Buyung M. Rizal adalah pria di balik tersohornya hidangan ayam pop. Sejarah makanan legendaris Kota Bukittinggi ini dimulai sekitar tahun 1963, saat dia dan ayahnya memperkenalkan lauk tersebut di Rumah Makan Family Benteng Indah.
Terhitung sudah lebih dari lima dekade dilewati ayam pop. Nama besarnya sanggup mendatangkan turis lokal dan asing yang penasaran dengan rasanya. “Tiap hari kami mengolah sekitar 100 ekor ayam kampung untuk dijadikan ayam pop,” tutur Rizal, yang sehari-harinya masih rajin memantau stok makanan di etalase restorannya.
Rizal cakap menjaga konsistensi rasa, sehingga popularitas ayam pop tetap lestari. Ini juga yang membuatnya kerap kedatangan beberapa orang dari luar Sumatra Barat yang ingin berguru langsung kepadanya.
Jangan sedih bila mendapati ayam pop tersaji dalam kondisi sudah tidak panas. Daging ayam yang lembut dan tidak kering masih bisa dinikmati maksimal. Bumbunya lebih gurih karena dimasak bersama air kelapa. Dijamin, satu potong tidak puas. Apalagi bila disantap bersama sambal tomat yang agak kecut dan daun singkong.
Dadiah (sejenis yoghurt padat hasil fermentasi susu kerbau) cocok dijadikan penutup jamuan istimewa ini. Walau aroma fermentasinya agak tajam, ini olahan langka, membuat bangga siapa pun yang pernah melihat dan mencobanya. Sendokkan bersamaan dengan sirop gula jawa untuk meredam rasa asam. Amboi, lemak nian!**
Alamat: Jl. Yos Sudarso No.4, Bukittinggi, Sumatra Barat.
Telp: (0752) 21102.
Jam buka: 08.00-21.00 WIB.
Harga*): Rp4.000-Rp35.000.
Suasana: Rumah makan sederhana dengan eksterior rumah bagonjong.
*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.
**) Enak sekali.