Memiliki anak berkebutuhan khusus, tentu menyita waktu dan perhatian. Sayang, tidak semua pasangan mau memberikan pengertian yang sama. "Anak adalah berkah Illahi. Jika ia berkebutuhan khusus, tentu menjadi tanggung jawab orang tua untuk dapat merawatnya dengan baik. Ketika pasangan hidup Anda kurang bertanggung jawab atas anak Anda, jangan kemudian Anda merasa terbebani dengan berkah itu," ujar psikolog Monty Satiadarma.
Jangan pula meninggalkan anak karena ia merupakan tanggung jawab Anda untuk membesarkan dan mengasuhnya. Tak layak ia menanggung semua akibat keterbatasannya dan ditinggalkan oleh orang tua. Suami boleh jadi menjauh karena merasa terabaikan akibat Anda terlalu memprioritaskan anak. Ia cemburu dan ingin lebih diperhatikan oleh Anda. Ajak suami duduk berdua untuk menyampaikan masalah dan harapan Anda dalam membangun rumah tangga dan berperan sebagai orang tua yang semestinya.
Bersamalah membina keluarga dan hindari sikap menyalahkan satu sama lain. Suami juga punya peran yang dibutuhkan anak dalam tumbuh kembangnya. Jangan sungkan untuk meminta bantuan suami bila Anda memerlukan. Anda wajib melibatkan suami, minta bantuannya, bahkan sesekali minta untuk menggantikan Anda ketika Anda membutuhkan istirahat. Dengan demikian, suami bukan saja bisa mengenali anaknya lebih baik , tetapi juga merasa diri dibutuhkan dan bermanfaat. Anda harus sabar dalam mengajak keterlibatan suami dalam pengasuhan anak. Mintalah pengertian darinya. Luangkan waktu dan berikan perhatian kepada suami di sela mengasuh anak. (f)