Fiction
Laron Jakarta [6]

6 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Tak perlu lama dan berpikir panjang, kuanggukkan kepala.

Karen tiba saat aku dan Siska masih sibuk di dapur. Kukenalkan mereka berdua, aku tersenyum melihat mereka yang terlihat saling menilai. Suatu tontonan yang menarik, dua wanita cantik saling mencari kelebihan dirinya masing-masing. Tapi, sepertinya aku termasuk di dalamnya, rasanya aku diperhatikan juga. Apa maksudnya?
Pukul 8, masakan telah selesai. Jay belum tiba juga.

“Ayo, makan, apa lagi yang kita tunggu?” tanya Karen.

Terpaksa aku menyilakan mereka makan. Ke mana Jay? Apakah dia tahu rencanaku? Siapa yang membocorkan, Karen atau Siska? Keduanya memiliki peluang yang sama. Siska tentunya menceritakan rencananya pada Jay. Karen pasti melaporkan pada Jay bahwa malam ini dia akan ke rumahku. Secara psikologis, seorang pencemburu tidak mau dicemburui, ‘kan? Jadi, jika ia mewajibkan suaminya melaporkan kegiatannya, secara langsung ia juga akan melaporkan kegiatannya pada suaminya.

Basa-basi malam ini benar-benar basi. Mereka berdua sibuk berbincang tentang nasi goreng yang enak. Aku hanya memerhatikan mereka berbincang dan kudapati bahwa Karen menyukai Siska. Bahaya jika Karen sampai menganggap Siska sebagai kawan. Artinya, posisi Siska akan seaman aku. Tapi, tunggu dulu, bukankah mereka tidak saling tahu. Kenapa tidak kuberi tahu? Hmm, biarkan saja Siska dijambak Karen. Aku aman karena Karen dan Siska sama-sama tidak tahu posisiku. Menarik juga.

“Dari tadi sibuk bicara tentang nasi goreng, kenapa tidak bicarakan pria?” pancingku.

“Nad, kamu cari kekasih dan menikah, dong. Mau sampai kapan kamu begini?” balas Karen, yang disambut tawa Siska.

“Siapa yang mau padaku?”

“Mbak Nadia terlalu merendah, secantik ini masih menanyakan siapa yang mau. Mengejek kita, ya, Mbak Karen?”

“Karen sudah menikah, Sis.”

“Maaf, masih terlihat begitu muda, sih.”

“Sudahlah, ngapain ngomongin suami. Ayolah, kita jangan ikuti pikiran para pria. Pria itu, kalau bertemu dengan sejenisnya, pasti menceritakan wanita. Masa kita juga begitu? Kita obrolkan dunia wanita sajalah.”

Tidak berhasil pancinganku. Kami terlibat lagi pada perbincangan yang tak jelas, dari busana pembaca berita sampai bunga pilihan istri pejabat. Apakah harus kukatakan pada Siska bahwa Karen adalah istri Jay? Lalu, kukatakan pada Karen bahwa Siska adalah kekasih Jay. Menjijikkan. Tukang adu domba. Tapi, peduli apa? Yang penting aku untung, ‘kan? Biar tahu rasa Siska. Aku ingin melihat ia melempem bak kerupuk yang kena air.

“Wah, menyenangkan sekali malam ini. Sayang, aku harus cepat kembali. Maklumlah, aku kan istri yang baik.”

Apa?! Karen permisi pulang?

“Bareng saja bagaimana, Mbak? Kalau tidak merepotkan,” ucap Siska.

“Boleh.”

Mereka pulang meninggalkan aku yang terluka. Ya, terluka karena masalah yang kumiliki belum terselesaikan juga.

Jay menelepon. Katanya, tidak bisa datang karena Karen keluar. Jadi, dia takut ketahuan sedang berada di rumahku.

“Nggak, Karen tidak cerita ke mana. Karena itulah, aku jadi waspada.”

Oh, begitu. Baguslah. Kututup telepon tanpa ada janjian untuk bertemu. Aku sedang malas. Aku malas pada hidup ini. Apakah aku pulang saja ke Medan. Tabunganku sudah banyak. Aku bisa kerja apa saja di sana kalau hanya untuk membunuh waktu. Tapi, kalau kembali ke Medan, berarti aku kalah. Bagaimana tanggapan kawan-kawan di sana, kawan-kawan yang telah menganggap aku hebat. Ya, siapa yang tidak hebat jika bisa berhasil di Jakarta ini.

Paginya aku terlambat ke kantor. Entahlah, aku merasa sangat malas. Malas memandang hidup dan tentunya malas memandang Siska.

Baru pertama kali terlambat, langsung dipanggil manajer.

“Nadia, ada masalah yang harus kita bincangkan.”

Aku duduk berhadapan dengannya. Ia berdiri dan menutup pintu. “Ini penting, tentang masa depan kita di perusahaan ini. Rahasia.”
Advertisement

“Baiklah, apa yang perlu saya ketahui?”

“Tentang Pak Jay....”

Apa? Apakah dia tahu tentang hubunganku dengan Jay? Tapi, dari mana dia tahu? Lalu, dia akan mengambil kesempatan. Dia mau aku menyetorkan tubuhku padanya. Tidak akan.

“Saya tahu hubungan kamu dengan Pak Jay dan saya tahu kemampuanmu. Karena itu, sangat disayangkan kalau kamu terus berada dalam kekuasaannya. Apa yang akan saya katakan mungkin akan membuat kamu marah dan itu bisa mengubah hubungan kita....”

Sudah, katakan kalau kau memang gatal.

“Saya ingin kamu bijaksana. Begini, Nad, kamu tahu siapa Siska? Dia itu masuk melalui rekomendasi Jay. Tanpa tahu keadaannya saja kamu sudah tidak setuju dia masuk, ‘kan? Nah, saat tahu, tentunya kamu makin tidak setuju dengan keberadaan Siska di sini.”

“Maksudnya?” tanyaku tak sabar. Kenapa terlalu berbelit-belit? Apakah akan ada kejutan yang menyenangkan?

“Ada dua kemungkinan yang bisa kita ambil dari keadaan ini. Satu, kamu sangat marah pada Siska hingga berusaha membuat dia terlempar. Kedua, kamu menjadi benci pada Jay. Saya lebih menyukai kemungkinan kedua. Nah, siapa Jay hingga kita mempertahankannya mendapatkan posisi dan keuntungan dari kerja keras kita? Mungkin, bagi kamu penting. Tapi, pikirkanlah secara bijak. Dia punya istri dan kekasih lain. Ayolah, saya tahu Siska itu juga kekasihnya. Saya mengenal Jay sudah sangat lama, Nad.”

“Maksud Pak Don sebenarnya apa?”

“Coba pikirkan, kenapa dia masukkan kamu dan Siska ke kantor ini? Mengapa dia menjadikan saya manajer?”

“Karena dia butuh orang kepercayaan?”

“Dengan kata lain, ia ciptakan kita untuk mendukung kemapanannya. Lalu, kita bisa menyingkirkan Siska dan Jay sekaligus. Syaratnya, kita bergabung, bersatu. Apa gunanya seorang konsultan, jika kita sendiri mampu menyelesaikan sendiri? Terus terang saya capek dan merasa terhina, jika terus begini. Nama kita tidak tercatat di kepala direktur. Kamu tahu kan, semua ini gara-gara Jay!”
Menarik. Aku bisa lepas dari Jay dan aku membinasakan Siska.

“Sudahlah, saya buka-bukaan sekarang. Langkah yang akan kita ambil ini sudah saya lakukan sekian waktu. Mungkin, kamu bisa lihat, proyek cenderung saya berikan pada orang yang dekat pada saya, ‘kan. Kamu tetap saya berikan proyek agar Jay tidak curiga, begitu juga Siska. Saya gabungkan kamu dengan Siska pun karena itu. Dengan kata lain, sesungguhnya saya tidak percaya pada Siska. Saya lebih percaya pada kamu. Masalahnya, apa kamu siap menyingkirkan Jay dari kantor ini dan dari hidup kamu? Jika siap, kita laksanakan mulai hari ini. Saya punya kartu as.”

Aku mengangguk. Terserah Jay. Siapa suruh membuatku marah.

“Siska sudah menganggap kamu temannya, ‘kan?”

Aku tertawa. “Pak Don yang mengatur semua ini?”

“Jelas. Dia bercerita padamu tentang rekomendasi itu?”

Aku mengangguk. Pintar juga dia.

“Kamu siap bersaksi di depan direktur?”

“Apa?”

“Itu kartu as kita. Pengakuan saya tidak akan kuat. Jika ditambah dengan kesaksian kamu, direktur akan yakin. Kamu tahu kan bahwa direktur sangat membenci nepotisme di perusahaannya. Dia juga sangat anti pada pria yang gila wanita. Kalau saja tidak kubela Jay di depan direktur, tentunya dia tidak akan menjadi konsultan. Kamu tahu kan, Karen melaporkan perselingkuhan Jay pada direktur. Itu yang membuat Jay keluar dari kantor ini.

“Tapi, kenapa dia masih punya kuasa di kantor ini?”


Penulis: Muram Batu





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?