Selain faktor banyaknya ‘pemecah atensi’, mudah lupa juga bisa karena gangguan kejiwaan, penggunaan zat, terlalu banyak minum alkohol, atau konsumsi obat penenang tertentu. “Drug dan sabu berakibat menurunkan konsentrasi. Lama kelamaan otak bisa rusak, sistem serotonin dan dopamin mengalami perubahan. Ujung-ujungnya bolot,” kata dr. Andry, SpKJ, Kepala Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera.
Penyakit seperti stres, depresi, cemas, Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) pada dewasa, bipolar, dan gangguan kepribadian juga dikatakan punya efek terhadap fungsi kognitif. Kesulitan konsentrasi adalah salah satu gejalanya. Bukan hanya menjadikan orang mudah lupa, tapi juga menurunkan daya pikir dan kemampuan melakukan penilaian terhadap suatu hal, atau sering salah dalam melakukan sesuatu.
Ficky Yusrini