Fiction
Matahari Bupalo [5]

16 Mar 2012

<<< Cerita Sebelumnya

Kandidat calon wakil bupati itu ternyata nyaris sebaya denganku. Barangkali baru menjelang 40 tahunan. Penampilannya halus, elegan, dan tampak terpelajar.

“Basri Wael ini dosen idealis yang lama merantau ke luar Maluku,” Hajah Nur mengawali perkenalan di antara kami. “Pernah di Surabaya, Jakarta, dan terakhir di Ujungpandang. Dia pulang, tepatnya dipaksa pulang, oleh warganya ketika Maluku, juga Buru, dilanda kerusuhan beberapa waktu lalu.”

Basri hanya senyum-senyum mengiringi kalimat Hajah Nur, sambil acuh tak acuh mengamatiku. Mungkin, sedang menakar-nakar eksistensiku, mungkin juga karena pembawaannya memang seperti itu.

“Lalu, sebuah partai meminangnya, dan mengantarkannya menjadi anggota DPRD di sini. Dan sekarang giliran saya ganti meminangnya untuk menjadi wakil saya di pilkada.”

“Alasannya?” Pertanyaan itu meletup begitu saja dari bibirku. Tapi, pengaruhnya cukup mengesankan: Basri berhenti bersikap tak acuh, dan mengamatiku lebih serius.

“Sederhana, karena Basri mewarisi langsung darah Raja Kayeli.”

Aku cepat tanggap. Di zaman penjajahan dulu, untuk meredam pergolakan sporadis di Buru, Belanda membentuk Pemerintahan Negeri Rehenchaap Kayeli yang sangat disegani dan berpengaruh. Meski kini tak lagi eksis, masyarakat asli Buru tetap saja mendaulat Basri sebagai raja mereka. Di tangan dialah, masyarakat berharap, berbagai permasalahan adat, tanah, dan hari depan Buru, ditumpukan.

Dan, menggandeng Basri ke pilkada, tentu strategi jitu yang tak pernah kukira. Dengan Basri sebagai wakilnya, keinginan Hajah Nur untuk menyelesaikan status kepemilikan tanah para transmigran, mestinya bisa lebih berpeluang diselesaikan.

Strategi ini akan memudahkanku mengantarkan Hajah Nur memenangkan pertarungan di pilkada. Kalkulasinya jelas, saat ini ada 20.000 lebih transmigran di Buru yang memiliki hak pilih. Itu berarti hampir 23% dari 90.700 orang total calon pemilih yang tercatat di KPUD. Maka, di atas kertas, calon bupati mana pun yang berhasil membujuk para transmigran berpihak ke kubu mereka, bisa dipastikan akan memenangkan pilkada tahun ini.

Kelihatannya mudah, apalagi seluruh transmigran bermukim di satu tempat: Kecamatan Waepo. Hajah Nur bahkan berani menargetkan, “Kalau bisa meraih sekitar 15.000 suara saja dari Waepo, saya yakin menang.”

Itu memang posisi aman. Kecuali Waepo, Buru masih memiliki sembilan kecamatan lagi, termasuk Namlea, ibu kota Buru. Tak sulit rasanya menambah sisa suara dari masing-masing kecamatan, jika mayoritas kaum transmigran sudah dalam genggaman.

Cuma, hitungan logisnya, target dan pikiran serupa itu pasti juga ada di benak empat calon bupati lain yang menjadi lawan Hajah Nur. Waepo, tak urung, akan menjadi medan pertempuran yang amat seru bagi para calkada.
Namun, Hajah Nur, masih tetap di luar dugaanku, ternyata juga sudah menyiapkan strategi memenangkan Waepo.

“Sejak dua tahun lalu, diam-diam saya menyimpan tim sukses bayangan di sana. Dikoordinasi seorang tetua kampung, setiap dua bulan sekali saya memperoleh laporan seperti apa posisi dan peluang saya di Waepo.”
Aku ternganga. “Metode seperti apa yang dia pakai untuk menyusun laporan itu?”

Bahu Hajah Nur mengedik naik, namun suaranya terdengar mantap. “Saya sendiri tidak tahu persis. Tapi, kabarnya, mereka melakukan semacam survei atau jajak pendapat terhadap warga dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, yang kira-kira berbunyi: Bersediakah Anda mendukung Hajah Nur dalam pilkada nanti?”

“Hasilnya?”

“Hampir 100% menjawab bersedia. Hanya, sejak tiga bulan terakhir, dukungan itu menurun lumayan drastis, mendekati 65%. Me­nurut mereka, penurunan itu terjadi sejak saya mendeklarasikan nama Basri sebagai calon wakil saya.”

Alis mataku mengedut. Aroma ketidakberesan seperti menjalar ke naluriku. Sambil melirik Basri, yang kembali terlihat santai, aku bergumam, “Mereka tidak menyetujui Pak Basri sebagai wakil Ibu?”

“Mungkin bukan tidak setuju, tapi karena mereka beranggapan belum terlalu mengenal Basri, mengingat Basri cukup lama berada di luar Buru.”

Kian aneh jadinya sekarang.

“Bukankah para transmigran itu tahu persis bahwa Pak Basri anak raja penguasa tanah-tanah mereka?“

“Oh, iya. Belakangan mereka mengerti, setelah saya bawa Basri bersilaturahmi ke sana. Sebelumnya mereka hanya mengenal kakak-kakak Basri yang seumur hidup tinggal di sini.”

Aku masih ingin mengejar, namun suara Basri jauh lebih cepat: “Dan, posisi kita sekarang?”

Hajah Nur tersenyum, penuh keyakinan, yang justru membuat­ku ngeri sendiri. “Sudah lebih membaik. Angka terakhir 94% mendukung kita.”

Ada 94% dari 20.000 penduduk Waepo yang memiliki hak pilih? Aku mendelik dengan tenggorokan kering. Apakah mungkin?

“Itu pekerjaan rumah laten bagi kita semua,” Basri berbisik di dekatku, ketika Hajah Nur sibuk menerima telepon entah dari siapa.

Aku menelitinya tajam. Apakah dia mencium aroma ganjil yang sama? Anggukan kepalanya yang samar, menjawab arti pandangku.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” aku balas berbisik.

Advertisement
“Anda, bukan kita,” ia meluruskan. “Saya sudah pernah mencoba, tapi Ibu Hajah tak pernah mau menyebutkan sumbernya, yaitu koordinator tim survei itu. Saya cuma diperlihatkan hasilnya. Ketika saya pertanyakan kesahihannya, dia justru tersinggung dan menyuruh saya duduk tenang.”

“Reaksi yang mestinya tak perlu ada, begitu, ’kan?”

“Ya, tak perlu ada, kalau memang semuanya beres. Tapi, reaksi itu pun cukup beralasan, mengingat sepanjang dua tahun ini Hajah Nur sudah mengeluarkan uang tidak sedikit untuk biaya operasional mereka.”

“Mungkin kita harus cari cara lain.”

“Setuju. Pertama, abaikan hasil survei itu. Kedua, kita harus bekerja ekstra keras khusus untuk Waepo.”

Bukan cara itu sesungguhnya yang kumaksud. Melainkan, mendesak Hajah Nur agar membuka sumbernya di Waepo.

Namun, persis seperti yang diungkap Basri, Hajah Nur bersikeras menyimpan, bahkan menyuruhku duduk manis.

“Waepo itu wilayah saya. Sebelum suami saya jadi wakil bupati, dia sempat tujuh tahun jadi kepala dinas transmigrasi di Buru, dan sebagian besar waktunya dihabiskan bolak-balik ke Waepo. Tidak ada penduduk yang tidak mengenalnya, termasuk anak-anak. Bah­kan, dengan uang pribadi, kami sempat membangun beberapa fasilitas umum di sana. Masjid, lumbung padi, sampai membelikan beberapa unit mesin pembajak sawah.”

Aku nyaris mengancam tak melanjutkan kerja sama ini. Namun, rasionalitas Basri lebih dulu meredamkanku.

“Anggap saja ini sebagai tantangan. Kita sama-sama percaya kan bahwa politik itu tidak bisa dikalkulasi? Jadi, saya ulangi: bagaimana kalau kita bekerja menggarap Waepo dari awal, dan berpikir seolah-olah survei itu tidak pernah ada?”

Tantangan menarik, tapi seperti itulah sesungguhnya politik.

Kerumunan itu bergerak tertib di luar pagar, namun tetap saja terkesan mengerikan. Mereka mengacung-acungkan berbagai pamflet dan melontarkan orasi lewat seorang juru bicara, yang kemudian diamini dengan amat bising oleh seluruh anggota kelompok. Intinya: Buru menolak pemimpin wanita.

Isu lama yang kembali berulang, dan mungkin akan terus berulang selama sentimen gender tetap dihidupkan. Fakta bahwa Indonesia pernah dipimpin seorang wanita, seakan tak tertular ke Buru.

“Pasti orang-orangnya Jafar Sanun,” gumam Fathony Lahane, sang pendeta, menyebutkan nama sang bupati yang sedang berkuasa. “Dorang memang akan melakukan apa saja untuk menghadang Ibu Hajah.”

Kalimat itu seperti sengaja ditujukan padaku, yang tanpa sengaja menyelinap di sebelahnya. Kami berdiri berdesakan di teras rumah, berhadapan langsung dengan para pendemo di luar pagar.

“Perang sudah dimulai rupanya,” tambah Ismail Sanaky, dosen yang belakangan malah jadi teman diskusiku.

“Di mana Ibu Hajah?”

“Di dalam, mengintip dari jendela kamar,” sahutku.

Tadi aku sedang melatihnya berpidato di depan cermin, ketika para pendemo ini muncul. Dan, kutinggalkan dia sekadar mengantisipasi kalau-kalau ada yang perlu kulakukan di luar sini.

“Kalau begitu, biar saja beliau di sana.”

“Ya, ini cuma riak kecil yang rasanya tak perlu ditanggapi.”

Semua mata di teras itu beralih padaku.

“Maksud Nona… kita biarkan saja mereka?”

“Betul. Makin kencang mereka berteriak, makin populer nama kandidat kita, ’kan? Mestinya kita berterima kasih, karena tanpa sadar mereka sudah membantu meringankan kerja kita.”

“Tapi, isu itu terlalu sensitif.”

“Isu apa? Gender? Tergantung dari jawaban: lebih banyak mana jumlah pemilih wanita dibanding pria di Buru?”

“Wanita, jelas.”

“Nah, berarti, sebanyak itulah pendukung yang akan berpindah ke kita sekarang. Wanita di mana pun akan langsung bersimpati kalau melihat kaumnya dianiaya. Tinggal tugas kita menggiring mereka.” Aku beringsut mundur. “Kalau ada yang bisa membantu mencarikan data berapa persisnya jumlah wanita pemilih di sini, saya akan berterima kasih sekali. Ini akan menjadi agenda rapat kita malam nanti.”


Penulis : Djoenaedy Siswo Pratikno


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?