Sujiwo Tejo/ Bentang Pustaka
Tak berbeda jauh dengan pendahulunya, Lupa Endonesa, buku ini kembali menghadirkan penuturan cerdas dan menggelitik dalam bahasa tersirat, lewat penokohan para punakawan yang memperbincangkan kondisi negeri ini. Kritik terhadap berbagai fenomena sosial tersaji dengan ekspresif, namun tajam, dengan sentuhan muatan budaya yang mengandung pesan untuk lebih peduli pada ibu pertiwi. (f)