Setelah menikah dan melahirkan anak pertama, aktris dan model Masayu Anastasia (31) tak pernah lama vakum dari dunia akting. Demi cintanya terhadap dunia akting dan juga memenuhi kewajibannya memberi ASI eksklusif untuk anaknya, Samara Anaya Amandari (5), yang ketika itu masih berusia 3 bulan, ia rela jungkir-balik antara syuting dan menyusui. Sisi fighter inilah yang tak banyak publik kenal dari dirinya. Kepada femina, wanita yang akrab disapa Ayu ini bercerita tentang film terbarunya serta perannya sebagai ibu dan istri.
Sejak Agustus 2014, Ayu tengah disibukkan dengan persiapan dan produksi film terbarunya yang berjudul Balada Anak Negeri. Berbeda dari film-film yang ia bintangi sebelumnya, yang persiapannya tidak terlalu panjang, Ayu mencurahkan segenap tenaga dan waktunya untuk film yang disutradarai oleh Emil Bias ini.
“Sebelum syuting pertama di Nepal, kami reading naskah selama 3 bulan. Pulang dari Nepal, kami reading lagi selama 1 bulan, lalu berangkat syuting ke Kerinci. Selama syuting di Kerinci, kami pun masih terus reading,” paparnya. Di film ini, ia berperan sebagai wanita asal Kerinci yang mencari jati diri dan ayahnya hingga ke India karena ia merasa bahwa ayahnya adalah aktor India, Amitabh Bachan.
Sekembalinya ke Jakarta, Ayu dan rekan-rekan aktornya, seperti Vino G. Bastian, dan Atiqah Hasiholan, istirahat selama sebulan, lalu kembali reading dan syuting lagi di Jakarta. “Total waktu untuk reading 5 bulan. Padahal, biasanya untuk film drama komedi seperti ini, waktu untuk reading hanya 3 bulan,” ujar Ayu, yang harus menguasai tarian khas India dan bahasa Kerinci. Tak hanya itu, sebelumnya Ayu juga harus kembali kursus akting bersama pelatih akting, Eka D. Sitorus.
Selama belajar akting, mental Masayu sebagai aktris dan selebritas kembali ditempa. Pengalamannya bermain di 11 judul film selama 11 tahun seakan tak berarti. Ia dipaksa belajar kembali mengenai seluk-beluk akting dari nol. “Memang, sih, sebelumnya saya tidak pernah kursus atau sekolah akting sama sekali. Jadi, ini tantangan yang benar-benar baru. Nah, baru pertama kali membaca buku panduannya saja, saya langsung ciut. Ternyata, pemahaman saya tentang akting selama ini salah, dan ilmu akting yang saya peroleh dari 11 tahun main film, tuh, tidak ada apa-apanya,” tutur Ayu, yang mengaku paling merasa tertantang di kelas monolog.
Namun, Ayu tak patah semangat. Adrenalinnya justru terpacu dan ia jadi makin bersemangat untuk belajar. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi aktris yang punya setumpuk pengalaman dan popularitas setinggi dirinya. “Awalnya, para kru pun menyangka saya tidak akan mau disuruh ikut kursus pendalaman akting seperti ini. Mereka pikir, saya tipe orang yang enggak mau belajar dan akan bersikap sok jago,” ungkapnya.
Masayu tak heran jika mereka bisa beranggapan demikian tentang dirinya. Ia punya pengalaman beberapa kali berhadapan dengan lawan main yang susah diajak bekerja sama. Namun, hal itu justru menjaganya untuk selalu wawas diri. “Dalam menyeleksi tawaran bermain film, saya selalu mencari yang karakternya berbeda-beda agar tidak terjebak dalam satu karakter yang sama terus-menerus. Menurut saya, hal ini penting untuk memacu saya belajar mengembangkan diri terus-menerus,” ungkap Ayu, yang paling menyukai filmnya yang berjudul Selamanya (2007), Pengantin Topeng (2010), dan Balada Anak Negeri (2015).
Ia sadar, popularitas juga mengalami pasang surut. Ada kalanya seseorang berada di atas, ada kalanya juga berada di bawah. Apalagi, industri film dan hiburan kini tengah berkembang pesat, dan tiap hari selalu saja ada bintang baru muncul. “Terus belajar dan selalu berusaha menjadi diri sendiri sangatlah penting untuk dapat terus bertahan di industri ini,” ujar wanita kelahiran 19 Januari 1984 ini.
EKA JANUWATI