Wawasan luas, percaya diri, serta enak diajak bicara dan bercanda. Begitulah pendapat Meiyola Berlina dan Cindy Erika (Finalis Wajah Femina 2014) tentang Shabrina Ayu Rosandhy (19). Mudah menyesuaikan diri, selalu saja ada bahan pembicaraan yang ia timbulkan. Mungkin hal ini pula yang membuatnya disenangi banyak orang sehingga dan mendapat dukungan terbanyak dan meraih penghargaan sebagai Pemenang Favorit Wajah Femina 2014. Shabrina mendapatkan dukungan hingga 20 % dari total 1.740 voting via online lewat website Wajah Femina (www.wajahfemina.co.id) dan SMS. “Setiap kali Shabrina tampil ke depan, suara riuh terdengar, seakan semua orang yang berada di dalam Ballroom XXI Jakarta Theater malam itu adalah pendukungnya,” kata Cindy kagum.
Aktif dan Mandiri
Shabrina saat ini tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Komunikasi Massa, London School of Public Relations. Di sela kesibukan belajarnya, sore hari atau akhir minggu ia bekerja sebagai penyiar di BEU Radio dan Mustang FM. Profesi ini telah ia tekuni sejak usianya baru menginjak 16 tahun.
Karier pertamanya diawali di BEU Radio saat ia baru duduk di bangku kelas 1 SMA, tahun 2011 lalu, berkat ilmu yang ia dapat dari Talk Inc, sebagai hadiah keikutsertaannya pada Gadis Sampul. “Awalnya saya hanya coba-coba. Hari pertama saya diarahkan, tapi di hari kedua saya dilepas dan siaran sendiri,” kata lulusan SMA Negeri 3 Jakarta ini.
Dinilai telah memiliki kemampuan yang mumpuni, pada Januari 2014 lalu, manajemen Mustang FM yang juga satu grup dengan BEU Radio menarik Shabrina untuk siaran pada hari Rabu dan Minggu. “Saya senang menjalani profesi ini, karena saya menganggapnya bukan sebuah pekerjaan, tetapi sebuah hobi yang dapat menambah ilmu dan pengalaman,” tutur pengagum Najwa Shihab ini.
Ia bahkan tidak pernah memusingkan soal honor yang ia terima. Seberapa pun itu, ia terima dengan penuh syukur. “Ibu memberi saya kebebasan untuk mengatur sendiri, namun tetap dalam pengawasannya,” katanya.
Shabrina kecil tergolong anak yang aktif, hal ini terlihat dari berbagai les yang ia ikuti saat masih SD, seperti les renang, menyanyi, tari tradisional, melukis, kumon, piano, bahasa Inggris, mengaji, dan lain-lain. Lagi-lagi ia menjalani semuanya dengan gembira, senang, dan bahagia. Ia tak main-main dalam mengikuti les sebanyak itu, ia menyelesaikan program les yang telah ditetapkan hingga selesai.
“Ibu bilang, dulu waktu kecil saya ‘genit’, suka ngaca dan menyanyi sendiri, jalan-jalan di ruang tamu rumah, bergaya ala model catwalk. Ha…ha…ha…,” katanya tertawa mengenang masa kecilnya.
Kegemarannya yang selalu ingin tampil itu pula yang menjadi alasan ibunya mengikutkannya di berbagai audisi atau apa pun yang membuatnya tampil di depan banyak orang, salah satunya menyanyi saat pembukaan mal baru.
Di bangku SD dan SMP, Shabrina aktif menari tari Jaipong, sedangkan di SMA ia aktif di kelompok tari khususnya tari Saman dan juga tergabung di kelompok cheerleader. Bersama tim cheerleader sekolahnya, Shabrina pernah mengikuti kompetisi di Jepang dan meraih juara tiga, serta 2 kali kompetisi di Thailand.
Ayahnya pun tidak pernah lari dari tanggung jawabnya sebagai orang tua. Semua kebutuhan Shabrina serta kedua abangnya, Randhy Prasetya (29) dan Ikhsan Sandhytia (26), dipenuhi.
Tak hanya kepada ayahnya, hubungan dengan ibu dan saudara tirinya pun terjalin dengan sangat baik. “Saat akan karantina, Ayah menelepon saya, mengucapkan selamat sekaligus menyemangati saya,” katanya.
Bagi Shabrina, ibunya adalah panutan. Dari ibunya, ia belajar optimistis, bahkan kesetiaan. Sebab, walau ditinggal ayahnya, ibunya tidak memiliki keinginan untuk menikah lagi. Ibunya hanya ingin fokus merawat, membimbing, membesarkan, dan menyekolahkan Shabrina dan kedua abangnya.
“Ibu yang menyarankan saya untuk ikut WF 2014, karena saya belum percaya diri saat itu,” katanya.
Dengan motivasi luar biasa dari sang ibu, Shabrina pun optimistis bisa membahagiakan ibunya dengan kesuksesan kariernya kelak. “Saya ingin meraih impian saya dengan perjuangan, bukan dengan cara instan yang menghalalkan segara cara, sebab pada akhirnya orang akan tahu yang benar-benar berjuang atau yang tidak,” katanya tegas.
Shabrina mengatakan, ibunya bagai seorang sahabat, teman curhat dan berdiskusi. Apalagi dengan kebiasaan ibunya yang lebih suka menonton berita daripada sinetron. Hal ini sejalan dengan minat Shabrina yang peka terhadap informasi-informasi terbaru. “Saya gemar sekali menonton acara-acara berita di televisi,” katanya.
Mencari, menonton, mendengarkan, dan membaca informasi-informasi terbaru sangat penting untuk karier Shabrina saat ini dan juga untuk impian besarnya yang akan ia raih.
Shabrina sangat beruntung memiliki orang-orang dekat yang selalu mendukungnya, termasuk kekasihnya yang tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Trisakti. Hampir sama seperti ibunya, kekasihnya juga menjadi salah satu temannya berdiskusi. “Saat akan mengikuti karantina, pacar saya yang mengantar saya mencari segala keperluan yang begitu banyak,” katanya senang.
Walau sibuk kuliah dan juga siaran, Shabrina berusaha untuk membagi waktu. Biasanya hari Sabtu ia habiskan bersama kekasih. “Kami telah sepakat bahwa di usia yang sangat produktif ini, kami berhak melakukan segala yang baik sesuai dengan yang kami sukai masing-masing untuk kebaikan masa depan kami kelak,” tuturnya optimistis.
Untuk meraih impian sebagai presenter berita, kelak setelah menyelesaikan kuliahnya, Shabrina ingin mengawali karier sebagai reporter televisi yang menyampaikan informasi kepada masyarakat. “Sepertinya seru menjadi reporter, apalagi melihat langsung suatu tempat kejadian dan berinteraksi dengan masyarakat,” katanya.(DESIYUSMAN MENDROFA)