Di luar kamar, suasana malam Minggu perlahan memudar. Dari jendela yang tidak tertutup rapat, Virlie membiarkan angin membawa masuk aroma laut bercampur alkohol. Tiba-tiba, terdengar seorang pemabuk berteriak keras mengajak siapa pun menari. Namun, yang menjawab hanya detak jam dinding berseling desir kertas-kertas yang dibuka tergesa. Virlile kembali berpacu dengan malam.
Agenda Andreas Leo
Merauke, Maret minggu pertama
Hari ini aku menemui orang-orang dari Jakarta itu lagi. Mereka datang beberapa hari lalu atas nama sebuah lembaga yang membina yayasan sosial lokal tempatku bekerja. Aku menjemputnya sendiri di bandara. Aku sangat bersemangat, karena ketua yayasan memberi tahu bahwa keduanya wanita. Dan makin bersemangat, ketika melihat keduanya sama-sama cantik.
Wanita yang satu kukatakan cantik. karena menurutku wajahnya mirip salah satu artis sinetron idolaku. Bermata kenari, berhidung mancung, dan berbibir sensual. Bedanya, ia berkulit cokelat terang dan berambut sebahu. Saat kami berkenalan, ia tampak agak canggung dan hanya memberiku senyum sekadarnya, sambil menyebut nama, “Anggi.”
Wanita yang satu lagi bernama Virlie. Menurutku ia cantik karena berkulit putih mulus. Saking mulusnya, aku tidak menemukan setitik pun noda atau jerawat di wajahnya yang berhias kacamata. Berbeda dari Anggi, tamuku yang ini mempunyai mata serupa garis, yang entah bagaimana caranya akan tampak hilang jika ia tertawa. Jika dibandingkan dengan Anggi, Virlie tampak lebih bersahabat. Aku senang mengenalnya.
Pagi ini selepas dari gereja, aku langsung menjemput keduanya di hotel dekat jalan besar. Seharusnya, aku libur di hari Minggu. Menggunakannya untuk beristirahat di rumah atau berjalan-jalan dengan teman. Tapi, demi menemani para tamu itu, terpaksa aku tetap bekerja. Untunglah, tugasku tidak terlalu berat. Hanya menjadi pemandu mereka sekaligus sopir dan penerjemah bahasa setempat jika diperlukan.
Sesampai di hotel, kedua tamu itu telah menunggu di lobi. Setelah bertukar sapa dan kabar sebentar, Virlie menjelaskan rencana kami hari itu. Tujuan pertama adalah menghadiri sebuah pertemuan rutin di salah satu distrik dekat pantai. Pertemuan itu merupakan salah satu program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan yayasan tempat kerjaku bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Ini pertemuan ketiga kami dengan beberapa kelompok wanita di sana. Semula, para mama (sebutan untuk wanita tua) bergegas pulang, begitu melihat si pembicara bukan orang yayasan yang mereka kenal, melainkan dua orang baru dengan penampilan khas kaum pendatang.
“Mama, jangan pulang dulu! Ayo, torang (kita) kumpul lagi. Mereka mau bicara.” Aku ikut membujuk para mama yang berhamburan keluar dari pintu.
“Penting ka?” tanya beberapa mama dengan sinis.
“Tentu saja. Mereka itu tamu yayasan dari Jakarta.”
Tapi, ternyata jawaban itu malah menyulut kesal mereka.
“Tong tra (tidak) mau dengar! Dong (mereka) pasti cuma mau tipu-tipu kitong.”
Kalimat mereka membuatku terpana sesaat. Aku tahu sikap mama-mama tersebut sangat beralasan. Dulu pun aku begitu. Pengalaman hidup telah memberi pelajaran pada kami untuk tidak lagi terlalu percaya pada setiap orang luar.
Dulu sekali, kami pernah sangat percaya pada mereka, bahwa mereka datang sebagai tamu yang baik. Namun, apa yang terjadi kemudian? Mereka malah menjarah seluruh milik kami. Membuat kami terusir dan terpinggirkan di kampung sendiri. Membuat kami miskin di tengah limpahan kekayaan alam tanah kami. Sungguh mereka pendatang yang tidak tahu adat!
Namun, berbeda dari mama-mama itu, aku telah mencapai suatu kesadaran setelah bergabung dengan yayasan sosial tempatku bekerja sekarang. Di sana, pikiranku mulai terbuka. Aku sadar bahwa masih ada orang luar yang betul-betul peduli pada nasib kami. Mereka mau membagi pengetahuannya dan memberikan pelayanan atas dasar solidaritas dan kemanusiaan.
Yah, walau kurasa mereka tidak akan pernah bisa mengerti penderitaan kami, tapi uluran tangan itu sebaiknya diterima. Bukankah rakyat daerahku harus maju dan terpelajar agar bisa bersaing dan tidak dibodohi?
Akhirnya, penolakan para mama di hari itu berhasil diatasi, ketika beberapa rekan seyayasan turun tangan. Mama-mama itu diyakinkan bahwa kedua tamuku akan memberikan pengarahan tentang banyak hal yang berguna bagi mereka. Benar saja, ketika pertemuan mulai berjalan, para mama tampak serius memperhatikan penjelasan dari Virlie dan Anggi, yang disertai pemutaran slide show. Hari itu, kulihat rona lega di wajah kedua tamuku.
Kembali ke pertemuan hari ini.
Sebenarnya, semua akan berjalan lancar seperti biasa seandainya tamuku yang bernama Virlie tidak tiba-tiba tertarik bertanya tentang salah satu anggota pertemuan yang tidak hadir. Seorang ibu muda yang dihapalnya sedang hamil besar, dengan sepasang kaki yang bengkak, dan selalu membawa tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil di setiap kali pertemuan.
“Mungkin dia sakit, Ibu,” jawab seorang wanita yang menggendong balita tanpa baju.
“Sakit apa?” tanya Virlie, prihatin.
Sesaat, wanita itu terdiam seakan berusaha mencari kata yang tepat, “wajahnya dipukul suaminya. Langsung bengkak.”
“Apa?! Dipukul? Oleh siapa?” seru Virlie kaget.
Aku mengangguk pelan, “Suaminya. Mungkin dia sedang mabuk. Kejadian begitu sudah biasa di sini.”
Tamuku malah merespons dengan sebuah perintah baru.
“Andreas, pulang nanti kita ke rumah ibu itu. Aku ingin sekali menjenguknya.”
Rumah itu beratap rumbia. Lantainya dari tanah yang dilapisi debu kaki campur keringat. Aku bisa menebak bagaimana isi rumah itu, juga keadaan penghuninya.
Meski kehidupan keluargaku agak lebih beruntung karena ayahku seorang pegawai negeri, pemandangan yang sama tetap aku temui di rumah beberapa teman, tetangga, dan sejumlah saudara. Pemandangan kemiskinan dan penderitaan yang meraya. Wajar saja, memang begitulah nasib sebagian besar rakyat tanahku.
Dari enam orang anak yang sedang bermain di halaman, seorang bocah laki-laki berperut buncit dan bertelanjang kaki berkata bahwa yang kami cari adalah ibunya. Ia pun berlari ke belakang rumah, dan tak lama kemudian membawa seorang wanita hamil dan berpenampilan kusut di belakangnya.
Aku tahu, betapa terkejut ia saat pertama kali melihat kami, terutama kedua orang tamuku. Bisa kutebak pula isi hatinya yang pasti langsung disergap rasa takut. Ia seolah mencoba menebak-nebak kemungkinan salah apa yang telah diperbuatnya. Begitulah sorot matanya berbicara. Namun, sapa hangat dan senyum ramah Virlie membuatnya terkesima. Apalagi, ketika tamuku itu mengulurkan tangannya yang menawarkan persahabatan.
Kunjungan kami ke tempat itu tidak lama. Selanjutnya, perjalanan kembali ke jadwal semula: menghadiri pertemuan demi pertemuan, mengunjungi beberapa distrik untuk mengambil data, singgah sebentar di rumah seorang pejabat daerah untuk jamuan makan malam, sebelum akhirnya kembali ke hotel.
Untuk hari ini tugasku telah selesai. Semoga selanjutnya semua berjalan lancar dan tamuku tidak lagi memberi perintah macam-macam. Bukannya aku enggan mengantar mereka ke sana-kemari, yang kutakutkan hanyalah kalau keduanya terlibat masalah dengan penduduk setempat.
Entah mengapa, aku mengkhawatirkan Virlie.
Penulis: Anindita Siswanto T.