Ilham pun terus menghujani Nina dengan perhatian, mengingatkan agar tak telat. Dia juga menanyakan kegiatan Nina. Bukan untuk mengawasi, tapi untuk mengetahui problem yang dihadapinya. Dia akan memberi saran dan support yang tulus pada Nina.
Tak urung perhatian yang terus-menerus ini membuat pertahanan Nina jebol. Sedikit demi sedikit ia mulai menikmati perhatian Ilham. Bahkan, sehari saja dia tak menerima SMS atau telepon dari Ilham, Nina akan menanti-nanti. Ilham juga selalu memberitahunya jika dia ada rapat hari itu. Dia juga selalu minta dukungan dan doa Nina. Ini membuat Nina merasa bahwa Ilham tak hanya mendukung dan mendoakannya, tapi juga membutuhkan dukungannya. Hal ini menghangatkan dirinya. Tanpa disadari, mereka jadi makin dekat. Terlebih ketika menyadari bahwa di antara mereka banyak kesamaan.
Suatu sore di akhir pekan, Ilham meluncur ke rumah Nina. Dia tidak ada. Dari pembantu rumahnya, dia mendapat kabar bahwa Nina sejak siang ada di sawah. Setelah diberi tahu letak sawahnya, dia segera mencarinya di sana. Benar saja, Nina sedang duduk dengan kaki berjuntai di gubuk kecil di tepi sawah. Di bagian bawah gubuk tersebut dibuat kolam ikan mas. Nina sedang asyik memberi makan ikan-ikan mas tersebut, sementara kamera dan seikat besar kacang panjang tergeletak di sampingnya. Melihat keadaan kakinya yang penuh lumpur, ada kemungkinan dia habis masuk ke tengah sawah.
“Hai... dari mana kamu tahu aku ada sini?” seru Nina.
Ilham tersenyum melihat wajah Nina agak terbakar matahari. “Kau pasti sudah lama sekali di sawah, ya? Lihat mukamu sampai kemerahan begitu.”
“Tadi saking senangnya lihat kacang panjang yang bagus-bagus, aku langsung memetiknya sampai ke pinggiran sawah di sebelah sana. Lihat, ini hasil panenku. Besok kita bisa masak urap kacang panjang, nih. Aku ingin melihat matahari tenggelam. Lihatlah, begitu damainya di sini. Bagus sekali, ya? Lihat di sana itu, burung-burung sudah beterbangan pulang. Coba, apa pemandangan seperti ini bisa dicari di Jakarta? Aku kadang-kadang kangen lihat hamparan sawah, lihat gemercik air, lihat ikan-ikan, lihat Gunung Ciremai di ujung sana itu. Ah, betapa damainya.”
“Kenapa kau tak pindah ke sini saja? Pekerjaanmu kan bisa kamu garap di mana saja, asalkan ada kabel telepon untuk internetmu, bukan?”
“Tidak bisa. Aku ini pembosan. Aku tak bisa hidup di sini lebih dari seminggu. Terlalu tenang. Kurang bervariasi. Aku terkadang butuh ritme cepat. Tapi, aku juga tak bisa lama-lama di Jakarta. Sewaktu-waktu aku harus berganti suasana untuk keseimbangan jiwa,” kata Nina, sambil merebahkan tubuh, tidur telentang di tengah gubuk dengan kaki dinaikkan ke salah satu tiang.
“Aduh, Nina, jangan begitu. Ini bukan di rumah. Nanti dilihat orang,” seru Ilham, khawatir.
“Biarin saja. Aku, toh, tak merugikan mereka,” jawab Nina, tak senang melihat Ilham suka mengatur. “Aku paling tak senang, deh, kalau kamu berperan sok mengatur begitu. Sudah, lebih baik kau pulang saja,” sahut Nina, ketus.
“Aku menasihati kau, toh, demi kebaikanmu, bukan demi diriku. Sudah tugasku untuk mengarahkan jika kamu salah arah,” ujar Ilham.
“Dengar, ya, aku belum jadi istrimu. Jadi, jangan sok pahlawan dengan menjadikan aku sebagai tanggung jawabmu. Ini hidupku, aku akan jalani sesuai yang aku suka. Kau tak berhak mencampurinya. Titik!” ujar Nina, ketus.
“Terserah. Baru kutahu bahwa kau tak sekadar keras kepala, tapi bebal juga,” desis Ilham, sambil beranjak meninggalkan Nina. Untuk pertama kali nada bicara Ilham terdengar keras.
Ilham benar-benar marah. Apa katanya tadi, dia tak bakalan mau jadi istriku? Lihat saja nanti, Nona. Kamu belum tahu, kamu berhadapan dengan siapa, batinnya dengan sebal.
Beberapa hari kemudian, kemarahan Ilham mereda. Dia merasa kangen pada Nina. Ah, wanita itu memang punya sifat yang terkadang membuatnya kangen. Kadang-kadang bersifat tegas dan sigap, kadang-kadang lunak dan lembut, tapi kadang-kadang keras kepalanya muncul. Bersama Nina, ia seperti menaiki komidi putar, ada kalanya naik, ada kalanya turun. Tapi, justru itu yang membuat sosok wanita itu tak bisa lenyap dari pikirannya.
Seperti biasanya, ketika hari Sabtu tak ada pekerjaan mendesak, Ilham mengarahkan mobilnya ke Jakarta. Ternyata, Nina tak ada. Kata pembantunya, Nina pergi ke Australia.
“Berangkat 3 hari yang lalu, Mas. Katanya, kalau ada apa-apa, telepon saja ke rumah Mas Bill di Sydney. Bibi ditinggali nomor teleponnya. Katanya, dia akan ke beberapa kota di Australia, tapi nanti akan mampir ke tempat Mas Bill. Jadi, kalau ada apa-apa, titip pesan saja ke Mas Bill. Mau nomor teleponnya?”
“Boleh. Sudah berapa lama Nina kenal dia?”
“Kira-kira lima tahun lalu, sejak Bibi kerja di sini.”
“Ya, sudah, Bi. Terima kasih.”
Ilham kesal karena Nina pergi ke Australia tanpa pamit. Benar-benar urakan, batinnya. Apa jadinya kalau sudah berumah tangga nanti? Apa dia juga tetap akan bersikap seenaknya dan tak bisa dikendalikan?
Ilham kemudian ditelepon oleh Bi Ijah yang memberi tahu tanggal kepulangan Nina. Namun, baru beberapa hari kemudian dia pergi mengunjungi Nina. Ternyata, Nina tidak sendirian. Bersamanya ada seorang asing yang disebut Bi Ijah sebagai Bill.
“Hai, minggu lalu ke sini, ya. Maaf, ya, aku sedang pergi. Kenalkan, ini temanku, Bill. Bill, ini Mas Ilham, calon suami yang diatur ibuku itu,” ujar Nina pada keduanya. Ilham agak mengernyitkan kening ketika tahu bahwa Nina sudah menceritakan tentang dirinya.
Rupanya, Nina tak hanya memercayakan cerita pribadinya kepada orang tersebut, keakraban di antara Bill dan Nina pun terasa sangat spesial. Sangat berbeda dari keakraban yang diperlihatkan Nina dengan teman-teman kantornya dulu. Keakraban antara Nina dan Bill sangat alami dan tak dibuat-buat, seakan sudah terbiasa melakukannya. Seperti kali ini, mereka memutuskan makan malam di sebuah restoran steik. Bill dan Ilham memesan steik, sementara Nina memilih menjilati es krim yang digemarinya.
“Benar, kau tak mau makan? Ini enak. Cobalah ini,” kata Bill, menyodorkan seiris steik. Nina pun dengan wajar menerimanya.
“Ini. Coba ditambah jamur,” Bill pun menyuapi Nina kembali.
Bill lalu mengambil lap yang ada di pangkuannya dan mengelap setitik saus di bawah bibir Nina dengan lembut.
Wah, hebat. Sekarang mereka mengumbar kemesraan di depanku, batin Ilham. Dadanya hampir hangus terbakar. Namun demikian, tak ada satu komentar atau reaksi emosi apa pun yang diperlihatkannya.
Sesampainya di rumah, kemesraan itu tetap berlanjut. Mereka mengobrol dengan duduk di lantai di ruang tengah, dilanjutkan menyanyi bersama mengikuti iringan karaoke. Sesekali Bill merangkul bahu Nina atau mengacak-acak rambutnya dengan sayang. Wajah Nina pun terlihat sangat ceria. Dia bisa meledek Bill dan dirinya dengan bebas. Kalau sudah demikian, matanya berkilat-kilat jenaka. Tawanya juga sangat lepas. Hal ini makin memperkuat dugaan Ilham bahwa ada hubungan khusus di antara keduanya. Namun demikian, sikap mereka berdua terhadapnya tetap ramah dan tak tercela.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Indah Kunarso