Tiba-tiba saja Virlie merasa begitu munafik. Ia merasa kedatangannya ke tempat itu, untuk memonitor program kerja di lapangan dan mengumpulkan data terbaru, tak ubahnya seperti sebuah perjalanan wisata. Bayangkan saja, ia hanya menjadi tamu kehormatan dari pemerintah daerah setempat yang mengajaknya berjalan keluar-masuk distrik untuk menyaksikan kemajuan yang dicapai, bukannya menjadi bagian dari orang-orang yang peduli dan mau mengusahakan kemajuan itu bersama-sama.
Ia juga hanya memberi pengarahan di sejumlah pertemuan tentang teori HAM, pentingnya pendidikan, apa itu sanitasi dan imunisasi, hingga bahaya HIV-AIDS, tapi tidak turun langsung ke lapangan untuk melihat kenyataan yang ada. Ia hanya mendengarkan dan menuliskan keluhan orang-orang itu dalam laporan, bukannya langsung membantu dengan tangan dan tenaganya yang masih kuat.
Tanpa diduga, di saat itulah sosok tersebut justru muncul dan memikat simpati Virlie. Sosok seorang ibu muda yang wajahnya menampung derita dan air mata, yang entah mengapa serasa begitu akrab dan membuat Virlie berpikir bahwa ia bisa menjangkau ibu muda itu dengan kedua tangannya. Meski ia terpaksa harus bertentangan dengan Anggi.
“Menurutku, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan kehidupan orang-orang di sini, deh, Vir. Tugas kita kan hanya sebatas memonitor program, mengumpulkan data terbaru, dan sesekali memberi pengarahan di pertemuan. Sudah itu, selesai! Bukan membuka jasa konsultasi atau curhat. Kita kan bukan tenaga konselor. Lagi pula, waktu kita di sini tidak banyak, Virlie.”
“Ya, aku tahu. Tapi, aku hanya ingin membantu, Nggi. Apakah itu salah?”
“Tidak juga. Tapi, pendekatanmu kadang-kadang terlalu personal, Vir. Bisa-bisa malah mengundang masalah. Kau kan tahu, di sini kita dianggap asing. Orang luar. Karena itu, lebih baik ikuti saja prosedur yang biasa. Masukkan keluhan mereka dalam laporan dan biarkan orang pusat yang menindaklanjuti.”
“Tapi, Nggi....”
Namun, Anggi segera berlalu, seolah bisa membaca gelagat Virlie yang ingin mengajaknya berdebat.
Ia seorang ibu muda yang sedang hamil tua. Namanya Elen. Bertubuh agak gemuk dengan tulang yang besar dan tampak kuat. Berwajah lebar dengan raut yang keras. Saat tangannya diulurkan ragu-ragu untuk berjabatan, telapaknya yang kasar cukup menandakan kehidupan macam apa yang telah dijalaninya.
Pertama kali bertemu, wanita itu tidak banyak bicara. Ia tampak takut dan menjaga jarak. Meski begitu, matanya yang tajam tapi menyimpan bayang keletihan, sudah bercerita banyak. Juga bengkak yang tidak berusaha disembunyikan di sebelah mata dan pipinya, yang tampak ungu di atas legam kulitnya, menjadi detail yang bermakna. Tanda kekerasan itu seolah lumrah singgah di wajah Elen.
Sembari menahan iba, Virlie sadar bahwa Elen adalah salah satu dari sekian banyak wanita korban penindasan. Sejak menikah di pertengahan usia belasan, ibu itu mengaku telah melahirkan enam kali tanpa bantuan siapa pun. Sebuah pengakuan yang membuat Virlie sempat berdecak kagum, sebelum kemudian berubah prihatin.
Di beberapa pertemuan berikutnya, barulah Virlie tahu bahwa Elen juga dilimpahi tugas dan kewajiban yang bertumpuk-tumpuk tanpa ada yang menghargai, termasuk sang suami yang malah sering menganiayanya. Hal itu membuat hati Virlie miris, meski Elen sendiri berkata dengan yakin, “Saya tidak apa-apa, Ibu. Saya sudah biasa. Yang penting saya punya paitua ingat pulang sudah. Ini hati langsung tenang.”
“Tapi, tidak bisa begitu! Suami Bu Elen tidak berhak menyakiti Ibu apa pun bentuknya.”
Advertisement
Virlie yang merasa tidak terima, lalu mencoba menjelaskan apa saja hak seorang wanita dalam keluarga dan masyarakat, dan bahwa juga sudah ada undang-undang yang melindungi kaum wanita dari segala bentuk kekerasan. Namun, di akhir penjelasan yang panjang-lebar itu, reaksi yang diterima Virlie dari Elen justru membekukan lidahnya.
“Biar sudah, Ibu. Biar saya punya Tuhan tampung saya punya air mata dan sakit ini. Saya yakin Dia sedang lihat ke bawah dan selalu ada untuk bantu kitong yang susah.”
Seketika Virlie sadar mengapa Elen terasa akrab baginya. Pada wajah yang letih itu ia seolah bisa melihat wajah Mami. Wajah keduanya sama-sama menyimpan nestapa yang berat, sekaligus meronakan pengorbanan yang besar. Keduanya sama-sama terlihat tegar di luar, tapi rapuh di dalam. Virlie tahu pasti, kepasrahan dan ketabahan yang mereka tunjukkan tidak lebih dari bentuk pengingkaran dan penindasan terhadap perasaan sendiri.
Namun demikian, Virlie sangat berharap E