Saya dan kekasih sudah sangat siap dan serius melanjutkan ke jenjang pernikahan. Meski bahagia, ayah saya belum sepenuhnya merestui karena ayah kekasih berpoligami. Kekasih adalah anak dari istri ketiga ayahnya. Inilah yang memberatkan. Ayah saya tidak mau saya mengalami nasib serupa. Saya adalah anak perempuan satu-satunya dari 4 bersaudara. Saya menghargai cinta ayah saya, tapi saya yakin suami tidak akan menjadi seperti ayahnya. Apa yang harus saya dan kekasih lakukan untuk meyakinkan ayah saya?
Fitriana – Bandung
Menurut psikolog Irma Makarim, semua orang tua akan merasa bahagia melihat anaknya mendapat pasangan serasi dan siap menikah. Tetapi, kebahagiaan ayah Anda rupanya juga dibayangi kerisauan, melihat latar belakang calon besan menganut poligami. Tanpa berniat menghakimi keluarga kekasih Anda, beliau memang tak bisa membohongi bahwa hatinya cemas jika di kemudian hari menantu berbuat hal sama kepada anak perempuan tercinta satu-satunya. Ketakutan inilah yang membuat ayah Anda merasa berat memberi restu.
Kecemasan ini mungkin bisa dikurangi bila beliau dan kekasih diberi kesempatan untuk bisa membina hubungan yang lebih dekat, sehingga ayah Anda bisa memberi nasihat kepada calon menantunya. Mungkin ini bisa mencairkan kecemasan ayah Anda sehingga dengan hati lega memberikan restunya.
Sedangkan menurut psikolog Monty Satiadarma, waktu tidak bisa diputar ulang; sejarah tidak bisa dihapus, semua harus diterima sebagai kenyataan yang ada. Tidak ada bukti akurat perilaku orang tua diturunkan sepenuhnya kepada anak. Ayah berpoligami tidak memastikan anak akan melakukan tindakan sama. Orang tua miskin tak harus menjadikan anak menjadi miskin. Banyak orang berhasil lahir dan dibesarkan di kalangan keluarga dengan penuh keterbatasan. Sebaliknya, ada juga keluarga berkecukupan, namun anak-anaknya mengalami kegagalan dalam hidup. Dalam kajian ilmiah juga tidak ditemukan bahwa poligami diturunkan.
Kesiapan Anda berdua memiliki komitmen hidup bersama adalah kunci segalanya. Andalah yang telah mengenal satu sama lain dengan lebih baik, Andalah yang harus mempertimbangkan kesepakatan bersama Anda sendiri. Hanya dengan ketulusan hati bersama, maka Anda berdua akan dapat mengatasi berbagai rintangan. Tekad untuk senantiasa bersama merupakan landasan kelanggengan kehidupan Anda berdua.(f)