Presentasi cantik layaknya lukisan di atas piring adalah hal yang wajib. Namun, rasa yang pas di lidah juga dijadikan senjata pamungkas. “Bebaslah berkreasi dengan bahan lokal, namun soal cita rasanya harus tetap sesuai dengan selera klien,” ujar Kaka. Ini dilakukannya sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan bahan makanan lndonesia kepada kliennya yang sebagian besar orang asing. Tak jarang Kaka menggunakan sukun sebagai pengganti kentang tumbuknya. “Nggak nyangka, mereka suka,” tambahnya.
“Bukan menampilkan resep asli Indonesia seperti semur, tapi menggunakan bahan makanan Indonesia dalam kemasan yang lebih modern,” tutur Ray. Pemilihan bahan tidak hanya sebatas sayuran atau bumbu yang sehari-hari dapat ditemui di pasar, tapi bahan yang menjadi ciri khas suatu daerah di wilayah Nusantara. Pencarian bahan makanan ini membuat Ray harus pergi ke berbagai tempat di Indonesia. Cara mengolahnya tentu saja menggunakan teknik masak Prancis yang dikuasai Ray dipadukan dengan gaya nature based cuisine yang baru-baru ini dipelajarinya di Australia.
Di balik niat luhur untuk memajukan seni kuliner Indonesia dengan mengangkat pamor bahan lokal, para private chef ini juga ingin mendorong para petani yang menjadi pemasok bahan segar untuk meningkatkan kualitas produksinya. Tak hanya daging, sayuran, dan buah yang menggunakan bibit impor, tapi juga komoditas asli Indonesia yang harus dijaga kualitasnya, agar tak kalah bersaing dengan bahan pangan impor.