Berkunjung ke Tokyo selama tiga hari, dalam bayangan saya, hanya akan melihat kehidupan kota saja. Nyatanya, selain melihat kesibukan masyarakat Jepang perkotaan, impian saya untuk melihat Gunung Fuji dan keindahan alam Negeri Sakura terbayar juga saat berkunjung ke Yamanashi. Di sana, saya menyaksikan sebuah desa khas Jepang yang sempat ‘hilang’ setelah dilanda longsor, memandang hamparan taman lavender nan luas, serta mencicipi Fujimabusi, hidangan khas Yamanashi. Kalau berkunjung singkat ke Tokyo, tidak ada salahnya meluangkan waktu satu hari untuk berkunjung ke wilayah beribu kota Kofu ini.
Terletak di Pulau Honsu, pusatnya Jepang, Yamanashi merupakan salah satu destinasi wisata yang mudah dikunjungi dari Tokyo. Jaraknya yang tak terlalu jauh menjadi keuntungan tersendiri karena kita bisa melakukan perjalanan satu hari ke sana.
Untuk mencapai Yamanashi, saya menggunakan bus dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam dari Shinjuku, Kota Fujikawaguchiko. Sepanjang perjalanan, pemandangan berganti-ganti, mulai dari lahan pertanian, kawasan rural, hingga hamparan perbukitan yang sambung-menyambung.
Keindahan Yamanashi memang terkenal di seantero Jepang, bahkan kerap disebut sebagai wilayah terindah di sana. Keindahan empat musim di daerah ini pun tak terkalahkan. Sejauh mata memandang, Yamanashi memang daerah yang sangat kaya akan alam dan dikelilingi pegunungan indah, termasuk Gunung Fuji.
Yamanashi mendapat julukan rumah Fujisan (Gunung Fuji), karena memang terletak tepat di kaki gunung tertinggi di Jepang (3.776 m) tersebut. Dari berbagai penjuru wilayah ini, kita bisa menikmati keindahan Gunung Fuji dan lima danaunya yang terkenal, yaitu Danau Kawaguchiko, Danau Yamanakako, Danau Saiko, Danau Shojiko, dan Danau Motosuko.
Sejak tahun 2013, Gunung Fuji masuk dalam daftar World Cultural Heritages Sites. Bagi masyarakat Jepang, Gunung Fuji tak sekadar cantik dan kokoh, tapi juga memiliki nilai-nilai spiritual tersendiri yang mereka percayai. Keindahan Gunung Fuji pun selalu menjadi inspirasi para seniman yang menuangkannya dalam bentuk lukisan yang biasa ada di tempat pemandian khas Jepang, sentou.
Dimulai dari Arr FujiQ Highland, taman bermain yang menjadi lokasi halilintar tertinggi di Jepang. Meski sudah masuk musim panas, udara pagi itu di Kota Fujikawaguchiko terbilang sejuk, sangat menyenangkan untuk berkeliling kota. Sepanjang jalanan ditumbuhi pepohonan rindang, dan melintasi sisi Danau Kawaguchiko dan Saiko yang berair jernih dan sangat bersih.
Saiko Iyashi No Sato Nenba, jaraknya sekitar 30 menit berkendara dari Arr FujiQ Highland. Nenba merupakan sebuah desa wisata yang dibangun kembali dan terkenal karena bangunan rumah tradisional beratap jerami.
Udara Jepang di bulan Juni yang cukup hangat menemani saya di jalan setapak menuju pintu masuk kawasan wisata ini. Di kanan kirinya terdapat hamparan perkebunan buah. Jika sedang musimnya, lahan perkebunan ini dipenuhi dengan buah-buahan seperti strawberry dan persik. Sayangnya, ketika saya datang lahan perkebunan itu kosong, sepertinya baru saja dipanen.
Kolam ikan dengan air yang jernih berada tepat di sisi kiri pintu masuk menuju Desa Nenba. Tak jauh dari kolam, terdapat sebuah tong berisi botol-botol minuman dengan tulisan Jepang tergantung di dekatnya. Penasaran juga mengapa botol-botol tersebut diletakkan di dalam tong yang dialiri air. Rupanya, aliran air yang superdingin dari mata air itu dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai ‘kulkas’ alami untuk mendinginkan minuman.
Setelah mencoba merasakan dinginnya mata air tersebut, saya pun kembali menapaki jalan menuju desa. Daya tarik utama desa ini adalah bangunan rumah-rumah tradisional khas era Showa (1926 – 1987) dengan model atap yang berundak seperti baju samurai dan terbuat dari jerami. Tak terbayangkan, jika desa ini pada tahun 1966 sempat musnah akibat bencana longsor. Empat puluh tahun kemudian, pemerintah setempat membangun kembali desa tersebut sama seperti semula.
Tragedi longsor dan bagaimana Desa Nenba kembali dibangun terekam dalam rangkaian foto yang tersimpan apik di sebuah rumah yang kini dijadikan museum. Terletak tepat di area pintu masuk, museum itu menjadi pembuka bagi tiap pengunjung yang datang. Di desa ini ada sekitar 20 rumah dan pengunjung bisa menikmati berbagai kegiatan berbeda di tiap rumah, seperti mengenakan pakaian tradisonal Jepang, upacara minum teh, membuat kerajinan tangan, dan bersantap di restoran.
Di tempat ini, kita bisa menyewa kimono dan baju samurai lengkap dengan pedang dan topi dari besi. Saya pun mencoba mengenakan kimono, meski sempat bingung memilih aneka warna dan motif yang cantik-cantik itu. Untuk mengenakannya, saya dibantu oleh seorang ibu Jepang yang sudah cukup umur, karena untuk memasang kimono berikut obi (kain yang melingkar di pinggang) memang dibutuhkan keahlian khusus.
Berjalan-jalan di Desa Nenba dengan kimono dan alas kaki sandal kayu khas Jepang membuat saya merasa seperti Oshin, tokoh dalam film seri drama Jepang yang terkenal di tahun ‘80-an. Saya pun tak melewatkan kesempatan untuk berfoto di Desa Nenba dengan latar belakang Gunung Fuji.
Saya juga mencoba tradisi minum teh. Bagi masyarakat Jepang, minum teh memang tak sekadar menyeduh dan menyajikannya. Teh hijau umumnya disajikan dalam cawan keramik beraneka motif. Sebagai pendamping disajikan permen jeli aneka bentuk yang rasanya sangat manis. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi teh hijau yang rasanya sangat pahit.
Ketika akan meminum teh, kita harus terlebih dahulu memutar cawan sebanyak tiga kali dengan posisi lukisan yang ada di cawan tersebut menghadap ke depan. Setelah itu, teh diminum dalam satu kali teguk hingga habis dengan suara seruputan di bagian akhir. Hal ini sebagai tanda bahwa kita menyukai apa yang disajikan oleh sang tuan rumah.
Yamanashi terkenal sebagai kerajaan buah Jepang. Berbagai ragam jenis buah seperti strawberry, anggur dan persik dihasilkan dari perkebunan di wilayah ini. Tentu saja, buah-buah ini hadir sesuai dengan musimnya. Yang menyenangkan, ketika musim panen buah tiba, warga lokal akan menjual buah-buah segar tersebut sehingga kita bisa menemukannya di berbagai tempat wisata, tanpa harus berkunjung ke perkebunannya langsung.
Bulan Juni – Juli rupanya waktu untuk panen buah persik. Saya pun bisa menemukan banyak penjual buah persik, salah satunya di Nenba. Saya sempat membeli beberapa buah persik segar yang baru saja dipetik. Penjualnya seorang ibu-ibu yang dengan ramah membantu saya memilihkan buah persik terbaik. Harganya, 100 yen (Rp10.900) per buah.
Selain bentuknya yang menarik dengan warna merah merona, aroma buah persik yang khas begitu menggoda saya. Setelah dikupas, buah berwarna merah dengan lapisan bulu tipis di luarnya ini rasanya sangat manis dan juicy.
Di Jepang, Yamanashi merupakan daerah penghasil persik terbesar. Bahkan di Kota Fuefuki, salah satu kota di Yamanashi, ketika musim persik tiba, konon kita dapat menikmati pemandangan seperti karpet buah persik yang bermekaran. Sayangnya, saya tak sempat melihatnya. Dalam hati saya bertekad akan kembali lagi ke sini di musim berbeda.
Yamanashi juga terkenal sebagai tempat penghasil anggur. Sejak 1.200 tahun yang lalu, daerah ini menjadi pusat anggur dan pabrik wine di Jepang. Bahkan, anggur Koshu yang terbuat dari anggur varietas lokal di Kota Koshu, terkenal hingga seluruh dunia. Jika berkesempatan untuk berkunjung di bulan Juli hingga November, maka perkebunan anggur dan winery harus masuk dalam daftar kunjungan.
Di bagian dalam, hanya ada enam meja dengan empat kursi kayu di tiap mejanya. Tak banyak ornamen dalam resto ini, hanya ada tulisan ‘Sakura’ dalam huruf Jepang dengan tulisan ‘Dining’ di bagian bawah. Suasananya tenang dan nyaman.
Sang pemilik sekaligus chef, Miyashita Noboru, menyambut ramah kehadiran rombongan kami. Kami pun langsung menuju meja panjang yang sudah rapi dengan berbagai hidangan pembuka. Ada sekitar 4 mangkuk kecil berisi berbagai macam makanan pembuka, seperti ikan teri yang dimasak sederhana. Menurut sang pemilik, makanan pembuka yang disajikan tersebut tak selalu sama, tergantung musimnya.
Yang menjadi andalan restoran ini adalah fujimabusi, hidangan khas Yamanashi yang terbuat dari nasi Jepang dan ikan nijimasu, ikan asli danau di Yamanashi. Saya jadi penasaran untuk mencoba hidangan yang katanya sehat dan bebas minyak ini.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya semangkuk besar fujimabusi datang juga. Umumnya, fujimabusi dihidangkan dalam panci donabe (panci tahan panas) untuk sekitar 4 orang. Jadi porsinya benar-benar besar. Sebelum dihidangkan, nasi yang terletak di dasar panci dan ikan nijimasu tanpa tulang yang disusun di atasnya harus terlebih dahulu diaduk menggunakan sendok kayu. Setelah tercampur rata, barulah hidangan ini siap disantap.
Walau terlihat sederhana, ada banyak cara untuk menikmati fujimabusi, salah satunya bisa disantap dengan nasi yang telah dicampur dengan ikan tersebut tanpa campuran apa-apa. Rasanya gurih dan ikannya yang tak berbau amis. Bisa juga disantap dengan menambahkan campuran daun-daunan musiman yang telah dirajang halus. Karakter daun-daunan yang crunchy memberikan tambahan kesegaran pada hidangan ini. Yang paling unik menurut saya adalah menyampurkan fujimabusi dengan kuah kaldu, jadi seperti makan soto dicampur nasi.
Setelah mencoba banyak kombinasi cara menyantap, saya lebih suka menikmati fujimabusi yang ditambahkan sedikit potongan daun segar dan cabai khas Jepang. Sedangkan kuah kaldu yang gurih dan nikmat itu rasanya lebih pas diseruput hangat di akhir.
Fujimabusi menjadi hidangan favorit warga lokal karena mudah dibuat dan sehat. Pada dasarnya hidangan ini memang menggunakan teknik kukus. Jika tak habis dimakan, fujimabusi bisa dijadikan sebagai onigiri, nasi kepal khas Jepang.
Taman Yagisaki di Kota Fujikawaguchiko menjadi pemberhentian saya berikutnya. Hamparan pohon lavender yang mulai bermekaran langsung menyambut kedatangan saya. Dari kejauhan terlihat seperti karpet raksasa berwarna ungu. Cantik sekali!
Di balik hamparan lavender ungu itu terdapat Danau Kawaguchiko yang menjadi pusat pariwisata sekitar Gunung Fuji. Selain letaknya yang mudah dijangkau oleh transportasi umum, berbagai objek wisata juga tersedia di sekitar kawasan danau ini.
Duduk di jejeran bangku di taman ini, saya bisa melihat hamparan bunga lavender, Danau Kawaguchiko, serta Gunung Fuji di kejauhan. Katanya, ketika udara sangat bersih dan tak berawan, kita bahkan bisa melihat pantulan Fuji di air danau, seperti lukisan-lukisan khas Jepang yang kerap dijadikan suvenir. Semua itu membuat saya ingin kembali lagi ke Yamanashi dan menikmati keindahannya di musim yang berbeda. Mungkin winter, ketika salju menutupi puncak Fuji dan suhu udara bisa mencapai minus 10 derajat Celsius.
KEIO Plaza Hotel Tokyo
Selama berkujung di Tokyo, saya menginap di Keio Plaza Hotel yang lokasinya tepat berada di jantung kota, Shinjuku. KEIO Plaza Hotel pun bisa menjadi starting point untuk berkunjung ke Gunung Fuji karena lokasinya yang strategis dan memiliki banyak akses transportasi untuk bisa mencapai kawasan tersebut.
Ketika saya datang, di hotel ini tengah berlangsung festival Gunung Fuji. Berbagai karya seni seperti lukisan yang menampilkan keindahan Gunung Fuji dari beberapa pelukis lokal ternama di Jepang dihadirkan di seluruh penjuru hotel. Tak hanya itu, beragam hidangan pun dikreasikan untuk menyambut festival Gunung Fuji. Memang, tiap bulannya Keio Plaza Hotel selalu memiliki tema festival budaya yang berbeda-beda dan unik untuk dinikmati oleh para tamu hotel.
Hotel yang dibangun pada tahun 1971 dengan jumlah kamar 1.437 ini sempat menjadi hotel tertinggi di Tokyo, meski kini tak lagi karena telah banyak bangunan tinggi berdiri di sekitarnya. Walaupun begitu, dari lantai 38, tempat kamar saya berada, saya tetap bisa melihat pemandangan Shinjuku yang tiap pagi diwarnai oleh kesibukan warga Tokyo yang akan menuju ke kantornya. Menarik!
Jika Anda berkunjung bersama keluarga dan memiliki anak perempuan, cobalah menyewa fasilitas kamar Hello Kitty. Sesuai namanya, mulai dari wallpaper, tempat tidur, lantai, hingga kamar mandi, semua bertema Hello Kitty. Ada dua tema kamar yang bisa dipilih: Princess Hello Kitty yang terkesan girlie, dan Kitty Town yang lebih berkesan pop. Dan, tahukah Anda, ternyata pencipta karakter Hello Kitty yang sangat terkenal itu berasal dari Yamanashi!
Menuju Yamanashi: Dari Tokyo, Keio Bus memiliki rute dari terminal bus Shinjuku ke Kawaguchiko. Dengan kereta, waktu tempuhnya sedikit lebih cepat. Dari Tokyo, Anda bisa naik dari Stasiun Shinjuku dan berhenti di Stasiun Kofu. Selain itu, ada pula kereta yang melalui rute Shinjuku – Otsuki – Kawaguchiko.
Berkeliling di Yamanashi: Hampir semua kawasan wisata di Yamanashi menyediakan bus wisata dengan estimasi waktu yang sangat baik Selain itu, kita juga bisa menyewa mobil dan berkendara bebas macet dengan pemandangan spektakuler. Jangan lupa membawa peta dan GPS yang memakai huruf Latin.
Waktu: Yamanashi bisa dinikmati dalam satu hari. Agar bisa menikmati banyak tempat wisata di Yamanashi, berangkatlah sepagi mungkin dari Tokyo dan tentukan dulu tempat yang akan dikunjungi.
Shopping: Di Fujikawaguchiko terdapat Fuji Visitor Center, sebuah museum berisi foto dan penjelasan tentang Gunung Fuji yang juga memiliki toko suvenir. Sake Yamanashi juga worth it untuk dibawa pulang. Anda bisa mendapatkannya di supermarket, salah satunya yang berada di tempat pemberhentian bus. Sake dari daerah ini terasa lebih nikmat karena menggunakan mata air dari Gunung Fuji. (FAUNDA LISWIJAYANTI)