Fiction
Lelaki Pilihan [9]

19 May 2012

<< cerita sebelumnya

Nina berkenalan dengan Sari, anak Ilham, yang sedang berada di Pondok Pesantren Krapyak, Yogya. Seperti dugaan Ilham, Sari menyambut Nina dengan ramah. Bahkan, makin lama, mereka makin lengket. Terlebih ketika Sari mengetahui, Nina punya banyak komik remaja kegemarannya. Rasanya, dia sudah tak sabar ingin segera mengunjungi rumah Nina di Jakarta.

Kini, waktu liburan hampir tiba, Ilham dan Nina berencana menjemput Sari di Yogya. Hari ini Nina datang ke kantor Ilham. Tapi, Ilham tak ada, sedang berkeliling ke kantor cabang. Nina memutuskan menunggu di kantor Ilham.

“Mbak, toiletnya di mana?” tanya Nina, pada sekretaris Ilham.

“Dari sini belok kanan, Mbak. Silakan,” sahut Yanti, ramah.

Nina sedang merapikan bajunya sebelum keluar dari toilet, ketika didengarnya ada orang yang masuk ke toilet.

“Sudah lihat calon istri bos?” ujar seseorang. Nina urung keluar.

“Belum, orangnya bagaimana?”

“Tak terlalu cantik. Hanya, karena tinggal di Jakarta, penampilannya lain. Percaya dirinya tinggi. Tapi, dia kalah dari Mbak Yanti.”

“Mbak Yanti tak cemburu?”

“Pasti cemburu. Tapi, mau apa lagi. Bos juga tak bisa apa-apa. Katanya, mereka dijodohkan oleh orang tua. Jadi, walau hatinya ada pada Mbak Yanti, dia tetap akan menikahi wanita tersebut.”

“Kudengar, Mbak Yanti mau berhenti, ya? Karena masalah ini?”

“Ya, iyalah. Mana ada wanita yang tahan jika kekasihnya akan menikah dengan orang lain. Tapi, kabarnya, dia tak boleh resign oleh bos. Katanya, bos sampai memohon-mohon agar Mbak Yanti tidak keluar.”

“Kasihan, ya, Mbak Yanti. Menunggu sekian lama, bos malah disambar orang lain,” ujar seorang lagi, sambil keluar dari kamar mandi.

Nina membeku. Dia benar-benar kaget. Rasanya, seperti ada yang menghantam mukanya dengan berton-ton batu. Untuk sesaat, pikirannya terasa buntu. Ia tak bisa berpikir apa-apa. Dia menenangkan diri dulu untuk beberapa saat. Setelah benar-benar pulih, baru dia keluar dari kamar mandi.

Ilham ternyata belum kembali. Hanya ada Yanti yang sedang menyuguhkan teh buatnya. Dia mengamati Yanti lebih seksama. Nina mengerti. Benar kata teman-temannya tadi, Yanti sangat cantik. Tindak-tanduknya juga halus. Benar-benar tipe Ilham. Pantas, selama ini Ilham mencoba membentuk dirinya agar bersikap lembut, karena pacarnya memang demikian. Dia ingin membentuk dirinya agar mirip Yanti! Huh!

“Mbak, saya tunggu langsung ke pabrik saja, deh. Di sebelah mana, ya?” tanya Nina.

“Masuk dari gang sebelah pom bensin, lalu belok ke kanan, lurus terus. Nanti ada rumah yang kayak gudang. Itulah pabriknya.”

“Oke, aku ke sana saja. Terima kasih.”

Nina bergegas ke mobilnya. Ia ingin mendamprat Ilham. Kurang ajar sekali lelaki itu. Namun, di tengah perjalanan, Nina menghentikan mobilnya dan mulai ragu. Apakah ia tak ikut andil bersalah? Ilham tak bakal bisa membuatnya sakit hati, kalau ia tak demikian bodoh, membiarkan perasaannya berkembang. Tak bakalan terjadi peristiwa demikian, seandainya ia tak menyetujui perjodohan mereka. Kalau sekarang ia sakit hati, itu kesalahannya juga.
Nina menyumpahi dirinya karena sudah membiarkan hatinya jatuh cinta pada pria itu. Sudah kubilang, Nina. Gunakan rasiomu, jangan perasaanmu! Inilah harga yang harus kau bayar! Kau tak boleh mengeluh karenanya. Ia benar-benar menyesal.

Perasaan marah bercampur perasaan terhina membuat Nina tak sudi bertemu Ilham lagi. Ia memutar arah mobilnya menuju rumah. Lalu, ia membereskan pakaiannya dan berangkat ke Jakarta. Kepada ibunya, dia bilang ada pekerjaan mendadak yang harus dia selesaikan. Ibunya, yang sudah biasa melihat tugas wartawan, percaya saja pada alasannya.

Ilham pun tak berpikir buruk ketika ibu Nina memberi tahu tentang kepergian Nina yang mendadak. Ia tak berpikir macam-macam ketika handphone Nina yang dihubunginya tak aktif. Dia menduga, berita yang diliput Nina sangat penting, sehingga Nina tak ingin diganggu. Ia mengerti benar kebiasaan Nina yang total dalam bekerja, yang selalu marah jika diganggu oleh hal-hal yang tak perlu. Karena itu, dia biarkan saja Nina.
Advertisement

Itulah mengapa dia kaget sekali, ketika seminggu kemudian dia ditelepon ibu Nina. “Ada apa ini, Nak Ilham? Kalau ada masalah, sebaiknya diendapkan dulu, dibicarakan baik-baik. Jangan langsung putus begini,” sesal ibu Nina, ketika Ilham datang berkunjung.

“Maksud Bunda apa?” tanya Ilham, tak mengerti.

“Kau dan Nina? Kalian tak bertengkar? Lalu, kenapa Nina meminta Bunda membatalkan pertunangan kalian?”

“Membatalkan pertunangan?”

“Ya, Nina ngotot tak mau melanjutkan perjodohan kalian. Apa­kah kau tak tahu alasannya?”

“Sama sekali tidak, Bunda. Saya pun baru tahu sekarang.”

“Dia hanya menyebut-nyebut tentang firasatnya yang benar, tentang beruntung bahwa nasi belum jadi bubur, tentang tak ingin merebut pacar orang lain, juga tentang pergi ke luar negeri. Ah, Bunda juga tak mengerti arah pembicaraannya. Dia hanya minta, Bunda membatalkan pertunangan ini. Dia mengancam, kalau tak dibatalkan, dia tak akan balik lagi ke Indonesia dan menetap di luar negeri. Bunda benar-benar tak mengerti, Nak.”

“Bunda, mungkin, ada baiknya saya susul Nina ke sana.”

|“Ya, Nak Ilham, Bunda minta tolong. Kalau ada masalah, bicarakanlah baik-baik. Selesaikan dengan kepala dingin.”

“Ya, Bunda. Saya pamit dulu,” ujar Ilham, sambil menahan geram melihat kelakuan Nin. Dia benar-benar tak mengerti dengan apa yang dilakukannya. Memutuskan hubungan, pergi begitu saja, tak membicarakannya dengan dirinya.

Setelah membereskan pekerjaannya, sorenya Ilham berangkat ke Jakarta. Namun, di Jakarta dia hanya menjumpai Bi Jah, yang diminta Nina menunggui rumahnya. “Berangkat siang tadi, Mas. Katanya, mau ke luar negeri. Dia menitipkan surat ini pada Mas,” kata Bi Jah.

Ilham menyobek amplop surat Nina.

Mas Ilham,
Sudah berhari-hari aku merenung dan memikirkan kata-kata yang tepat. Tapi, tetap tak ketemu juga. Awalnya, aku ingin marah karena kau telah menipuku. Tapi, aku pikir, ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku ikut bersalah. Aku benar-benar bodoh. Beberapa hari ini tak henti-hentinya aku menyesali kebodohan tersebut. Kenapa aku mau saja dijodohkan denganmu. Kenapa aku tak tetap saja pada pendirianku semula. Dengan demikian, kita tak perlu terjebak dalam situasi pertunangan yang dipaksakan. Aku bisa tetap jadi Nina yang dulu. Kau juga tetap dengan segala aktivitas dan impianmu.
Namun, aku bersyukur, nasi belum jadi bubur. Kita belum telanjur menikah. Jadi, kesalahan yang kita buat pun tak akan bertambah panjang. Karena itu, lebih baik kita akhiri saja pertunangan kita. Kita kembali ke jalan masing-masing. Anggap saja hubungan kita yang singkat kemarin adalah sebuah mimpi, yang kala kita terjaga dari tidur, mimpi itu sirna dan kita kembali ke kehidupan nyata. Terima kasih atas semua kesabaran dan kebaikanmu padaku.
Nina

Ilham meremas surat tersebut dengan jengkel. Surat Nina pun tak menjelaskan masalahnya. Apa katanya tadi? Dia telah menipunya? Menipu apa?

“Luar negerinya di mana, Bi? Dia tak menyebutkan?”

“Wah, Bibi nggak tahu. Apa mungkin ke rumah Mas Bill? Coba saja telepon ke sana, Mas. Bibi simpan catatannya di tempelan kulkas.”

Bi Ijah masuk dan keluar lagi dengan membawa nomor rumah Bill, nomor ponsel, dan nomor kantor. Ilham mencoba menghubungi Bill di rumahnya. Pada deringan kedua, telepon diangkat Bill. Ternyata, Bill pun tak tahu bahwa Nina di luar negeri. Ilham berusaha menghubungi sahabat-sahabat Nina. Mereka pun tak tahu keberadaan Nina.

Ilham benar-benar menemui jalan buntu. Di satu sisi dia ingin membiarkan Nina. Namun, di sisi lain, dia penasaran pada penyebab perilaku Nina yang dramatis ini. Dia menghujani e-mail Nina dengan berbagai pertanyaan. Tapi, tak satu pun suratnya mendapat balasan. Seolah e-mail itu tak pernah dibuka Nina dan langsung dihapus. Memang itulah kenyataannya.

Nina menerima e-mail dari Ilham, tapi langsung dihapus. Dia tak menggubris pertanyaan Bill, yang mengabarkan bahwa Ilham datang dan menanyakan keberadaannya. Dia hanya membalas e-mail sahabat-sahabatnya, mengatakan bahwa dia sedang ada liput­an di luar kota dan tak tahu kapan akan kembali.

Bulan berganti bulan, Ilham tetap belum menemukan jejak Nina. Walau pencarian Nina tetap jadi prioritas, karena kesibukannya di pabrik, Ilham tak bisa berbuat banyak.



                                                                                   cerita selanjutnya >>


Penulis: Indah Kunarso


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?