Fiction
Matahari Bupalo [4]

16 Mar 2012

<<< Cerita Sebelumnya

Lalu, ada suara berdehem pendek. Pendeta itu. “Atas nama pribadi dan partai yang mengutus beta, beta ucapkan selamat datang kepada Ibu Rianti….

Lalu ada suara tepuk tangan pendek, dan berulang. Norak sekali. Dan, semua orang bangkit, menyalamiku sambil mengucapkan hal serupa dengan si pendeta.

Pasti akan sempurna sekali andai saja hari ini bertepatan dengan ulang tahunku. Sayangnya, tidak!

“Kok, saya nggak pernah tahu bahwa Anda sempat membantu kampanye Gubernur DKI?” singgung Hajah Nur saat kami berdua berjalan ke ruang kerjanya. Ada seseorang yang ingin ia kenalkan padaku, katanya tadi.

“Memang tidak,” aku berbisik kalem. “Tapi, tadi itu termasuk salah satu debat politik, ’kan? Apa salahnya?”
Dia mendelik, dan tertawa keras.

“Good girl! Mestinya itu bisa jadi modal Anda jadi politikus kalau nanti sudah bosan sebagai konsultan.”

“No way!” aku ikut tertawa. “Berteman dengan politikus dan bermain di pekarangan mereka, jauh lebih menyenangkan buat saya.”

“Exciting sekali!” Langkah kami sampai di ambang pintu, dan Hajah Nur menguakkannya. “Kadang saya iri pada orang-orang seperti Anda.”

Aku tak menanggapi. Pandangku terpatri ke seisi ruangan. Ini bukan ruang kerja semata, tapi rumah dalam rumah. Memang ada meja kerja dan kursi tamu. Tapi, di sekitarnya juga ada ranjang, home theater, meja makan, bahkan kitchen set. Yang lebih membuatku tesihir, semuanya bermerek.

Dan, foto-foto itu!

Di antara foto almarhum suaminya yang tertempel di dinding, foto Hajah Nur ketika diwisuda sebagai dokter gigi, juga foto kedua anaknya yang untuk seterusnya dikoskan di Yogyakarta seusai kerusuhan melanda Buru. Tampak berderet foto lainnya bergambar pemandangan alam dalam ukuran amat besar, nyaris menyerupai wallpaper. Aku berdecak. Cantik sekali, meski menyimpan kesan liar dan magis.

“Ini sisi lain dari Buru yang belum pernah terungkap.” Hajah Nur berdiri di sebelahku, di hadapan foto sebuah danau indah yang sengat sejuk dan asri. “Namanya Danau Rana. Mana lebih bagus, Danau Toba atau Kelimutu?”

Aku tak mau membandingkan, karena memang tak akan sepadan. Rana masih demikian perawan, nyaris belum tersentuh per­adaban. Tapi, pesonanya sangat menjanjikan. Biru airnya, rimbun pepohonannya, diapit pegunungan menjulang di kejauhan….

“Bayangkan kalau saya bangun cottages di sekitarnya, lengkap dengan fasilitas wisata air yang modern, juga secara berkala dihadirkan pentas budaya tradisional setempat….”

“Pasti akan banyak turis datang dan tak mau pulang!” aku menyahut cepat.

Dia tertawa kecil. “Itu berlebihan. Tapi, kalau benar begitu, kenapa tidak? Saya hanya ingin bilang, Buru sesungguhnya sangat potensial. Wisata alamnya luar biasa. Anda lihat di foto sebelah sana, ada goa-goa yang tersembunyi, Gunung Kapaat Muda yang belum terjamah, cagar alam Panorama, pantai yang menantang…. Buru juga punya hutan-hutan yang selama ini lebih banyak digarap pengusaha lokal, namun belum maksimal. Juga ada tambak udang, lahan mutiara. Itu belum ditambah perkebunan minyak kayu putih, area persawahan dan perkebunan di Waeopo.”

“Welcome to paradise…,” gumamku.

“Ya. Paradise yang hanya bisa diwujudkan andai saya menjadi bupati.”

Aku berpaling, mengamatinya. Wajahnya demikian keras dan sungguh-sungguh. “Jadi, untuk semua ini Ibu maju pilkada?”

“Utamanya, iya. Ide suami saya sebetulnya. Bahkan, dia sudah memanggil para arsitek dari Jakarta untuk membuat perencanaan infrastruktur dan menghitung-hitung anggarannya. Dia juga sempat mendatangkan beberapa calon investor asing ke sini. Sayang, ketika diajukan, atasannya menolak.”

“Bupati yang sekarang menjabat, maksud Ibu?”

“Ya. Dan, dari situlah ketidaksesuaian pendapat di antara mereka makin meruncing.”

“Sampai kemudian Bapak sakit dan meninggal dunia?”

Hajah Nur menghela napas, duduk di salah satu kursi.

“Saya tidak berani memastikan apakah hal itu memang langsung berhubungan. Tapi, almarhum suami saya memang punya banyak sekali mimpi, yang sekarang ingin saya realisasikan.”

Ia kemudian bercerita tentang profil demografik Buru yang baru sepotong-sepotong kukuasai. Secara administratif, Kabupaten Buru sesungguhnya merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Maluku Tengah di tahun 1999. Dengan luas wilayah kurang lebih 12.7 km persegi , Buru terpecah-pecah dalam enam pulau besar dan kecil: Ambalau, Pasir, Fogi, Tomahu, Oki, dan Pulau Buru sendiri.

Bentuk kepulauan yang tersebar berjauhan itulah yang membuat pemerintah setempat kesulitan melakukan koordinasi. Untuk menembus antar-pulau, diperlukan satu hari perjalanan laut. Itu pun jika musim ombak sedang ramah. Antara Desember dan Juni, ketika musim pasang datang, nelayan yang paling berpengalaman pun enggan melaut. Kehidupan jadi terhambat, komunikasi terputus. Menggunakan fasilitas darat atau udara, nyaris mustahil. Selain mahal, infrastrukturnya belum memadai.

Advertisement
“Maka, mendiang suami saya mengusulkan rencana pemekaran wilayah berikutnya,” lanjut Hajah Nur dengan mata berisi. “Buru nantinya jadi dua kabupaten: Buru Utara dan Buru Selatan, sehingga segala-galanya akan lebih mudah dilakukan. Tapi, ide itu kembali dihambat.”

“Karena, akan ada banyak kepentingan orang tertentu bakal terusik jika hal itu dilakukan?” aku menimpali.

“Ya. Penyebabnya memang tak jauh-jauh dari situ. Seperti juga tarik-ulur diberlakukannya peraturan hak kepemilikan lahan pertanian dan perkebunan bagi para transmigran di sini, yang tak kunjung diundangkan. Kesannya seperti sengaja ditunda-tunda.”

“Maksud Ibu, sampai saat ini para transmigran itu hanya punya hak mengelola lahan, tapi tidak diperkenankan memiliki tanahnya?”

“Betul. Tanah-tanah itu pada awalnya tanah adat, milik raja-raja yang dipinjamkan kepada para transmigran sejak puluhan tahun lalu. De facto, sudah berpindah tangan pada mereka, karena dari situlah para transmigran hidup dan beranak-pinak. Namun, de jure, pemerintah setempat, termasuk yang sekarang berkuasa, belum kunjung menge­luarkan peraturan yang jelas tentang status kepemilikan mereka.”

“Dan, ini akan menjadi salah satu agenda yang Ibu angkat dalam pilkada nanti?”

“Kenapa? Apakah terlalu mengada-ada?”

“Sama sekali tidak. Justru sangat orisinal. Selama ini para calkada (calon kepala daerah) hanya mengusulkan program kerja yang sangat baku; seperti perbaikan sarana kesehatan, sekolah gratis, dan seterusnya. Nyaris tak ada yang konkret. Semuanya serba normatif.”

“Jadi, rencana ini bisa saya masukkan dalam program kerja saya sebagai calon bupati?”

“Akan sangat bagus sekali. Tinggal aplikasinya saja yang belum saya lihat.”

“Oh, itu juga sudah saya siapkan.”

Persis saat itu terdengar ketukan di pintu.

“Nah, tepat pada waktunya. Itu pasti orang yang sedang kita tunggu-tunggu….”

“Sebentar, Ibu.”

Langkahnya mengejang, tak jadi membuka pintu.

Aku kembali mengedarkan pandang berkeliling, mengamati furnitur yang memadati ruangan itu. “Bisa Ibu ceritakan sedikit bagaimana barang-barang mahal ini bisa sampai di sini?”

Kalimat itu sudah sedemikian halus kukemas, berharap dampaknya tak terlalu mengguncangkan. Namun, reaksi tersinggung, meski sedikit saja, yang kukira segera muncul dari dirinya, justru tak terlihat.

Sebaliknya, dengan senyum lunak, ia berucap ringan, “Pasti Anda sudah mendengar kabar di luar tentang isu korupsi yang dituduhkan kepada almarhum suami saya.” Pandangnya ikut mengitari ruangan. “Ini hanya untuk kita berdua.”

Kemudian ia bercerita. Ketika masih dinas di Ambon, suaminya sempat dipercaya mengepalai beberapa proyek pembangunan jalan yang didanai lembaga keuangan asing. Namun, karena izinnya tak kunjung turun, atas inisiatif pribadi, ia menyimpan uang itu di bank, dalam bentuk dolar AS.

Tak lama kemudian, krisis ekonomi melanda Indonesia. Nilai tukar dolar tehadap rupiah melonjak berkali-kali lipat. Uang yang disimpan suaminya di bank pun, ketika dirupiahkan, naik hampir seribu persen. Padahal, nilai proyek yang akan dibangun belum berubah, karena dihitung dalam rupiah. Maka, margin yang tersisa jauh lebih besar dari nilai proyek itu sendiri. Pertanyaannya kemudian: milik siapa sisa uang tersebut sesungguhnya?

“Milik pemerintah tentu saja, dan suami saya mengembalikan seluruhnya.” Mimik Hajah Nur terlihat serius. “Hanya, atasannya, yang entah kagum entah salut atas ide tak sengaja suami saya, menyerahkan bunga dari simpanan di bank itu sebagai hadiah. Hanya bunganya. Tapi, jumlahnya….”

“Jumlahnya?” aku siap menunggu puncak ledakan selanjutnya.

“Tiga milyar rupiah lebih.”

Spontan aku bersiul.

“Apakah itu korupsi?”

Bahuku mengedik. “Saya belum bisa menjawab. Yang pasti, orang di balik pintu itu sudah terlalu lama menunggu jawaban Ibu.”

“Ah, iya.” Ia langsung berjingkat ke pintu yang terus diketuk-ketuk dari luar. “Sudah saatnya Anda saya kenalkan dengan calon wakil bupati saya.”


Penulis: Djoenaedy Siswo Pratikno


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?