Elen percaya bahwa keajaiban Tuhan-lah yang menyelamatkannya tadi. Ia tersadar kembali ketika suaminya telah jatuh tertidur tanpa sempat mengganti baju dan melepas sendal. Meski asin darah terasa begitu kental di mulutnya, Elen bersyukur tidak ada darah yang membasahi pahanya. Itu berarti, janin dalam perutnya baik-baik saja. Mengabaikan rasa nyeri dan sakit yang mendera sekujur tubuhnya, Elen mencoba merenungi kembali apa yang telah terjadi.
Sesungguhnya, Elen takut kekhawatiran Virlie benar-benar terbukti, bahwa anak-anaknya mungkin saja akan hidup menderita akibat kekasaran Yonas. Tiba-tiba Elen merasa seolah terjebak dalam sebuah ruang sempit. Ia dan anak-anak berada di tengah-tengah, siap terimpit. Haruskah ia tetap diam di tempat, membiarkan keadaan membunuh mereka bersama-sama, ataukah ia harus memilih mencari jalan keluar dari sana?
Di tepi harap, Elen mengusap perutnya yang membuncit. Ia sadar harus melakukan sesuatu demi menyelamatkan anak-anaknya, terutama janin yang belum lahir. Tapi, apa dan bagaimana, itulah yang coba dipikirkannya sekarang. Hingga tiba-tiba sesuatu membersit sekelebat. Wanita itu tahu apa yang harus dilakukannya esok hari.
Agenda Andreas Leo (Merauke, minggu ketiga Maret)
Pagi
Aku sangat menikmati hari-hari bersama kedua tamuku. Tidak ada kerepotan berarti atau kekacauan tidak diinginkan, seperti yang semula kutakutkan. Justru banyak pengalaman dan pelajaran yang kudapat dari mereka.
Dari Anggi, aku mendapat cerita yang lebih banyak tentang keadaan di luar sana, Jakarta dan tempat-tempat lain. Ia berkata bahwa kemiskinan tidak hanya hadir di kotaku, tapi juga di daerah lain, hingga kota besar. Perkataan itu sempat membuatku berpikir bahwa jika orang miskin yang ada di kota saja makin banyak dan tidak dipedulikan, bagaimana halnya dengan orang-orang daerahku yang tinggal di ujung pa¬ling timur? Adakah perubahan bisa sampai ke tempat kami yang jauh ini?
Untunglah aku juga mengenal Virlie. Pada sosoknya aku melihat harapan itu ada. Meski ia dari kota besar dan mungkin sempat terkejut ketika pertama kali melihat pemandangan daerahku, aku merasakan kepedulian yang tidak palsu dari sikapnya.
Meski kulitnya berbeda dari kami, aku tetap bisa merasakan gejolak pengorbanannya yang besar. Wajarlah jika aku kemudian melihat Virlie serupa bulan purnama yang dengan sinar putih pucatnya mampu memberi penerangan pada setiap benda di sekelilingnya. Mengubah gelap yang menakutkan menjadi remang yang menghangatkan. Namun, layaknya purnama, tentu saja akan selalu ada mendung yang berusaha menghalangi. Mendung itu datang hari ini.
Berawal dari keinginan Virlie mengunjungi ibu muda yang sedang hamil tua itu di rumahnya untuk pamit. Akhir-akhir ini, Virlie dan ibu bernama Elen itu memang terlihat makin akrab, meski di kunjungan terakhir kami dua hari lalu, aku sempat melihat Elen menangis.
Kata Virlie, ibu itu menangis karena baru saja menceritakan kisah hidupnya yang pahit, termasuk perlakuan sang suami yang selalu kasar. Aku masih ingat betapa Virlie berusaha menahan emosi, yang kemudian berubah menjadi begitu bersemangat saat berkata bahwa ia memberi saran pada Elen untuk melaporkan perbuatan suaminya pada kepala kampung atau polisi. Mendengar hal itu, tiba-tiba saja aku dihinggapi sebuah firasat tidak enak. Ada apa ini?
Kami tiba di rumah Elen lebih siang dari biasanya. Seperti yang sering kulakukan, setelah memarkir mobil tepat di bawah pohon mangga yang agak menjorok hingga ke luar pagar, aku segera menyusul langkah Virlie dan Anggi. Jika biasanya Lius dan Eva langsung berhenti bermain dan berlari menyambut kami, kali ini halaman rumah tampak sepi. Tanpa diminta, firasat tak enak itu muncul lagi. Belum sempat aku menyimpulkan apa yang bakal terjadi, kudengar ada pekik amarah yang pecah dari dalam rumah, menyusul seorang pria Komen berwajah geram berlari keluar sambil memegang busur dan anak panah yang siap dilepaskan ke arah kedua tamuku. Ya, Tuhan!
Selanjutnya yang kuingat adalah aku berusaha menenangkan kemarahan pria itu, sembari memberi kesempatan pada Anggi dan Virlie untuk berlari menjauh dan bersembunyi di mobil. Dalam kepanikan luar biasa, aku masih sempat menangkap pesan kemarahan pria itu yang ternyata suami Elen. Rupanya, ia marah pada kedua tamuku yang dianggap telah meracuni pikiran istrinya, hingga berani kabur dari rumah dengan membawa ketiga anaknya.
Dari perkataannya pula, kutahu bahwa semalam ia menghajar istrinya, hanya karena terlambat membuka pintu. Detik berikutnya, aku berharap, semoga Elen mengikuti saran Virlie.
Siang
“Andreas, aku mohon tolong kau cari tahu kabar tentang Elen dan anak-anak. Mereka ada di mana dan bagaimana keadaannya, beritahu aku: pagi, siang, atau malam. Aku benar-benar khawatir.”
“Tenang saja, Kakak. Mungkin ibu itu hanya pergi ke rumah keluar¬ganya atau saudara. Percayalah, dia tidak akan pergi jauh.”
Dengan memegang janji bahwa aku akan mencari ibu muda itu beserta ketiga anaknya, kubawa mobil meninggalkan bandara, menjauhi titik hitam pesawat yang ditumpangi kedua tamuku, yang terbang membelah kubah langit biru Merauke menuju Jakarta.
Langit Jakarta
Ia membiarkan senyap merayap menguasai waktu. Dari balik jendela, pemandangan angkasa dibiarkannya mengintip ke dalam, ia tak lagi tertarik menikmatinya. Virlie tak pernah menyangka akan meninggalkan Merauke dengan langkah yang sangat.
Jika bukan karena Elen yang tiba-tiba menghilang, mungkin ia sudah duduk di pesawat dengan kepala dipenuhi angan akan berjumpa mereka suatu saat nanti. Bahwa ia telah memantapkan hati untuk meninggalkan kehidupannya di Jakarta, pindah ke Papua. Sebuah keputusan yang baru semalam terpikir olehnya, saat menyadari betapa kehadirannya sangat dibutuhkan di tempat itu, selain untuk membuktikan kebulatan tekadnya pada Papi. Tapi, setelah kejadian ini, Virlie merasa perlu memikirkan langkahnya kembali. Apakah ia masih dapat berkata bahwa ia sangat dibutuhkan jika orang-orang yang ingin dibantunya, justru berbalik menyalahkan bantuannya?
Teringat Virlie perkataan Andreas sepulang mereka dari rumah Elen tentang kemarahan Yonas. Juga teringatnya omelan kesal Anggi yang berkata bahwa semua itu tidak akan terjadi, jika saja Virlie tidak terlalu mencampuri urusan keluarga Elen. Benarkah ia bersalah dalam hal ini?
Virlie tidak yakin. Rasanya, tidak ada yang salah dengan bantuan yang diberikannya pada Elen. Ia berusaha memberikan kebebasan pada Elen; membuka mata wanita itu agar dapat melihat pilihan lain di luar sana. Juga membuka pikirannya agar dapat menemukan yang lebih baik bagi dirinya. Dengan begitu, bagi Virlie, kejadian ini adalah sebuah risiko yang memang harus terjadi. Risiko dari sebuah kebebasan. Tapi, mengapa rasa sesal itu ada?
Di bawah mendung langit Jakarta, pesawat akhirnya mendarat sempurna. Keceriaan terpancar di wajah kusut para penumpang yang berjalan menyusuri jalan kedatangan yang lengang dan panjang. Keceriaan Anggi sedikit menulari Virlie, ketika keduanya mencapai pelataran bandara dan duduk di dalam mobil jemputan mereka yang dingin dan nyaman.
Selenting dering pendek tanda SMS masuk menyadarkan Virlie bahwa ia sedang menunggu sesuatu. Cepat diambilnya ponsel lipat itu dari dalam tasnya, membuka dengan agak tergesa, dan langsung terdiam saat membaca sebuah pesan pendek yang terpampang di layar.
“Elen ditemukan di ladang belakang gereja. Meninggal karena perdarahan. Anak-anak selamat, kecuali yang belum lahir. Sekarang dirawat di panti milik gereja. Pemakaman Elen dan bayinya baru besok. Semoga Tuhan memberkati.”
Dalam kebisuan, Virlie membiarkan kesedihan merajam hatinya. Jika langkah yang diambilnya sudah benar, mengapa kehilangan itu harus terjadi? Antara sadar dan tidak, ia merasa sedang melihat mata Elen yang berbinar bahagia dalam kepalanya.
Elen, inikah kebebasan yang kau cari?
Tiba-tiba Virlie merasa hatinya sunyi. Segera ia menyadari, perjuangannya untuk Elen telah berakhir sampai di sini, tetapi tidak untuk yang lain. Bukankah memang seperti itu jalan yang telah ia pilih? (tamat)
Penulis: Anindita Siswanto T.