Fiction
Lelaki Pilihan [5]

19 May 2012

<< cerita sebelumnya

Senja hari kala matahari sudah mulai tenggelam di peraduannya, Ilham sudah kembali terjaga dari istirahat siang. Saat dilihatnya lampu ruangan dalam dan teras luar masih gelap, dia tahu Nina masih terlelap. “Kasihan anak itu, pasti kecapekan sekali setelah semalaman tidak tidur.

Setelah mandi, dia pergi sebentar untuk membeli masakan untuk makan malam mereka. Dia tahu, Nina tak bakal sempat memasak. Benar saja, sampai dia pulang, kamar Nina masih terlihat gelap dari luar. Berarti, Nina masih nyenyak tidur. Ketika ditunggunya beberapa jam kemudian, belum ada tanda-tanda Nina terbangun, diketuknya pintu kamar Nina.

“Nin, bangunlah. Makan dulu, nanti kamu teruskan lagi tidurmu,” ujarnya. Didengarnya suara erangan Nina, lalu diam kembali. Dia mencoba membuka pintu kamar Nina. Tak terkunci. Dengan ragu dibukanya pintu tersebut. Kamar Nina gelap, tapi dari sorotan sinar yang datang dari ruang tengah terlihat bahwa Nina meringkuk kedinginan. Selimut dan bantalnya bertebaran di bawah tempat tidur, pertanda ia tidur dengan gelisah. Dengan heran Ilham menghampiri Nina, bermaksud membangunkan. Namun, saat tubuh Nina disentuhnya, dia kaget.

“Nina? Kau sakit? Tubuhmu panas sekali!” serunya.

“Hmm?” erang Nina, matanya tetap terpejam.

Tanpa termometer pun Ilham menduga, panas badan Nina sudah di atas 40 derajat Celsius. Anak ini harus segera dibawa ke dokter, batinnya.

“Nin, kita ke dokter, ya?” ujarnya, sambil membantu Nina bangun.

Nina yang mulai pulih kesadarannya mencoba mengelak. “Mau ke mana? Aku mau tidur. Tolong ambilkan selimutku, dingin.”

“Tapi, panasmu tinggi sekali. Kamu harus ke dokter. Sudahlah, ayo, kubantu kau bangun,” ujar Ilham.

“Aku hanya butuh istirahat. Tolong, selimutku,” ujar Nina.

Ilham menjangkau selimut Nina yang tergeletak di bawah tempat tidur. Segera diselimutinya tubuh Nina. Namun, Nina mengerang dan mengeluh masih kedinginan. Segera dibukanya lemari pakaian Nina, mencari selimut tambahan dan kaus kaki. Setelah didapatkannya, dipakaikannya kaus kaki ke kaki Nina, lalu menambahkan selimut di atas tubuh Nina.

“Kau peluk kompres air hangat, ya?” ujar Ilham, lalu mengambil botol bekas sirop dan diisinya dengan air panas. Lalu, dicarinya aspirin di lemari obat. “Peluk botol ini biar hangat, Nin! Coba minum obat ini,” ujarnya.

Nina menerima botol dan obat tersebut beserta gelas minumnya, menyerahkan kembali gelas pada Ilham, lalu membaringkan badan sambil memeluk botol yang diberikan Ilham. Sebentar kemudian dia tertidur kembali. Melihat Nina tidur, Ilham keluar dari kamarnya. Namun, beberapa kali dia menengok Nina yang tidur gelisah karena demam. Keningnya basah oleh keringat. Ilham menyeka keringat di kening Nina, serta membetulkan selimutnya.

Ilham mengelus-elus dahi Nina, seperti yang biasa dilakukan pada anaknya, kalau anaknya sakit atau rewel tak bisa tidur. Setelah dirasakan tidur Nina nyenyak, dia menghentikan elusannya. Dia lega karena Nina bisa tidur nyenyak. Dipandanginya wajah Nina yang sedang tidur. Polos seperti bayi. Masih terbayang segala tingkah polah Nina yang seenaknya sepanjang hari kemarin. Dia menghela napas, tak mengerti dengan sikap Nina. Sebenarnya, seperti apa karakter Nina? Dia tak percaya pada sifat keras kepala yang ditunjukkan Nina selama ini. Karena, sesekali ia menangkap kelembutan di wajah gadis ini, terutama bila bukan dia yang menjadi objek pandangnya.
Dia sadar benar, gadis ini banyak akalnya. Dia masih ingat de­ngan siasat gadis ini, yang hanya menceritakan yang buruk-buruk saja perihal dirinya. Dia tahu benar maksud sebenarnya, agar dirinya merasa ngeri dan mundur.

Menjelang pagi panas tubuh Nina agak berkurang dan Nina dapat tidur nyenyak dalam waktu lama. Ilham bernapas lega. Namun demikian, dia memutuskan untuk tidak pulang pagi itu. Dia masih khawatir akan kondisi Nina. Setelah melakukan beberapa telepon pemberitahuan dan menginstruksikan beberapa hal pada karyawannya, dia membuat sup krim ayam kental.

Saat dia mengantar sup ke kamar, dilihatnya Nina sudah bangun, tapi masih tergolek lemah.

Nina menatap Ilham dengan heran. “Jam berapa ini?”

“Sembilan. Aku buatkan sup krim ayam. Makan dulu, ya.”

“Kau tak pulang? Katamu, kau mau pulang hari ini?” tanya Nina.

“Tidak. Aku akan di sini sampai kamu sehat,” jawab Ilham.

“Aku jangan kau jadikan beban.”

“Kau bukan bebanku. Sekarang, makanlah sup ini, mumpung hangat,” ujarnya, sambil mencoba menyuapi Nina. Namun, Nina menggeleng.

“Nanti aku makan. Aku mau ke kamar mandi dulu.”
Advertisement

Ilham membantu Nina bangun dari tempat tidur, tapi Nina melarangnya. “Biarkan aku lakukan sendiri,” ujarnya, sambil bangun dari tempat tidur. Karena badannya lemah, hampir saja dia jatuh. Selain itu, rasa pening yang hebat juga menghantamnya. Melihat kening Nina mengernyit kesakitan, Ilham pun membopong tubuh Nina ke arah kamar mandi.

Nina kaget. Namun, belum sempat memprotes, dia sudah diturunkan di dalam kamar mandi.

“Nah, sekarang lakukan apa yang mau kau lakukan. Setelah selesai, panggil aku,” ujar Ilham tegas, sambil menutup pintu kamar mandi. Ketika dilihatnya pintu kamar mandi terbuka dan Nina hendak keluar, disodorkannya sepasang baju ganti. “Ganti bajumu yang basah!” ujarnya, tegas.

Nina hanya menurut dan kembali masuk ke kamar mandi. Ketika dia sudah selesai dan melihat Ilham hendak membopongnya, dia menggeleng. “Biarkan aku berjalan,” pintanya, pelan. Ilham pun menurut dan menuntunnya ke tempat tidur kembali. Sesudah itu diselimutinya Nina dengan rapat.

“Nah, sekarang makanlah supmu,” ujar Ilham, membujuk.

“Biar aku sendiri saja,” ujar Nina.

Tapi, baru dua suapan, dia menyerah. “Aku tak kuat lagi, mual.”

“Minum teh hangat ini, biar mualmu berkurang.”

Nina menurut.

“Jam berapa dokter langgananmu ada?” tanya Ilham kemudian.

“Aku tak mau ke dokter. Sudah sering ini terjadi. Biasanya, dengan istirahat dan tidur, pasti akan sembuh.”

“Kalau sudah sering terjadi, kenapa tidak kau cegah sebelumnya? Jangan-jangan, kemarin kau sudah tidak sehat. Tapi, kau tetap menerima pekerjaan yang mengharuskan kau begadang semalaman,” omel Ilham.

“Mereka kan klienku. Kalau klienku lari ke orang lain, aku nanti dapat uang dari mana?”

“Kau harus bisa mengatur dirimu sendiri. Mereka memang klien, tapi kau juga harus tahu batas. Kalau sakit atau kelebihan order, kau harus berani melimpahkannya pada orang lain. Kau tinggal mengawasinya agar sesuai standar. Jadi, tak semuanya harus kau tangani sendiri. Akibatnya kan fatal.”

“Aku juga tahu batasku. Aku juga tak serakah untuk mengambil semua order,” jawab Nina, kesal.

“Lalu, kenapa kau kemarin rela tidak tidur untuk mengerjakan order yang datangnya mendadak tersebut? Padahal, kau tahu dirimu sudah tak sehat.”

“Aku butuh kesibukan, agar lupa akan perjodohan ini! Puas?” sentak Nina.

Ilham terkesiap. Sesaat dia tak bisa menjawab. Dia tak menyangka, Nina yang kelihatan tegar sebenarnya sangat rapuh. Tak urung hatinya jadi kasihan.

“Kau tahu, aku tak ingin menikah. Tapi, kau tetap memaksakan perjodohan ini. Kalau kau ingin menikah, kenapa mesti melibatkan aku?” teriak Nina, ada nada isakan di dalamnya. “Seandainya keluargamu tidak punya prakarsa melamarku, orang tuaku tak bakal mendesakku menikah. Mereka sudah menerima kondisiku. Mereka tak lagi mendesakku untuk menikah. Tapi, gara-gara keluargamu menyodorkan tawaran ini, mereka mulai lagi mendesakku untuk menikah. Kalau kau ingin menikah, kenapa kau tidak memilih orang lain saja untuk kau jadikan istri? Kenapa kau dan keluargamu mesti memilih aku dan melibatkanku?” keluh Nina lagi.

“Tapi, kenapa? Kenapa kau tak ingin menikah?”

“Itu urusanku!”

Ilham kembali terdiam. Dia masih tak mengerti, kenapa Nina tak ingin menikah. Ada apa dengan gadis ini? Apakah gadis ini dingin? Sepertinya, tidak. Dia juga merasakan bahwa gadis ini tertarik padanya. Tapi, Nina sepertinya menahan diri dan tidak mau membiarkan perasaannya berkembang. Kenapa? Karena harga diri? Karena sebelumnya dia menyatakan tak bersedia menikah? Kalau sekadar harga diri, tak mungkin gadis ini sampai memikirkannya begitu dalam, hingga akhirnya sakit. Pasti ada hal lain yang melatarbelakanginya. Teka-teki ini terus menghantui pikirannya.


                                                                               cerita selanjutnya >>


Penulis: Indah Kunarso



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?