Penantian dan kesetiaan menjadi tema utama dalam fiksi yang tiap kalimatnya bagai puisi ini. Seperti ketika ibu Jiwa yang memilih tidak menikah lagi sejak kepergian ayahnya. Atau neneknya yang lebih suka membiarkan peraduannya separuh kosong daripada mesti menikah lagi. Seperti itu juga Jiwa berjanji untuk setia kepada Nanti. "Jika saja orang-orang mau lebih keras membuat diri mereka nyaman dengan kesendirian, jika orang-orang mau berdamai dengan kesepian mereka, aku percaya dunia ini akan menjadi lebih baik." (f)