulannya melalui menstruasi. Selain itu, wanita juga membutuhkan sel darah lebih banyak pada saat hamil. Orang tua juga berisiko mengalami anemia karena asupan gizi yang tak lengkap dan kondisi-kondisi kesehatan lainnya,” ungkap dr. Luciana B. Soetanto, MS, SpGK.
Menurut dr. Luciana, pola makan yang tidak sehat sehingga membuat tubuh kekurangan asupan zat dan nutrisi penting merupakan penyebab umum dan utama anemia. “Diet terlalu ketat, kurang makan, kurang gizi, konsumsi makanan yang kurang bervariasi, hingga pantang makan makanan tertentu memang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita anemia,” ujarnya.
Berikut ini adalah zat-zat gizi utama yang diperlukan untuk pembentukan darah:
- Protein. Sumber: daging sapi, daging ayam, telur, susu, hingga tahu.
- Zat beri (fe). Sumber: daging sapi, daging ayam, kuning telur, bayam, ubi, kacang polong, kacang merah, sawi, brokoli, dan kentang.
- Vitamin B12. Sumber: daging kambing, daging ayam, kerang, salmon, kepiting, tiram, telur, sereal, keju, dan susu.
- Folat. Sumber: sayuran berdaun hijau tua, asparagus, brokoli, jeruk, pepaya, kacang-kacangan, avokad, labu, jagung, dan bit.
Jika Anda memilih untuk membatasi atau tidak mengonsumsi jenis makanan tertentu, seperti protein hewani atau daging merah, Anda harus mengganti kebutuhan nutrisi atau zat gizi dari jenis-jenis makanan yang Anda batasi dari sumber lainnya.
“Pola makan yang tepat harus berdasarkan gizi yang seimbang. Jenis makanan yang dikonsumsi pun harus bervariasi agar kita memperoleh berbagai zat gizi lengkap yang dibutuhkan tubuh. Jadwal makan pun harus teratur agar makanan yang kita konsumsi dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan fisiologi tubuh,” tutur dr. Luciana. (f)